Rencana Mandatori Solar B30, Apa Plus Minusnya?

Oleh: Dio Dananjaya - 19 Juni 2019
Dibaca Normal 3 menit
Usai biosolar B20, pemerintah tengah melakukan uji coba B30 pada beberapa kendaraan diesel. Apa saja untung rugi penggunaan biosolar tersebut?
tirto.id - Beberapa hari usai cuti bersama libur Idulfitri 1440 H, area di sekitar Kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) langsung penuh sesak. Bukan karena acara halalbihalal, melainkan ada sekitar 11 mobil diesel berukuran cukup besar yang hadir untuk memulai sebuah seremoni.

Dipimpin langsung oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan, mobil-mobil seperti Toyota Fortuner, Nissan Terra, Mitsubishi Pajero Sport, Mitsubishi Fuso Colt Diesel, DFSK SuperCab, hingga truk dari Isuzu dan UD Trucks diisi dengan bahan bakar Solar B30 untuk dipakai tes jalan.

Seperti diketahui, Kementerian ESDM belum lama ini telah memulai uji coba 30 persen campuran minyak nabati atau fatty acid methyl ester (FAME) dengan diesel (B30). Uji coba ini dilakukan sebagai kelanjutan dari mandatori B20 yang sebelumnya telah dinyatakan berhasil oleh pemerintah.

"Road test B30 ini paling penting penerimaan masyarakat. Menurut saya ada dua hal, produsen otomotif perlu memberi masukan bagaimana penerapan B30 bisa jalan di engine yang diproduksi. B30 ini bukan uji jalan saja, melainkan promosi bahwa B30 bisa digunakan masyarakat," kata Jonan seperti yang dilaporkan Tirto.


Tujuan dari tes jalan ini adalah sendiri adalah untuk mengetahui efek penggunaan bahan bakar yang mengandung minyak nabati 30 persen itu pada kontur jalan beragam, serta kondisi iklim yang berbeda.

Kepala Badan Litbang ESDM Dadan Kusdiana menjelaskan bahwa uji coba B30 ini dilakukan pada mobil-mobil yang dibagi dalam dua kategori: Mobil dengan bobot di bawah dan di atas 3,5 ton.

Untuk mobil di bawah 3,5 ton seperti SUV lansiran Toyota, Nissan, dan Mitsubishi, hingga pikap DFSK, akan dipakai dalam perjalanan sejauh 50.000 km. Kendaraan penumpang ini nantinya akan menempuh rute Lembang – Cileunyi – Nagreg – Kuningan – Tol Babakan – Slawi – Guci – Tegal – Tol Cipali – Subang – Lembang sejauh 560 km per hari.

Sementara mobil dengan bobot lebih dari 3,5 ton seperti truk akan menempuh jarak total 40.000 km. Mobil-mobil itu akan melewati rute Lembang – Karawang – Cipali – Subang – Lembang sejauh 350 km per hari.

Campuran Biosolar, Apa Untungnya?


Pemerintah sebelumnya secara bertahap telah meningkatkan kandungan minyak sawit pada biodiesel atau biosolar, dari 10 persen (B10), menjadi 20 persen (B20) sesuai dengan SK Dirjen Migas Nomor 28 Tahun 2016. Langkah ini dipercaya dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM, selain juga untuk diversifikasi energi lewat bahan baku yang cukup banyak di Indonesia, seperti kelapa sawit.


Tirto melaporkan, impor minyak mentah dan hasil minyak pada bulan Januari 2019 mengalami penurunan dibandingkan pada Desember 2018 maupun pada Januari 2018. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengklaim hal itu merupakan dampak perluasan mandatori Biodiesel 20 persen (B20) yang diterapkan sejak September 2018.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor minyak mentah pada awal 2019 turun 3,5 persen dibanding Desember 2018. Sementara penurunan impor hasil minyak pada Januari 2019 mencapai 20,99 persen dibanding akhir tahun lalu.

Sedangkan jika dibandingkan dengan periode Januari 2018, impor minyak mentah turun 20,54 persen dan impor hasil minyak merosot 26,52 persen. "Berapanya [penurunan] nanti dihitung, tapi pokoknya turun. Artinya kebijakan B20 ada pengaruhnya terhadap neraca perdagangan migas," ujar Darmin.

