Realisasi APBN 2018: Keseimbangan Primer Tercatat Defisit Rp1,8 T

Oleh: Hendra Friana - 2 Januari 2019
Keseimbangan primer pada tahun 2018 tercatat negatif Rp1,8 triliun. Capaian itu jauh lebih baik dibanding keseimbangan primer pada 2017 yang negatif Rp124,4 triliun.
tirto.id - Indonesia masih harus gali lubang tutup lubang meski realisasi pendapatan negara pada 2018 melampaui target APBN. Hal ini terlihat dari posisi primary balance atau keseimbangan primer pada 2018. Keseimbangan primer merupakan selisih antara pendapatan negara dikurangi belanja, yang tidak termasuk pembayaran utang.

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengumumkan posisi Keseimbangan primer pada 2018 tercatat negatif Rp1,8 triliun. Artinya, pemerintah masih harus meminjam dana untuk membiayai utang-utang yang sudah jatuh tempo lantaran belum mampu menutupinya dengan pendapatan sendiri.

"Keseimbangan primer kita tahun ini hampir mendekati 0. Bahkan tanggal 31 mencapai positif Rp4 triliun. Tapi kita hitung lagi, turun di [minus] Rp1,8 triliun," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam konferensi pers realisasi APBN 2018 di kantornya, Jakarta Pusat, Rabu (2/1/2018).

Meski demikian, menurut Sri Mulyani, keseimbangan primer di 2018 masih jauh lebih baik ketimbang tahun sebelumnya yang tercatat negatif Rp124,4 triliun.

"Penurunannya mendekati Rp122 triliun hanya dalam waktu satu tahun. Padahal tahun ini seharusnya primary balance [diproyeksikan] negatif Rp87,3 triliun. Realisasinya negatif Rp1,8 triliun," kata Sri Mulyani.

Hal ini tak lepas dari realisasi penerimaan negara dalam APBN 2018 yang mencapai Rp1.942,3 triliun atau lebih tinggi dari target di APBN 2018, yakni Rp1.894,7 triliun. Realisasi pendapatan negara di 2018 itu setara dengan 100,2 persen dari target.

Selain itu, kata Sri Mulyani, "Pembiayaan anggaran tahun 2018 dapat lebih rendah Rp25,5 triliun sehingga tumbuh negatif dari realisasi pembiayaan anggaran 2017."


Baca juga artikel terkait APBN 2018 atau tulisan menarik lainnya Hendra Friana
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Hendra Friana
Penulis: Hendra Friana
Editor: Addi M Idhom