Ratusan Tahun Sejarah Masjid Beratap Segitiga di Jawa

Masjid Demak. FOTO/wikipedia
Oleh: Indira Ardanareswari - 12 Juni 2019
Dibaca Normal 4 menit
Dan sejak dulu, belum pernah ada tudingan illuminati terhadap bentuk segitiga di masjid Nusantara.
tirto.id - Rancang bangun Masjid Al-Safar di Bandung, Jawa Barat, sempat menjadi polemik setelah muncul tuduhan yang mengkaitkannya dengan simbol illuminati. Masjid yang dibuat firma arsitek Urbane Indonesia milik Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil itu mendadak viral di pengujung bulan Mei lalu hanya gara-gara bentuk segitiga yang bertebaran di setiap sudut masjid.

Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, sampai gerah dibuatnya. Ia lantas merespons tudingan-tudingan tak berdasar tersebut melalui penjelasan singkat disertai ilustrasi atap-atap masjid di akun Instagramnya pada Jumat (31/5/2019). Tak berhenti sampai disitu, Emil kembali menjelaskan kepada publik mengenai inspirasi rancang bangun Masjid Al-Safar pada diskusi umum di Bale Asri Pusdai Jabar, Kota Bandung, pada Senin (10/6/2019).

Sepanjang 30 menit, Emil menjelaskan panjang lebar inspirasi dan teori di balik geometri segitiga Masjid Al-Safar. Menurutnya, geometri serupa juga terdapat pada masjid-masjid lain di seluruh Indonesia. Emil memberi contoh: Masjid Al Ukhuwah Bandung, Masjid Trans Studio, dan Masjid Raya Jakarta.

Seperti yang sudah dipaparkan Emil, masjid-masjid di Indonesia memang kental akan unsur segitiga. Pada masjid-masjid berusia tua bukan segitiga biasa yang ditonjolkan, melainkan bentuk limas segiempat atau piramida bernama tajug. Bentuk atap tajug hampir selalu ditemui pada masjid-masjid kuno di beberapa pulau di Indonesia, khususnya Jawa.

Atap tajug pada masjid di Indonesia dapat ditemui di mana-mana, dari Aceh hingga Ambon. Atap piramida yang ditemui di masjid tua semakin ke atas semakin kecil bentuknya. Pada bagian paling puncak atau yang paling kecil biasanya dihiasi sebuah tombak berornamen (mustaka) yang terbuat dari logam.

Kendati ada perbedaan bentuk atap tajug di tiap daerah, namun nuansa akulturasi arsitektur Hindu-Buddha dan Islam tetap tidak dapat dihilangkan. Hal ini tidaklah mengherankan, mengingat bentuk atap tajug muncul dan menyebar tidak lama setelah pengaruh Majapahit kian melemah dan disusul gencarnya politik Islam di Jawa.

Sebuah Warisan Akulturasi Budaya


Masjid Agung Demak merupakan salah satu masjid tua pertama dengan ciri khas tajug yang menonjol. Berdasarkan penuturan Abdul Baqir Zein dalam Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia (1999: 210), tahun pembangunan Masjid Agung Demak tidak pernah terungkap secara jelas. Sebagian cerita mengatakan masjid ini dibangun pada masa Kesultanan Demak di pengujung abad ke-15.

Sebagaimana tercatat dalam Babad Tanah Jawi, pembangunan Masjid Agung Demak dilakukan oleh Wali Songo. Menurut riwayat yang dikumpulkan oleh Kees van Dijk dalam “Perubahan Kontur Masjid”, pembangunan masjid Demak dibangun segera setelah Kerajaan Majapahit berhasil ditaklukan. Menyadari sisa-sisa pengaruh Majapahit, para Wali pun segera menyusun rencana guna menyucikan kerajaan yang baru bagi Raden Patah yang belum lama naik tahta.



Tulisan van Dijk yang dimuat dalam antologi Masa Lalu dalam Masa Kini: Arsitektur di Indonesia (2007: 53) itu juga menuturkan kisah Sunan Kalijaga yang memimpin pendirian masjid hanya dengan mengumpulkan ranting-ranting kayu dan ijuk yang diikat. Pada malam yang sama ranting-ranting itu berubah menjadi pilar masjid.

Berangkat dari riwayat itu, batas antara sejarah dan legenda pembangunan Masjid Agung Demak menjadi kabur. Van Dijk mengungkap terjadi kebingungan seputar kapan Masjid Agung Demak dibangun, sehingga siapa yang membangun bukanlah perkara penting lagi. Kendari demikian, van Dijk tetap mengutip sejarawan Belanda Hermanus Johannes de Graaf dan Thomas Pigeaud yang menyebut ornamen-ornamen pada Masjid Demak ternyata diambil dari bekas bangunan lain (hlm. 56).

Salah satu ornamen menarik yang menjadi ciri khas Masjid Agung Demak ialah gambar kura-kura yang terdapat di bagian dalam masjid. Abdul Baqir Zein menunjuk keberadaan kura-kura dipengaruhi oleh budaya China yang kemungkinan besar dilestarikan sendiri oleh para Sultan Demak. Kebudayaan China pulalah yang mempengaruhi struktur bangunan di Pulau Jawa.

Selain Masjid Demak, Masjid Menara Kudus atau Masjid Al-Aqsa di Kudus juga memiliki kesamaan berupa atap tajug tumpang tiga. Atap tajug di Masjid Kudus tidak hanya terdapat pada bangunan utama masjid, tetapi juga di atas menara serupa bangunan candi yang berdiri di tak jauh dari bangunan utama.

Van Dijk mencatat, orang-orang Belanda yang ikut dalam ekspedisi VOC ke Jawa Timur pada tahun 1678 pernah terheran akan kemiripan Masjid Kudus dengan kuil-kuil di India. Baik bagian menara bata, atap, maupun gapuranya sangat kental bernuansa Hindu. Bangunan masjid semacam ini bukan hal yang baru di beberapa wilayah Nusantara, sebab pembuatan masjid pada masa itu memang tidak pernah memikirkan tradisi arsitektur Islam dari Timur Tengah.

Asal Usul Piramida Tumpang


Sebagaimana simbol kura-kura pada Masjid Agung Demak, sebagian dekorasi masjid-masjid kuno di Jawa secara tidak langsung terpengaruh oleh tradisi Hindu-Buddha. Atribut istimewa ini biasanya ditandai oleh pemakaian simbol hewan, gapura, dan atap tajug tumpang.

Pembangunan atap piramida tumpang disebut-sebut meniru bentuk atap meru yang identik dengan tempat ibadah umat Hindu di Bali. Peter Schoppert dalam ensiklopedia arsitektur Jawa kuno yang berjudul Jawa Style (2012: 42) menyebut atap piramida sebagai gaya klasik masjid Asia Tenggara sepanjang abad 15.

Selain Jawa, Sumatera, dan Maluku, masjid beratap tajug tumpang lazim pula ditemui di kawasan Asia Tenggara lain seperti Malaysia, Brunei, Filipina Selatan, Thailand Selatan, dan bekas Kerajaan Champa di Vietnam. Besar kemungkinan, arsitektur tajug dibawa bersama kegiatan perdagangan dari pesisir utara Jawa ke penjuru Asia Tenggara.



Buku Grove Encyclopedia of Islamic Art & Architecture (2009: 439) memperkuat argumen Schoppert dengan menunjuk bahwa bentuk bangunan masjid-masjid tua di Malaysia memang berasal dari Masjid Agung Demak. Beberapa masjid kecil di Malaka dan Kelantan yang dibangun pada abad 18 sangat jelas meniru bentuk bangunan masjid dari Jawa. Lengkap dengan serambi, pilar-pilar penyangga pada pendopo berbentuk persegi, dan atap tajug berlapis dua atau lebih.



Pendapat serupa juga diutarakan Nancy K. Florida dalam disertasinya, Writing the Past Inscribing the Future: History as Prophecy in Colonial Java (1995: 330). Florida menyebut Masjid Agung Demak sebagai asal muasal bentuk atap piramida bertumpuk yang mendefinisiakn arsitektur tempat peribadahan umat Islam di Jawa sejak masa kerajaan.

Lebih jauh mengenai asal muasal bentuk atap piramida pada masjid tua di Jawa, para ahli masih kerap bersilang pendapat. Berdasarkan tulisan Kartum Setiawan dalam Masjid-Masjid Bersejarah di Jakarta (2010: 18-19), ditemukan bahwa perdebatan yang demikian lebih hidup di kalangan sejarawan Belanda yang memiliki perhatian besar terhadap perkembangan bentuk masjid di Negara Koloni.

Menurut catatan Setiawan, ahli purbakala Willem Frederik Stutterheim sempat menghubungkan bentuk masjid di Jawa dengan kesenian Indonesia pra-Islam. Stutterheim mempertajam penjelasannya dengan menyebut ada kesamaan antara bangunan masjid dengan bangunan gelanggang tempat menyabung ayam di Bali yang disebut wanitilan.

“Bangunan tersebut berdenah segi empat, beratap tumpang tanpa dinding. Menurut Stutterheim, bangunan gelanggang tempat menyabung ayam setelah ditutup pada keempat sisinya telah menjadi bangunan masjid yang sederhana, setelah sisi barat ditambah dengan bagian menjorok sebagai mihrabnya,” tulis Setiawan.

Pendapat Stutterheim mendapat bantahan dari de Graaf. Sebagaimana diutarakan de Graaf, orang Islam tidak akan memilih tempat berjudi sebagai bentuk awal tempat ibadah. De Graaf sendiri lebih banyak dipengaruhi oleh pandangan India-sentris yang dibawa oleh penjelajah Belanda abad 16. Dalam tulisannya yang berjudul “The Origin of the Javanese Mosque”, de Graaf menyebut ciri khas masjid Jawa berupa atap piramida bertumpuk berasal dari Malabar, India.

Setiawan kemudian tiba pada sanggahan yang datang dari guru besar arkeologi Prof. Dr. Sutjipto Wirjosuparto. Menurut Sutjipto, argumen de Graaf tidaklah tepat karena memiliki banyak kelemahan. Nampaknya Sutjipto lebih condong kepada pendapat Stutterheim tentang bangunan segiempat beratap piramida tumpuk yang menyebar di Jawa dan Bali.

Wirjosuparto menguraikan bahwa denah persegi yang membentuk masjid di Jawa dan beberapa wilayah di Nusantara asalnya dari bagian rumah Jawa yang disebut pendopo. Sementara, atap tajug tumpang ada kalanya mengikuti warna lokal masing-masing daerah yang ditunjukan dengan tingkat kemiringan segitiga yang berbeda-beda.

Baca juga artikel terkait MASJID atau tulisan menarik lainnya Indira Ardanareswari
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Indira Ardanareswari
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight