Rasisnya Kader Hanura Ambroncius karena Pigai Tolak Vaksin Sinovac?

Oleh: Zakki Amali - 26 Januari 2021
Dibaca Normal 2 menit
Rasisme terhadap Natalius Pigai memantik kemarahan warga Papua. Per Senin (25/1) sudah tiga pihak melaporkan Ambroncius Nababan.
tirto.id - Ambroncius Nababan, kader Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) dilaporkan ke polisi terkait dugaan rasisme terhadap Natalius Pigai, eks Komisioner Komnas HAM. Nababan menyerang Pigai lewat akun Facebook.

Ia mengunggah sejumlah gambar selama Januari ini yang ditujukan kepada Pigai. Salah satunya foto Pigai dan satu lagi foto seekor primata Gorila. Terdapat tulisan dalam gambar dan mengarah ke tindakan rasisme. Akun Facebook Nababan sudah dihapus, akan tetapi jejak digital penghinaan terhadap Natalius Pigai tersebar di media sosial.

Unggahan rasis tersebut dibenarkan oleh Nababan yang pernah jadi relawan pemenangan Jokowi di Pilpres 2019. Nababan mengakui mengunggah gambar dan narasi soal Pigai. Namun, ia menolak disebut rasis.

“Memang benar saya yang posting di Facebook pribadi menanggapi berita Natalius Pigai yang menolak vaksin Sinovac dan tak percaya vaksin Sinovac yang disuntikkan ke Presiden RI,” kata Nababan kepada Tirto, Senin (25/1).

Pigai dalam wawacara dengan Karni Ilyas pada 18 Januari 2021 di YouTube bicara soal vaksinasi dari perspektif hak asasi manusia.

Pigai menilai pemerintah tidak dapat memaksa warga untuk vaksinasi. Pemerintah dinilai belum pernah menyatakan kondisi darurat pandemi Corona berdasar UU Kekarantinaan Kesehatan.


Sebagai konsekuensi, katanya, warga tidak wajib vaksinasi dari program pemerintah dan tidak dapat dipidana karena penolakan. Pigai juga bilang warga bebas menentukan merek vaksin mana untuk vaksinasi Corona mengacu Pasal 5 ayat 3 UU Kesehatan.

Pada akhirnya Pigai bukannya menolak vaksinasi, melainkan enggan memakai vaksin produk Sinovac buatan Cina. Kalau pun memakai Sinovac, ia ingin berada di urutan terakhir.

“Yang jelas saya tidak mau dengan vaksin yang digunakan pemerintah hari ini. Itu lahir dari pro-kontra. Vaksin dari luar negeri berapa pun tidak masalah,” kata Pigai.


Sejak awal pandemi, pemerintah memang belum mengumumkan kondisi pandemi COVID-19 dengan UU Kekarantinaan Kesehatan, melainkan UU Darurat Sipil. Akibanya pemerinah tidak pernah tegas mengumumkan situasi darurat nasional pandemi Corona. Jokowi disebut fokus penyelamatan ekonomi saat pandemi.

Ramai-ramai Melaporkan Nababan

Rasisme terhadap Pigai memantik kemarahan warga Papua. Pigai adalah tokoh Papua yang dihina dan disamakan dengan primata. Hingga Senin (25/1) terdapat tiga pihak melaporkan rasisme tersebut ke Polda Papua Barat dan Polda Papua.

Kepala Divisi Humas Polr, Inspektur Jenderal Argo Yuwono mengatakan, kasus rasisme akan ditangani oleh Bareskrim Polri. Alasannya, terlapor diduga tinggal di sekitar Jakarta.

Argo meminta kepada masyarakat Papua agar memercayakan kasus tersebut kepada polisi. Polisi saat ini sudah mengirimkan surat panggilan klarifikasi kepada Nababan.

Terkait rasisme, Pigai mengingatkan pemerintah agar tidak mengulangi pembiaran penanganan seperti yang memicu protes besar warga Papua pada 2019. Saat itu, warga Papua di Asrama Surabaya jadi korban rasisme, namun aparat penegak hukum dinilai telat menangani.

"Selama pemerintahan Joko Widodo, pembantaian, pembunuhan dan kejahatan HAM di Papua cenderung didasari rasisme. Kita harus hapuskan rasisme," kata Pigai kepada Tirto, Senin (25/1/2021).


Pigai menyesalkan respons terhadapnya perbedaan pendapat soal vaksin dengan tindakan rasis. Ia menilai rasisme telah menjadi alat bagi negara untuk membungkam orang Papua yang bersuara kritis.

Terkait ucapan rasis, Ambroncius Nababan meminta maaf atas ujaran rasis kepada masyarakat Papua. Ia tidak bermaksud menyakiti hati masyarakat Papua, melainkan hanya mengkritik Pigai.

Terkait laporan polisi, Nababan mengklaim siap menghadapi dan bertanggung jawab.

“Walau kritik saya sangat tajam agar oknum tersebut jangan sampai memprovokasi rakyat untuk menolak divaksinasi Sinovac. Itulah tujuan saya,” kata Nababan.

Baca juga artikel terkait RASISME atau tulisan menarik lainnya Zakki Amali
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Adi Briantika
Penulis: Zakki Amali
Editor: Rio Apinino
DarkLight