Rebo Wekasan dan Tradisi Penolak Bala di Indonesia

Penari Gandrung menari di atas kapal mengiringi sesaji saat ritual Petik Laut Rebo Wekasan di Pantai Waru Doyong, Banyuwangi, Rabu (15/11/2017). ANTARA FOTO/Budi Candra Setya
Oleh: Iswara N Raditya - 7 November 2018
Dibaca Normal 2 menit
Bagi yang meyakininya, pada Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan alias hari Rabu terakhir di bulan Safar, akan datang puluhan ribu macam penyakit dan bencana.
tirto.id - Rebo Wekasan tiba-tiba menjadi trending topic di media sosial pada Selasa (06/11/2018). Kosa kata yang masih terasa asing bagi khalayak tersebut sudah mencapai puluhan ribu pencarian dalam penelusuran di mesin pencari Google jelang pergantian hari menuju Rabu.

Kabar-kabar berantai juga bertebaran melalui berbagai sosial media di hari yang sama. Pesan tanpa identitas pengirim yang jelas itu pada intinya mengingatkan bahwa pada Rabu (07/11/2018), adalah hari Rabu terakhir bulan Safar atau bulan kedua dalam kalender Islam/Hijriah sebelum memasuki bulan Rabbiul Awal atau Maulid/Mulud.

Dipaparkan dalam pesan itu, hari Rabu pungkasan di bulan Safar merupakan hari pertama Nabi Muhammad jatuh sakit dan berlangsung selama 12 hari berturut-turut hingga Rasulullah wafat.

Diungkapkan pula dari pesan itu pada hari Rabu terakhir di bulan Safar itu, akan ada 360.000 (ada juga yang menyebut 320.000) sumber penyakit dan 20.000 bencana ke dunia. Masih tertulis dalam pesan tersebut, disarankan kepada umat untuk memperbanyak ibadah. Juga dicantumkan amalan berikut tata caranya dalam menghadapi hari yang dianggap sial.

Dalam tradisi Jawa, Rabu terakhir di bulan Safar inilah yang disebut sebagai Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan, adapun dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah Arba Mustamir.

Tradisi Penolak Bala di Nusantara

Bakal datangnya hari sial pada Rabu terakhir di bulan Safar menjadi kepercayaan bagi sebagian umat Islam di Nusantara. Untuk mengantisipasi itu, digelar bermacam-macam ragam ritual penolak bala di banyak daerah di Indonesia.

Karel A. Steenbrink dalam Beberapa Aspek tentang Islam di Indonesia Abad ke-19 (1984) menyebutkan tradisi ini sudah muncul sejak awal abad ke-17, khususnya di Aceh, Sumatera, dan Jawa, juga di sebagian wilayah Riau, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, bahkan Maluku.

Sebagian masyarakat Muslim di Aceh Selatan, misalnya, mengenal tradisi “makmegang” yang diadakan pada hari Rabu terakhir di bulan Safar. Ritual tolak bala ini berupa doa bersama di tepi pantai yang dipimpin oleh seorang teungku dan diikuti oleh para tokoh agama, tokoh masyarakat, dan sebagian warga.

Di Jawa, lebih banyak daerah yang rutin melakukan tradisi ini, terutama masyarakat di tepi pantai. Sulthon Fathoni dalam artikel “Rebo Wekasan: Tradisi dan Hukumnya dalam Islam”, diunggah islamnusantara.com (9 Desember 2015), memaparkan, daerah-daerah yang melakukan tradisi ini kebanyakan adalah daerah pesisir, yang relatif lebih dulu, kuat, dan kosmopolit keislamannya dibanding daerah pedalaman.


Cara masyarakat dalam menyikapi Rebo Wekasan di masing-masing daerah di Jawa berbeda-beda. Sebagai contoh adalah sebagian warga Muslim di Banten dan Tasikmalaya juga beberapa daerah lainnya di Jawa Barat, yang biasanya menunaikan salat khusus bersama di pagi hari pada Rabu terakhir bulan Safar itu.

Di Bantul, Yogyakarta, tepatnya di Desa Wonokromo, tradisi tolak bala terkait Rebo Wekasan diterapkan dengan pembuatan lemper raksasa yang nantinya dibagi-bagikan kepada warga atau orang-orang yang hadir dalam acara itu.

Sedangkan di ujung timur Jawa, Banyuwangi, diadakan tradisi petik laut untuk memperingati Rebo Wekasan oleh sebagian masyarakat pesisir di Pantai Waru Doyong. Di desa lain di Banyuwangi, ada pula komunitas warga yang melakukan tradisi tolak bala dengan makan nasi yang dibuat khusus, bersama-sama di tepi jalan.

Sementara sebagian warga Muslim di Kalimantan Selatan menyikapi Arba Mustamir atau Rebo Wekasan dengan beberapa cara, di antaranya adalah dengan salat sunah disertai doa tolak bala, selamatan kampung, tidak bepergian jauh, tidak melanggar pantangan, hingga mandi Safar untuk membuang sial.

Bahtiar L dan kawan-kawan dalam jurnal penelitian sosial-keagamaan Kontekstualita (Volume 24, Nomor 2, Desember 2008) terbitan IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, ritual mandi Safar juga diterapkan oleh sebagian masyarakat Muslim di Kepulauan Riau, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, hingga Maluku.




Sikap Para Ulama NU


Keyakinan terhadap Arba Mustamir atau bahwa hari Rabu terakhir di bulan Safar membawa kesialan alias Rebo Wekasan seringkali ditanggapi oleh para ulama. Salah satunya oleh Ustaz Yusuf Suharto dalam artikel bertajuk “Penjelasan Mengenai Rebo Wekasan” yang dimuat di portal NU Online tanggal 31 Desember 2013.

Yusuf Suharto, kader NU yang kala itu menjabat Ketua Aswaja NU Center Jombang menegaskan tidak ada hari atau bulan yang sial.


Adanya anggapan bahwa Safar adalah bulan sial, menurut Yusuf, sudah berlangsung sejak zaman masyarakat jahiliyah kuno, termasuk bangsa Arab, dan sisa-sisanya masih ada di kalangan kaum Muslimin hingga saat ini.

Inilah yang lalu diterapkan oleh sebagian masyarakat Muslim di Indonesia. Namun, terkadang aplikasinya justru tidak sesuai syariat, misalnya dengan meyakini benda-benda yang dipercaya mampu mengusir petaka. Musyawarah Ulama NU Jawa Tengah 1978 di Magelang pernah membahas ini. Dikutip dari Aula: Majalah Nahdlatul Ulama (Volume 25, 2003), para ulama dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada amalan atau salat khusus terkait Rebo Wekasan (hlm. 152).

Mustofa Bisri dalam buku Fikih Keseharian Gus Mus (2005) juga urun pendapat perihal ini: “[...] kalau masih ada yang tetap ingin mengerjakan salat di hari Rebo Wekasan, ya niatnya saja diubah. Jangan niat salat Rebo Wekasan, tapi niat salat hajat (hajatnya adalah menolak bala, misalnya), atau niat salat sunah begitu saja.” (hlm. 219).

Baca juga artikel terkait RABU WEKASAN atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Suhendra
DarkLight