Tak hanya menguntungkan dari sisi ekonomi, penggunaan biosolar ternyata juga mampu meningkatkan performa mesin. Hal ini diungkap lewat riset Audri D. Cappenberg yang berjudul "Pengaruh Penggunaan Bahan Bakar Solar, Biosolar, dan Pertamina DEX Terhadap Prestasi Motor Diesel Silinder Tunggal" dari Prodi Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas 17 Agustus 1945 (2017).


Dalam uji cobanya kepada mesin diesel Loncin 441 cc dengan sistem pengabutan injeksi, Audri menuliskan penggunaan bahan bakar biodiesel ternyata meningkatkan torsi hingga 0,52 persen. Mesin satu silinder yang sebelumnya diisi solar mencatat angka 7,28 Nm, meningkat jadi 7,8 Nm setelah menenggak biosolar.

Pun demikian dengan tenaganya. Meski tidak begitu signifikan, namun berhasil meningkat 0,07 persen dari 3,2343 kW menjadi 3,3045 kW. Konsumsi bahan bakar yang dihitung berdasarkan pemakaian setiap jam juga menunjukkan efisiensi lebih baik. Saat menggunakan solar mencatat angka 0,377 kg/kW.h, sedangkan raihan sebesar 0,353 kg/kW.h didapat ketika diisi biosolar.

Minyak Kelapa Sawit Berdampak Buruk?


Meski begitu, tingginya campuran minyak sawit pada solar disinyalir akan berdampak pada meningkatnya konsentrasi asam pada biodiesel. Kalau sebelumnya solar murni tak memberikan efek negatif pada mesin, bagaimana dengan B20 ataupun B30?

Kepada Tirto, Head of Technical Service Department PT Krama Yudha Tiga Berlian Motor (KTB) Yuswadi mengatakan bahwa penggunaan campuran minyak nabati ke bahan bakar solar tak berdampak buruk bagi mesin diesel, khususnya pada produk-produk Mitsubishi Fuso.

Infografik Konsumsi BBM
Infografik Konsumsi BBM. tirto.id/Nadya


Ia mengklaim bahwa dapur pacu masih bisa bertenaga dan seefisien ketika menggunakan solar biasa. Walau demikian, Yuswadi mengatakan, penyimpanan ketika proses distribusi dan daerah operasional yang berada di dataran tingi dapat mempengaruhi kondisi solar yang dicampur dengan minyak nabati.

Bersih atau tidaknya kondisi bahan bakar inilah, lanjutnya, yang bakal berpengaruh pada proses pembakaran ketika dipakai di mobil diesel.

"Jadi bukan mesinnya yang enggak terima B20. Tapi bio itu sangat erat dengan temperatur, itu kelihatannya yang sangat mempengaruhi kebersihannya," imbuhnya.

PT KTB sendiri telah mengantisipasi kotornya solar dengan menggunakan filter bahan bakar ganda pada truk produksi terbarunya, seperti misalnya truk Fighter yang meluncur awal 2019. Pemilik truk juga diharapkan selalu merawat kendaraan sesuai anjuran pabrikan, agar kondisi mesin tetap prima.

"Masa penggantian filter masih sama seperti sebelumnya yaitu setiap 20.000 kilometer. Tapi, tentunya masing-masing daerah, melihat praktiknya, bisa saja menjadi lebih cepat karena operasional tadi," pungkas Yuswadi.


Di samping itu, yang sering terlupa, ramainya penggunaan biosolar akan menyebabkan alih fungsi kawasan hutan di beberapa daerah menjadi perkebunan kelapa sawit. Selain berpotensi menimbulkan konflik antara penghuni di sekitar kawasan hutan, baik itu antara manusia ataupun antara manusia dengan satwa hutan, alih fungsi ini dapat pula menyebabkan ancaman lingkungan serius yang timbul akibat perusakan hutan untuk membuka lahan sumber minyak sawit.

Data Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian dalam laporan Tirto, menunjukkan produksi minyak kelapa sawit terus bertambah dari tahun 2013 hingga 2015. Mulai dari 2013 sebanyak 27,7 juta ton, menjadi sebanyak 29,3 ton pada 2014, dan di 2015 menyentuh 30,9 juta ton.

Hasil ini juga berimbas pada meningkatnya lahan perkebunan sawit yang tersebar di seluruh Indonesia. Pada 2013 luasnya mencapai 10,4 juta hektar, pada 2014 seluas 10,9 juta hektar dan tahun 2015 mencapai luas 11,4 juta hektar.

Baca juga artikel terkait BIOSOLAR atau tulisan menarik lainnya Dio Dananjaya
(tirto.id - Otomotif)


Penulis: Dio Dananjaya
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara