Rencana Pulau Komodo Ditutup untuk Pelestarian, Perlukah?

Oleh: Aditya Widya Putri - 23 Januari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Tentangan muncul karena kebijakan ini bisa berimbas ke sektor pariwisata.
tirto.id - Sejak 1980-an Pulau Komodo, Padar, dan Rinca ditetapkan sebagai Taman Nasional Komodo (TNK). Pembentukannya bertujuan untuk menyelamatkan komodo dari ancaman kepunahan karena hanya di tempat itulah habitat asli komodo ditemukan. Namun kini, kian lama ekosistem di TNK kian jomplang, membikin keberlangsungan hidup situs warisan dunia UNESCO itu jadi terancam.

Salah satu akar masalah dari perubahan ekosistem adalah penurunan populasi rusa. Rusa sebagai makanan komodo dicuri dan diburu, diambil tanduk dan kulitnya untuk dijadikan aksesoris serta bahan fesyen, sementara dagingnya dikonsumsi.

Walhasil, rantai makanan dalam ekosistem tersebut terganggu, komodo sebagai predator tersier kekurangan buruan. Tahun lalu saja, Mabes Polri menemukan puluhan bangkai rusa menumpuk di atas perahu. Pelaku pembantaian rusa itu diduga berasal dari luar NTT.

“Tubuh komodo sekarang tidak sebesar dulu lagi,” ungkap Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat merespons dampak dari menurunnya populasi rusa sebagai buruan populer komodo.

Rata-rata komodo memiliki berat sekitar 70 kilogram, komodo jantan berukuran lebih besar dibanding komodo betina. Mereka memakan hampir semua jenis daging dengan ukuran bervariasi, mulai tikus kecil hingga kerbau. Komodo muda cenderung memburu kadal, serangga, ular, dan burung. Sementara komodo dewasa mulai dari usia 5 tahun memangsa hewan yang lebih besar seperti monyet, kambing, babi hutan, dan rusa.


Laman National Zoo menyebut komodo dewasa sanggup memangsa hewan dengan ukuran 80 persen berat tubuhnya dalam sekali santap. Hanya saja, karena komodo merupakan hewan kanibal, ketika populasi buruannya berkurang, mereka akan saling mangsa. Komodo besar, memangsa komodo kecil, memotong rantai regenerasi, membikin populasi menurun, dan akhirnya menuju kepunahan.

Sebagai tindakan preventif, akhirnya pemerintah daerah NTT berencana melakukan penataan kembali Taman Nasional Komodo (TNK) dengan satu cara menutup wisata Pulau Komodo selama satu tahun. Meski waktu penutupan belum dirumuskan, kebijakan ini akan diterapkan setelah pemerintah pusat menyetujui kerja sama pengelolaan kawasan wisata TNK.

“Tidak semua kawasan wisata masuk dalam rencana isolasi. Pulau-pulau kecil yang memiliki komodo seperti Rinca dan Padar masih dibuka untuk pariwisata,” ungkap Viktor, sebagaimana dilansir Antara News.


Ditentang


Habitat asli komodo terbatas hanya pada beberapa pulau di Indonesia, dari kelompok Sunda Kecil, termasuk Rintja, Padar dan Flores, dan tentu saja pulau Komodo. Jika awalnya TNK dibentuk sebagai wilayah pelestarian, kiwari daerah ini menjadi satu dari sepuluh tujuan wisata prioritas. Apalagi saat resmi menjadi New 7 Wonder of Nature pada tahun 2012. Alih-alih memperbaiki habitat asli, rencana penutupan Pulau Komodo bisa jadi berefek buruk bagi sektor pariwisata.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memahami risiko ini. Mereka langsung bereaksi memanggil pemerintah daerah NTT, mempertanyakan rencana penutupan sepihak oleh pemerintah daerah. Rencana rembukan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah NTT mengenai penutupan pulau komodo akan dilakukan paling lambat akhir minggu ini.

Bagi Menteri LHK, Siti Nurbaya, otoritas mengenai kawasan konservasi sepenuhnya berada di pusat, sehingga harus ada urun rembuk dari KLHK dan Kementerian Pariwisata untuk menggodog aturan tersebut. Rencana pelestarian komodo dengan menutup habitatnya juga idealnya disertai kajian dan perhitungan cermat.

“Semua ada caranya, kalau pemerintah daerah punya gagasan, kita diskusikan,” kata Siti


Deni Purwandana, dkk meneliti status demografi komodo sejak tahun 2002 hingga 2014 dalam studi berjudul "Demographic status of Komodo dragons populations in Komodo National Park" (2014). Hasil penelitiannya menunjukkan populasi komodo di pulau besar seperti Pulau Komodo dan Pulau Rinca cenderung stabil. Penurunan populasi justru terjadi di pulau-pulau kecil seperti pada Pulau Gili Motang.

Infografik pulau KOmodo
Infografik pulau KOmodo


Kondisi tersebut berkaitan dengan ketersediaan makanan dan perubahan genetika. Premisnya, semakin kecil habitat komodo, maka mereka semakin terisolasi, sehingga peluang perkawinan sedarah juga semakin tinggi. Perkawinan sedarah meningkatkan peluang generasi baru yang abnormal dan kurang sehat. Di samping itu wilayah terisolasi juga memperkecil jenis buruan komodo.

“Kajian kita tidak menunjukkan adanya penurunan ukuran (di Pulau Komodo), variasi ukurannya sama,” kata Deni kepada Tirto.


Artinya, menurut hasil penelitian ini, Pemerintah Daerah NTT idealnya melakukan penataan di pulau-pulau kecil, bukan Pulau Komodo. Deni lebih menyarankan pemerintah memperketat pengawasan di titik selatan Pulau Rinca, serta selatan dan barat Pulau Komodo. Sebab, dari pengalamannya meneliti komodo lebih dari 10 tahun, wilayah tersebut tergolong rentan karena cenderung lengang dan minim pengawasan.

Baginya, jika penurunan populasi rusa jadi persoalan utama, fokus solusinya adalah meningkatkan populasi rusa dan melakukan pengamanan lebih titik-titik perburuan liar. Kebijakan penutupan Pulau Komodo harus didasarkan pada kajian multi-sektoral.

Salah-salah, kebijakan itu malah berimbas pada kehidupan ekonomi masyarakat sekitar yang sebagian besar bergantung pada sektor pariwisata. Data Produk Domestik Bruto Regional (PDRB) menyatakan sektor akomodasi dan makan minum—sektor yang berkorelasi kuat dengan penyediaan ekonomi pariwisata—di NTT menyumbang 0,74 persen PDRB, sementara di kabupaten Manggarai Barat menyumbang 0,73 persen PDRB.

“Saat ini belum terlalu diperlukan tindakan ekstrem tersebut,” pungkas Deni.

Baca juga artikel terkait PARIWISATA atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Aditya Widya Putri
Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani