Rakus Makan karena Stres

Oleh: Nindias Nur Khalika - 21 Oktober 2018
Dibaca Normal 2 menit
Ada yang menyantap makanan untuk menekan berbagai macam emosi negatif yang menyerang.
tirto.id - Taufiq memilih untuk menyantap makanan yang belum pernah dimakan ketika rasa jenuh atau bosan gara-gara pekerjaan melanda. Bagi laki-laki berusia 25 tahun itu, aktivitas tersebut bisa mengalihkan pikirannya dari persoalan yang sedang ia hadapi. Taufiq bahkan tak segan mencari makanan di tempat makan yang jauh dari tempat kosnya.

“Ini kayak detoks diri untuk melawan rasa bosan atau jenuh kerjaan kantor dengan hadirnya kegembiraan baru dari rasa makanan yang sebelumnya bikin aku penasaran. Selain itu, bentuk makanan yang indah membuat kegembiraan itu semakin unik," katanya.

Ia mengatakan bahwa selama ini porsi makan yang disantap saat ia merasa bosan masih bisa dikontrol.

“Hanya saja hal itu muncul di jam-jam yang tak terduga, misal jam 2 pagi. Makan yang dimakan jenisnya macam-macam. Tiba-tiba pengin manis terus nyari pisang madu. Kalau pengin gurih, nyari bakmi. Kemarin iseng buka Go Food, ada mangut ikan pari, seketika langsung beli,” ujarnya kepada Tirto.

Dari semua makanan yang ia santap, Taufiq mengaku menggemari makanan yang manis dan mengandung karbohidrat apabila sedang jenuh, bosan, atau kecewa.


Serupa dengan Taufiq, Danas juga suka mengonsumsi makanan saat stres yang ia rasakan telah menumpuk sementara curhat pada orang lain tak membuahkan hasil. “[Suka] makanan yang cenderung manis, utamanya coklat sih karena aku suka banget coklat. Tapi enggak jarang juga yang micin, walaupun mi instan bukan pilihan utama,” jelasnya.

Ia mengatakan kepada Tirto bahwa setelah menyantap makanan di atas dirinya merasa menjadi lebih baik. “Getting better, sih, at least mentally. Walaupun fisik enggak bisa dibohongin. Sifatnya temporary,” kata perempuan berumur 26 tahun tersebut.

Stress Eating

Menurut situsweb Help Guide, aktivitas mengonsumsi makanan guna memenuhi kebutuhan emosional alih-alih untuk membunuh rasa lapar disebut dengan emotional eating atau stress eating. Mayo Clinic, di sisi lain, menjelaskan bahwa stress eating merupakan aktivitas makan yang dilakukan untuk menekan atau menenangkan emosi negatif seperti stres, marah, takut, bosan, sedih, atau kesepian.

Ahli diet Allison Knot seperti yang dikutip TIME menjelaskan kadar hormon kortisol yang tinggi akibat stres kronis dapat meningkatkan nafsu makan. Dalam hal ini, psikolog gizi Amanda Baten kepada TIME menerangkan bahwa makanan dijadikan seseorang untuk mematikan rasa negatif yang sedang ia alami.

“Ini adalah strategi pengalih perhatian dengan cara yang sama yang dilakukan orang-orang yang menenggak alkohol, mengonsumsi narkoba, melakukan seks juga menonton TV,” ujarnya.

Lebih lanjut, Harvard Health Publishing menerangkan hormon seperti kortisol, insulin, dan ghrelin bisa membuat seseorang yang stres memilih untuk mengonsumsi makanan yang kaya lemak dan gula. Makanan jenis ini ketika dicerna mampu meredam respons dan emosi terkait stres sehingga ia nyaman dikonsumsi ketika perasaan negatif muncul.

Hal ini diamini Baten seperti dilaporkan TIME. Ia menjelaskan beberapa penelitian menyebutkan bahwa karbohidrat dan gula bisa mengaktifkan pusat kebahagiaan di otak.


Konflik hubungan, stres karena pekerjaan, kelelahan, tekanan finansial, dan problem kesehatan menurut Mayo Clinic dapat menjadi pemicu munculnya stress eating. Helpguide lebih lanjut menerangkan bahwa kebiasaan sewaktu kecil dan pengaruh lingkungan sosial turut bisa mendorong orang melakukan stress eating.

Terkait pengaruh lingkungan, Helpguide mengatakan rasa gugup saat berhadapan dengan situasi sosial berpotensi mendorong orang mengonsumsi makanan untuk menekan emosi. Sementara itu, tindakan orang tua yang memberikan makanan sebagai hadiah atau hukuman pada anak sejak kecil dapat membuat ia mengalami stress eating saat dewasa.

Riset yang dilakukan oleh Claire Farrow, Emma Haycraft, dan Jackie Blissett pun membuktikan bahwa kebiasaan orang tua terkait makanan berpengaruh pada emotional eating yang dilakukan anak.

Berdasarkan penelitian yang berjudul “Inducing Preschool Children’s Emotional Eating: Relation with Parental Feeding Practices” (2010) tersebut, mereka menemukan bahwa anak berusia tiga hingga lima tahun yang menjadi subjek riset tidak mengonsumsi banyak makanan ketika menunggu seseorang mencari bagian akhir sebuah puzzle.

Sebaliknya, hasil berbeda didapat ketika eksperimen yang sama dilakukan pada anak berusia dua tahun lebih tua di mana mereka cenderung mengonsumsi makanan ketimbang bermain saat menunggu. Menurut penelusuran Farrow dan tim riset lain, anak yang orang tuanya kerap menggunakan makanan sebagai hadiah atau hukuman sejak kecil memang cenderung mengalami emotional eating ketika mereka berusia lima hingga tujuh tahun.


Infografik Melupakan emosi dengan makan


Berbeda dengan kegiatan makan karena lapar, Help Guide menjelaskan bahwa stress eating acap kali muncul secara tiba-tiba, tak berhenti meski kenyang, dan menimbulkan perasaan bersalah atau menyesal. Oleh karena sifatnya ini, stress eating bisa menimbulkan masalah kesehatan seperti diabetes, tekanan darah tinggi, dan kelelahan apabila tak terkontrol.

Berbagai kegiatan pun bisa dilakukan seseorang untuk meredakan stres tanpa harus mengundang penyakit baru gara-gara emotional eating. Harvard Health Publishing mengatakan cara seperti meditasi, berolahraga, dan bercakap dengan orang terdekat bisa membantu.

Hal serupa juga disampaikan oleh psikolog gizi Amanda Baten. Kepada TIME, ia mengatakan bahwa aktivitas seperti jalan-jalan, meditasi, atau berbincang dengan teman bisa dijadikan solusi melawan stress eating yang tak terkontrol. Ia juga mengatakan bahwa olahraga dan tidur juga konsumsi makanan yang cukup dapat menjadi pereda stres berkelanjutan. Makanya, Baten menegaskan kebiasaan hidup sehat pun mesti diterapkan dalam kurun waktu jangka panjang.

Baca juga artikel terkait STRES atau tulisan menarik lainnya Nindias Nur Khalika
(tirto.id - Kesehatan)


Penulis: Nindias Nur Khalika
Editor: Maulida Sri Handayani