Reaksi KPK Soal Sketsa Wajah yang Berubah Pelaku Penyiraman Novel

Oleh: Abdul Aziz - 27 November 2017
Dibaca Normal 2 menit
Kabid Humas Polda Metro Jaya memastikan tidak ada perbedaan sketsa terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan.
tirto.id - Polri merilis wajah sketsa terduga pelaku penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Namun, sketsa yang dirilis oleh Polda Metro Jaya pekan lalu berbeda dengan sketsa yang pernah disampaikan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian sebelumnya.

Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang menilai perbedaan hasil sketsa terduga penyerang Novel Baswedan sebagai hal wajar. Saut berkata, sketsa wajah bisa berubah apabila ada temuan baru.

“Kan itu namanya temuan-temuan berkembang. Temuan berkembang itu bisa saja berbeda kan? Satu bilang begitu, satu liat alisnya. Itu biasa,” kata Saut di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta, Senin (27/11/2017).

Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono memastikan tidak ada perbedaan sketsa. Mantan Kapolres Nunukan ini justru mengatakan, sketsa tetap ada tiga, tetapi sketsa yang diumumkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian 1 sudah tetap.

Argo menegaskan, Polda Metro Jaya akan terus bekerja meskipun masih ada dorongan untuk membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF). Ia mengingatkan, pihak KPK sudah mengapresiasi sehingga penanganan perkara tetap dipegang Polri.

“Jadi intinya kami tetap melakukan proses ini. Pimpinan KPK saja kemarin menyebut apa? Mengapresiasi,” kata Argo, di Polda Metro Jaya, Senin (27/11/2017).

Argo menambahkan “jadi kita kemarin sudah paparan di KPK sana. Tidak hanya pimpinan KPK saja, direktur, deputi, penyidik juga ada di sana. Intinya bahwa mereka mengapresiasi apa yang disampaikan penyidik. Bagaimana perkembangan, bagaimana progresnya, diapresiasi," kata Argo.

Menurut Argo, pihaknya akan terus berupaya mengungkap kasus penyiraman air keras terhadap Novel ini. Argo mengaku, sudah ratusan orang melaporkan kepada Polda Metro Jaya setelah polisi merilis sketsa wajah terduga pelaku.

“Sudah ada 397 ya yang sudah mengonfirmasi pada nomor hotline yang itu dan dari sebanyak itu belum ada yang signifikan untuk menyampaikan kegiatan dari keberadaan si penjahat itu,” kata Argo.

Pengacara Novel Baswedan Dorong TGPF

Mantan Ketua KPK, Abraham Samad menilai, kemunculan sketsa pelaku penyerangan terhadap Novel Baswedan sebagai hal positif. Samad berkata, kemunculan sketsa tersebut bisa mempercepat pengungkapan pelaku penyerang terhadap Novel Baswedan.

"Kalau sketsanya sudah bisa dibuat, berarti bisa diperkirakan siapa orang itu [pelaku]. Oleh karena itu, harusnya menemukan pelakunya lebih mudah,” kata Samad di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta, Senin (27/11/2017).

Samad mendesak agar kepolisian segera menangkap pelaku penyerangan terhadap penyidik senior KPK itu. Jika tidak diproses hingga tuntas, Samad khawatir akan ada pegawai KPK lain yang akan bernasib seperti Novel. Samad mengatakan, tidak menutup kemungkinan pimpinan KPK juga akan mengalami kasus yang sama, apabila pelaku dalam kasus Novel Baswedan tidak dapat ditemukan.

Samad mengapresiasi niat polisi yang mengajak KPK untuk bersama-sama menyelesaikan kasus ini. Menurut Samad, KPK bisa membantu pengumpulan informasi, bukti, dan keterangan lain. Namun, Samad tetap mendorong pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk kasus Novel. Ia beralasan, TGPF bisa mempercepat pengungkapan kasus penyiraman air keras yang sudah memasuki hingga bulan ke-7.

“Menurut saya tim gabungan pencari fakta itu juga menjadi option yang bisa kita harapkan untuk mempercepat, apalagi ini kan sketsanya sudah ada,” kata Samad.

Samad menambahkan “kalau dibantu tim gabungan pencari fakta, saya pikir mungkin kita tinggal menunggu hari saja kalau begitu.”

Sementara itu, Haris Azhar, penasihat hukum Novel Baswedan mengaku tidak ada yang berubah pada sikap kliennya, meskipun Novel sudah mengetahui sketsa dugaan pelaku penyiraman air keras.

“Posisi Novel tetap sama. Dia ingin ada TGPF dulu, baru dia akan ungkapkan apa yang dia tahu, apa informasi yang dia punya, jadi memang kuncinya di TGPF,” ujar Haris saat dihubungi Tirto, Senin (27/11/2017).

"Jadi apapun manuver yang dilakukan oleh pihak Polda metro, menurut saya tidak akan signifikan,” kata Haris.

Haris menilai, yang dirilis Polda Metro Jaya masih berkutat pada sketsa. Padahal, kata Haris, banyak petunjuk yang bisa digunakan untuk mengungkap pelaku penyerangan, dan polisi bisa langsung mengetahui pelaku.

Mantan Koordinator KontraS ini berpendapat, seharusnya perkembangan proses penanganan perkara Novel sudah menuju pada identitas pelaku. "Terlebih-lebih ini sudah lewat dari 7 bulan. Jadi ini enggak ada sesuatu yang luar biasa," kata Haris.

Oleh karena itu, kata Haris, pihak Novel kembali mendorong pembentukan TGPF yang bisa mengungkap banyak hal penting dan diatur dalam KUHAP.

Baca juga artikel terkait NOVEL BASWEDAN DISIRAM AIR KERAS atau tulisan menarik lainnya Abdul Aziz
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Abdul Aziz