Ramai-ramai Bikin Tekstil dari Sampah Makanan, Kok Bisa?

Ilustrasi Food Waste Fashion. tirto.id/Nadya
Oleh: Joan Aurelia - 26 Maret 2019
Dibaca Normal 3 menit
Para desainer mulai melirik potensi sampah sebagai material tekstil.
tirto.id - Duta Besar Italia untuk Indonesia, Vittorio Sandalli pernah bilang bahwa ia tak ingin orang Indonesia hanya mengenal Italia sebagai negara yang unggul di bidang seni, budaya, dan pizza. Di mata Sandalli, negerinya juga punya kontribusi untuk pengembangan ilmu pengetahuan di ranah kesehatan, antariksa, hingga fesyen.

Sandalli kemudian berupaya membuktikan perkataannya dengan ekshibisi The Beauty of Knowledge yang digelar dalam rangka memperingati 70 tahun kerjasama bilateral Indonesia dan Italia.

Peringatan ini tidak berlangsung megah. Pameran hanya menempati sebagian kecil ruang di sisi kanan Museum Nasional Indonesia. Tak ada instalasi gigantis yang menampilkan bukti inovasi teknologi dari tangan para ilmuwan Italia. Ruangan penuh dengan susunan balok plastik putih dan kotak akrilik yang sebagian di antaranya memuat benda-benda seperti jeruk, benang, dan kulit--tiga hal yang jadi objek penelitian sejumlah periset dan praktisi fesyen Italia beberapa tahun terakhir.


Pada 2013, mahasiswi jurusan fesyen di Milan, Adriana Santanocito dan Enrica Arena, gusar setelah mengetahui perusahaan produsen jus jeruk di Italia menghasilkan 700.000 ton sampah setiap tahunnya. Beberapa perusahaan bahkan pernah dituntut akibat tidak mengelola limbah dengan baik.

Fakta tersebut mendorong Santanocito dan Arena mengelola sisa produksi jus jeruk menjadi kain serupa sutra yang digunakan sebagai bahan busana. Ide inovasi ini ternyata berhasil menarik hati beberapa investor dan lembaga seperti H&M Foundation dan Uni Eropa. Dari mereka, dua perempuan ini mendapat dana sekitar 500.000 Euro untuk menjalani proyek penelitian. Duo desainer tersebut lantas mematenkan temuan mereka dan meresmikan Orange Fiber, perusahaan yang fokus mengeksplorasi manfaat limbah jeruk untuk ranah mode pada 2014.

Pada 2017, label busana asal Italia Salvatore Ferragamo berkolaborasi dengan Orange Fiber untuk koleksi terbatas yang dibuat untuk memperingati hari bumi. Saat itu produk yang dilansir adalah kemeja, terusan, kaos, dan celana panjang yang dibuat dari kain berbahan dasar jeruk.

Bagi Orange Fiber, kolaborasi dengan Ferragamo adalah sebagai terobosan karena label fesyen tersebut ialah jenama pertama yang menuangkan produk Orange Fiber ke dalam busana siap pakai.

Wacana pemanfaatan sisa makanan dan minuman olahan sebagai material tekstil kembali muncul di ranah mode pada 2010 kala desainer Suzanne Lee bekerjasama dengan pakar biologi untuk menciptakan rompi kulit dari sisa olahan minuman Kombucha atau teh.

Sebenarnya pemanfaatan material alam sebagai bahan pembuatan kain adalah hal lazim pada 1930-1960-an. Tapi industri fast fashion yang memanfaatkan bahan kimia dan mesin membuat sistem formulasi material alam terlupakan. Kini, saat dampak buruk industri mode cepat semakin tak terkendali, gagasan kembali ke alam menguat lagi.

Ide ‘baru’ Lee awalnya dianggap mengada-ada dan baru diterima sebagai terobosan setelah fakta-fakta soal limbah fast fashion tersebar pada berbagai platform.

Pada 2014, ide material alternatif ini mulai disosialisasikan di forum seperti TED. Di lain sisi, Lee juga menginspirasi peneliti lain di berbagai negara untuk melakukan kegiatan serupa.


National Geographic pernah menulis kisah Young-A Lee, seorang professor associate di bidang desain dan pakaian dari Iowa State University. Lee juga bereksperimen dengan sisa olahan Kombucha untuk membuat bahan pakaian. Lee berupaya ‘menyempurnakan’ ide Suzanna Lee dengan menciptakan formula agar material lebih tahan air dan kuat digunakan untuk sehari-hari.

“Kami juga ingin bekerjasama dengan perusahaan teh agar mereka tidak sia-sia membuang sisa olahan,” kata Lee yang juga mengembangkan teknik pewarnaan kain dari sisa kopi dan kulit bawang.

Theanne Schiros, professor matematika dan sains di Fashion Institute of Technology (FIT), memilih material lain yakni algae yang menurutnya bisa lebih awet digunakan untuk beraktivitas sehari-hari. Schiros pun mendirikan Algiknit, perusahaan yang fokus untuk eksplorasi berbagai tumbuhan yang bisa diolah jadi tekstil. Selain algae, Schiros dan tim juga mengembangkan rumput laut.

Scientific American mencatat beberapa murid Schiros turut menciptakan kain alami yang dibuat dari kulit nanas buangan, biji alpukat, dan indigo.

“Selain mengurangi sampah dalam proses produksi, busana dan aksesori yang dibuat dari material tersebut juga bisa ditanam dan diolah kembali di kemudian hari,” kata Schiros.


Pengolahan limbah makanan ini tak hanya bicara tentang lingkungan tetapi juga tentang orang-orang yang terlibat dalam industri tersebut. Pendiri Circular Systems, perusahaan pengolahan limbah makanan, Isaac Nichelson menerapkan sistem yang membuat para petani bisa mendapat penghasilan tambahan bila mereka turut membantu Nichelson dalam memasok tumbuhan yang bisa diolah.



“Sesungguhnya ini cara saya untuk memastikan agar perusahaan ini benar-benar mengoptimalkan semua sisa tanaman yang ada untuk diolah jadi tekstil,” kata Nichelson.

Sampai hari ini pemanfaatan tumbuhan sebagai tekstil masih punya kendala tersendiri.

“Tantangan terbesar dari penciptaan material hasil bioengineering adalah membuat kain yang kuat untuk digunakan dalam aktivitas sehari-hari,” kata Schiros.

Pendiri laboratorium biodesain Natsai Audrey Chieza menganggap tantangan terbesar dari tekstil berbahan dasar tumbuhan terletak pada cara menyiasati ketimpangan harga. “Syal sutra yang dibuat dari bakteri bisa dipatok dengan harga $139 sementara syal sutra dari bahan non-tumbuhan dijual dengan harga $10,” kata Chieza seperti yang dikutip Scientific American.


Perusahaan seperti Adidas dan H&M menetapkan target bahwa perusahaan mereka hanya akan menggunakan material berkelanjutan (sustainable) dalam produk.

Berbagai perusahaan rintisan seperti QMilk asal Jerman pun masih berniat untuk terus menyempurnakan produksi tekstil dari sisa pembuatan susu sapi.

Melik Demirel, direktur Center for Research on Advanced Fiber Technologies, meyakini tantangan yang ada dapat diatasi bila para praktisi mampu mengukur proses produksi. Prinsipnya: ulur waktu selama mungkin agar sisa tumbuhan atau benda ciptaan agar tidak segera jadi sampah.

Baca juga artikel terkait FASHION atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Windu Jusuf
DarkLight