Menuju konten utama

Rangkuman PAI: Apa Itu Fathonah, Arti, dan Keteladannya dalam Islam

Arti sifat fathonah adalah cerdas dan bijaksana. Apa saja contoh keteladanannya?

Rangkuman PAI: Apa Itu Fathonah, Arti, dan Keteladannya dalam Islam
Seorang ibu dan putrinya memakai masker untuk membantu mengekang penyebaran virus korona baru karena mereka menggunakan wifi gratis di telepon seluler di kantor desa Jatirahayu di Bekasi di pinggiran Jakarta, Indonesia, Rabu, 29 Juli 2020. ( AP / Achmad Ibrahim)

tirto.id - Salah satu sifat wajib dari para rasul adalah sifat fathonah (fatanah), yaitu cerdas dan bijaksana, selain dari shiddiq (jujur), amanah, dan tablig. Umat Islam dianjurkan untuk meneladani sifat mulia ini. Karena itulah, menuntut ilmu agar menjadi cerdas adalah salah satu kewajiban setiap muslim, sejak ia lahir hingga meninggal dunia.

Sifat fathonah ini merupakan salah satu akhlak terpuji dalam Islam. Menyebarkan budi pekerti mulia merupakan misi universal Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, sebagaimana sabda beliau: "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak," (H.R. Baihaqi).

Arti Sifat Fathonah dan Keteladananya

Dalam buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (2017) yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dijelaskan bahwa sifat fathonah adalah sikap cerdas dan bijaksana yang dilakukan oleh setiap rasul yang diutus Allah SWT.

Kebalikan dari sifat fathonah ini adalah baladah yang bermakna bodoh. Artinya, mustahil bagi Nabi Muhammad bersikap bodoh dalam tindak-tanduk dan tutur katanya.

Salah satu contoh sifat fathonah yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW adalah ketika beliau diminta untuk menyelesaikan pertikaian kabilah Arab karena perkara peletakan batu Hajar Aswad.

Menurut masyarakat Arab, batu Hajar Aswad adalah simbol kemuliaan. Saat mereka merenovasi Ka'bah, setiap kabilah merasa berhak untuk mengangkat batu hitam tersebut dan meletakkannya di Ka'bah.

Karena setiap kabilah merasa paling berhak, mereka bertikai satu sama lain, dan tidak menemukan titik terang. Hal ini terus berlanjut sampai mereka bersepakat untuk menunjuk Muhammad yang dikenal dengan julukan Al-Amin (orang yang bisa dipercaya) untuk menengahi masalah tersebut.

Dengan kecerdasan dan kebijaksanaannya, Muhammad SAW, yang saat itu belum diangkat menjadi rasul, mengajak semua kabilah yang bersengketa untuk memegang ujung kain yang dibawa beliau SAW. Di atas kain itu, diletakkan batu Hajar Aswad yang dibawa oleh semua perwakilan kabilah yang bertikai.

Setelah sampai di hadapan Ka'bah, Muhammad SAW kemudian mengambil Hajar Aswad dengan tangannya sendiri, kemudian meletakkannya di rukun timur Ka'bah.

Dengan strategi cerdas nan bijak itu, semua kabilah merasa puas dengan keputusan Muhammad SAW. Pertikaian pun selesai tanpa menimbulkan pertumpahan darah.

Berdasarkan teladan sifat fathonah itu, umat Islam diwajibkan untuk menuntut ilmu agar menjadi cerdas dan bijaksana. Bagaimanapun juga kecerdasan dan kebijaksanaan tidak muncul begitu saja, melainkan hasil dari pengalaman dan proses belajar.

Karena itulah, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Mencari ilmu merupakan kewajiban bagi setiap orang Islam, laki-laki dan perempuan. Setiap sesuatu yang di dunia ini akan memintakan pengampunan kepada Allah Swt untuk para pencari ilmu, hingga ikan di laut pun ikut memintakan pengampunan baginya,” (H.R. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Baca juga artikel terkait ISLAM atau tulisan lainnya dari Abdul Hadi

Kontributor: Abdul Hadi
Penulis: Abdul Hadi
Editor: Yulaika Ramadhani