Menuju konten utama

Resesi di Depan Mata, Indonesia Bisa Keluar?

Bank Dunia memprediksi Indonesia akan berada di tingkat 5,1 persen untuk 2022 atau hanya turun 0,1 persen dari proyeksi sebelumnya.

Resesi di Depan Mata, Indonesia Bisa Keluar?
Ilustrasi Bank Dunia. foto/istockphoto

tirto.id - Bank Dunia memperkirakan bakal terjadi resesi ekonomi pada tahun ini. Kondisi ini tidak terlepas dari dampak pandemi COVID-19 dan invasi Rusia ke Ukraina yang memicu perlambatan ekonomi secara global. Presiden Bank Dunia, David Malpass mengatakan, akibat pandemi dan perang, tingkat pendapatan per kapita di negara berkembang tahun ini akan hampir 5 persen di bawah tren sebelum pandemi.

"Perang di Ukraina, penguncian di China, gangguan rantai pasokan, dan risiko stagflasi memukul pertumbuhan. Bagi banyak negara, resesi akan sulit dihindari," kata David dalam Global Economic Prospect June 2022 (GEP), ditulis Kamis (9/6/2022).

David menuturkan pandemi COVID-19 dan invasi akan memperbesar perlambatan ekonomi global. Hal ini akan menjadi periode pertumbuhan lemah dan inflasi yang berlarut-larut. Pada akhirnya kondisi tersebut meningkatkan risiko stagflasi, dengan konsekuensi yang berpotensi membahayakan bagi ekonomi berpenghasilan menengah dan rendah.

Dengan berbagai risiko terjadi, Bank Dunia perkirakan ekonomi global akan melambat signifikan dari 5,7 persen di 2021 menjadi hanya 2,9 persen di 2022. Ini akibat eskalasi berbagai risiko. Proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2022 tersebut turun signifikan sebanyak 1,2 poin dari proyeksi sebelumnya di bulan Januari.

Penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi oleh Bank Dunia terjadi secara luas di berbagai negara, baik kelompok negara maju maupun berkembang. Proyeksi pertumbuhan ekonomi 022 untuk Zona Eropa sebagai episentrum konflik geopolitik mengalami revisi ke bawah sebanyak 1,7 persen, dari 4,2 persen menjadi 2,5 persen.

Pertumbuhan Rusia diproyeksi akan mengalami kontraksi 8,9 persen atau turun sangat dalam 11,3 persen dari prediksi sebelumnya. Sementara dua perekonomian terbesar dunia, yakni Amerika Serikat (AS) dan China, juga turut mengalami penurunan proyeksi pertumbuhan di tahun ini, masing-masing 1,2 persen dan 0,8 persen.

Di kelompok negara berkembang, India, Meksiko, dan Thailand juga mengalami penurunan proyeksi yang cukup signifikan yakni 1,2 persen 1,3 persen, dan 1,0 persen.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi salah satu yang paling resilien. Di mana Bank Dunia memprediksi akan berada di tingkat 5,1 persen untuk 2022 atau hanya turun 0,1 persen dari proyeksi sebelumnya. Proyeksi ini masih berada dalam kisaran outlook pemerintah yakni 4,8 persen – 5,5 persen.

Dalam laporan GEP June 2022 tersebut, Bank Dunia menjelaskan perekonomian Indonesia akan mendapat dorongan dari kenaikan harga komoditas. Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu optimistis perekonomian Indonesia akan terus menunjukkan resiliensi di tengah gejolak global yang terjadi. Bahkan Indonesia menjadi salah satu dari sedikit negara yang dapat mengembalikan output ke level prapandemi sejak tahun 2021.

"Kinerja ekonomi domestik di tahun ini juga terus menguat antara lain didukung situasi pandemi yang terus terkendali," jelas Febrio.

Febrio mengatakan situasi pandemi yang kondusif menjadi salah satu prasyarat penting. Hal itu agar aktivitas ekonomi terjaga terhadap masyarakat dalam melakukan aktivitas ekonomi sosial, salah satu cara yang akan terus ditempuh adalah mendorong vaksinasi. Dia merinci saat ini sudah mencapai 74,2 persen populasi untuk dosis pertama dan 62,1 persen untuk dosis lengkap.

Di sisi lain, APBN juga akan terus diarahkan untuk menjadi instrumen penting merespon dinamika ekonomi yang terjadi, termasuk menjadi peredam syok (shock absorber). Di tengah peningkatan risiko global, APBN akan terus diarahkan untuk memastikan terlindunginya daya beli masyarakat khususnya kelompok yang rentan serta terjaganya pemulihan ekonomi.

"Saat ini, risiko perekonomian global telah bergeser dari krisis pandemi ke potensi krisis energi, pangan, dan keuangan. Pemerintah Indonesia akan terus menjaga agar kinerja ekonomi domestik terus menguat meski di tengah berbagai tantangan global," tutup Febrio.

Baca juga artikel terkait RESESI EKONOMI atau tulisan lainnya dari Dwi Aditya Putra

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Dwi Aditya Putra
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Intan Umbari Prihatin