Rahasia WhatsApp Jadi Pesan Instan "Jutaan Umat"

foto/shutterstock
Oleh: Ahmad Zaenudin - 18 Maret 2018
Dibaca Normal 3 menit
WhatsApp punya beberapa keunggulan dari kompetitor, konsepnya terus melakukan perubahan fitur dan dapat dinikmati secara cuma-cuma.
Pengguna pesan instan pastinya pernah merasakan kondisi "salah kamar" saat mengirim pesan. Kejadian demikian bisa memalukan bila pesan yang salah terkirim sangat pribadi atau tak pantas diketahui oleh teman atau grup dalam pesan instan seperti WhatsApp.

WhatsApp aplikasi pesan instan populer yang punya sekitar 1,3 miliar pengguna—paling populer di dunia—sejak Oktober 2017 lalu memiliki fitur “Delete for Everyone” atau penghapus pesan yang telah dikirim. Pesan yang hendak dihapus tak lebih dari tujuh menit, bila tidak maka upaya menghapusnya akan sia-sia.

Namun, dalam perkembangannya, batasan waktu tujuh menit berubah. Pengguna WhatsApp bisa menghapus pesan yang dikirim hingga 1 jam 8 menit 16 detik setelah kejadian salam kirim atau sengaja menghapus pesan. Fitur penghapusan pesan hanya satu dari sekian fitur yang ada pada WhatsApp yang terus berkembang dan bertambah.

WhatsApp memang hadir tak langsung dengan segala fitur seperti saat ini. Mereka menambahkan fitur secara bertahap. Selain tentu saja fitur mengirimkan pesan, mengirimkan foto merupakan salah satu fitur awal WhatsApp. WhatsApp merilis fitur tersebut di Agustus 2009.

Pada Agustus 2013 WhatsApp menambahkan fitur mengirimkan pesan suara di aplikasi mereka. Pada November 2014 “read receipts” menyambangi aplikasi itu. Berselang tak lama, WhatsApp menambah fitur pengaturan untuk menonaktifkan layanan ini.

Guna memenuhi kebutuhan pekerja, WhatsApp merilis versi web pada Januari 2015. Ini memungkinkan kaum pekerja untuk menggunakan WhatsApp di layar yang sama dengan spread sheets. Fitur ini membantu pengguna tak perlu tiap saat menengok ponsel.

Maret 2015, WhatsApp merilis layanan panggilan suara berbasis internet alias voice over internet protocol VoIP. Pada Februari 2017 WhatsApp menghadirkan Stories, fitur update status seperti yang dimiliki Instagram. Pada Oktober 2017 pengguna bisa menghapus pesan terkirim, dan rencananya akan diperbarui pada Maret 2018.

Ada dua alasan mengapa WhatsApp merilis fitur-fitur baru pada aplikasinya. Pertama, persaingan dengan aplikasi pesan instan lain cukup ketat. Kedua, sebagai upaya WhatsApp memperoleh pendapatan selepas tak lagi menerapkan kebijakan $0,99 per tahun.

“Delete for Everyone” adalah contoh fitur yang dirilis dengan alasan dalam menjawab persaingan dengan kompetitor. WhatsApp termasuk telat merilis fitur ini padahal hampir semua layanan pesan instan telah memilikinya. Line punya fitur Hidden Chat sejak Juli 2014, meskipun mereka menggantinya dengan Letter Sealing pada Juni 2016. Ada pula WeChat yang punya fitur serupa sejak Juni 2014. BlackBerry Messenger (BBM) memiliki fitur Retracting Message sejak November 2014.



Padahal fitur menghapus pesan sangat penting. Microsoft pernah mengklaim, tombol “backspace” merupakan tombol paling sering digunakan nomor ketiga oleh pengguna komputer. Artinya, kesalahan menyusun kata merupakan sesuatu yang lazim terjadi bagi pengguna komputer.

Sementara itu, Stories merupakan contoh fitur yang dirilis dengan alasan untuk mendapatkan pemasukan keuangan. Stories merupakan fitur yang dicontek WhatsApp dari Instagram. Stories di Instagram terhitung sukses. Di November 2017 lalu dalam sebuah pemberitaan Forbes fitur tersebut telah digunakan 300 juta pengguna tiap hari.

Jeff Semones, pemimpin MediaCom, firma agensi periklanan, mengatakan Stories “meningkatkan kemampuan brand untuk bercerita.”

Ini membuat Stories sangat bernilai dimata pengiklan. Sayangnya, saat WhatsApp melakukan langkah serupa Instagram ini akan mengusik kesucian mereka. Sebagaimana diungkap di atas, WhatsApp tak menyukai iklan.

Fitur-fitur masa depan WhatsApp bakal muncul fitur-fitur yang memungkinkan mereka meraup uang. Pada awal Februari lalu, memanfaatkan layanan Unified Payment Interface (UPI) yang dirilis National Payment Corporation of India, WhatsApp merilis fitur tersebut, sebagai fitur dompet digital khusus pasar India.

Selain itu, WhatsApp di pasar pembayaran tak mengherankan. Statista mencatat bahwa pasar pembayaran mobile akan mencapai $1,08 triliun pada 2019. Sesuatu yang sangat menggiurkan bagi WhatsApp, yang tengah kehausan karena belum memperoleh pendapatan.




Ada Apa di Awal Kemunculan WhatsApp?

Di salah satu sudut meja kerja Jan Koum—pendiri WhatsApp—ada sebuah kertas catatan yang diteken Brian Acton yang tertulis “No ads! No games! No gimmicks!". Itu jadi pengingat batasan pengembangan perusahaan yang dibangun keduanya.

Jan Koum dan Brian Acton adalah dua sosok sahabat. Jan Koum lahir di Ukraina pada 24 Februari 1976. Saat berusia 16 tahun, Koum beserta keluarganya bermigrasi ke Amerika Serikat. Keluarga Koum mengandalkan kupon makanan untuk menopang kehidupan sehari-hari.

Koum bekerja sebagai seorang pesuruh. Namun, karena ingin perubahan, Koum belajar kode pemrograman pada usia 18 tahun. Koum juga sempat berkuliah di San Jose State University, tapi sayang ia memilih drop-out.

Brian Acton, sang sahabat lahir pada 17 Februari 1972, di Michigan, AS. Ia sempat menempuh pendidikan di University of Pennsylvania. Namun, itu tak berlangsung lama, setahun kemudian ia memilih kelas ilmu komputer pada Stanford University dan berhasil menyelesaikannya. Pada 1996, Acton bergabung bersama Yahoo, dan menjadi karyawan ke-44 dari Yahoo.


Kedua sosok itu pertama kali bertemu kala Koum menghadiri wawancara kerja sebagai systems security di Yahoo pada 1997 silam. Kebetulan, Acton yang lebih dahulu masuk jadi pewawancara. Selepas bertahun-tahun kerja di Yahoo, pada hari yang sama, tepatnya di tanggal 31 Oktober 2007, Koum dan Acton mengundurkan diri dari perusahaan itu.

Kedua orang ini punya andil dalam memunculkan WhatsApp pada Mei 2009, hingga sukses sampai sekarang. Kuncinya ternyata pada Erlang, bahasa pemrograman yang hampir dilupakan di dunia teknologi masa kini. Dalam wawancara khusus dengan Cade Metz dari Wired, Brian Acton menyatakan keputusan menggunakan Erlang karena kuat dan solid, bahasa pemrograman yang baik untuk industri. Acton menganggap Erlang adalah bahasa pemrograman yang “dirancang mendekati komunikasi real-time.”

David Rowan, dalam tulisannya yang terbit di Wired, menyatakan bahwa salah satu motivasi pembuatan WhatsApp karena Koum ingin menciptakan komunikasi berbasis ponsel yang demokratis. Selain itu, iklan jadi salah satu yang dihindari WhatsApp. Koum memang membenci iklan. Cuitan pertamanya di Twitter dengan gamblang mengungkapkan “iklan membuat kita mengejar mobil dan pakaian, hingga membuat kita mau bekerja pada sesuatu yang tidak disukai hanya untuk membeli omong kosong yang tidak dibutuhkan,” kata Koum pada Agustus 2011 silam.

Sehingga untuk melangsungkan hidup WhatsApp, layanan pesan instan ini mula-mula membebankan biaya bagi pengguna. Bagi versi iPhone, pengguna diwajibkan membayar $0,99 di awal pemasangan. Pada Android, pengguna wajib membayar $0,99 usai setahun tahun pemakaian. Pada Januari 2016, WhatsApp menghapus ketentuan ini, penggguna WhatsApp boleh menggunakan secara gratis.

WhatsApp merupakan pesan instan yang sederhana, bila pesan instan lain mengharuskan pengguna menciptakan username, WhatsApp menggunakan nomor ponsel untuk login. Kesederhanaan WhatsApp juga nampak melalui ukuran file instalasi aplikasi ini. Di iOS misalnya, ukuran file instalasi WhatsApp sebesar 99,2MB. Bandingkan dengan Line yang mencapai 176MB, dan WeChat 137MB.



Salah satu penyebabnya karena WhatsApp tak banyak menawarkan fitur-fitur yang menampilkan “gimmick" seperti tak ada fitur sticker di WhatsApp. Padahal, Line, aplikasi pesan instan yang menyediakan sticker, meraup pendapatan hingga $268 juta dari jualan fitur itu. Namun, kesederhanaan ini malah jadi kekuatan WhatsApp. Ia ringan digunakan dan mendukung hampir segala sistem.

Selain kesederhanaan, WhatsApp sukses meraup pendanaan. Pada Oktober 2009, WhatsApp memperoleh dana $250 ribu. Pada April 2011 dan Juli 2013, WhatsApp memperoleh investasi $8 juta dan $52 juta dari Sequoia Capital. Kemudian durian runtuh akhirnya tiba pada WhatsApp, pada 19 Februari 2014, Facebook mengakuisisi startup ini sebesar $19 miliar. Pasca akuisisi ini membuat perusahaan yang memiliki 50 teknisi pada 2013 bisa “mengambil keuntungan dari jaringan infrastruktur global Facebook,” cetus Acton.

“Facebook telah melakukan investasi signifikan di bidang infrastruktur yang bagi perusahaan kecil sesuatu yang sukar dilakukan. Kami terus belajar dan mengadopsi teknologi Facebook setiap hari,” kata Acton.

Baca juga artikel terkait WHATSAPP atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra
DarkLight