22 Maret 1993

Rahasia Intel Pentium jadi Prosesor Terlaris

Oleh: Ahmad Zaenudin - 22 Maret 2018
Dibaca Normal 3 menit
Iklan menggugah.
Propaganda sebuah
prosesor murah.
tirto.id - Luthfi Rahinal Amanat (25) berbunga-bunga suatu kali di tahun 2000. Pada tahun itu, saat masih duduk di bangku sekolah dasar, ia memperoleh komputer pertamanya. Luthfi ingat betul komputernya memiliki RAM sebesar 128MB, VGA 8MB, kapasitas penyimpanan berbasis hard disk sebesar 40GB, dan, tentu saja, Intel Pentium 3 berkekuatan 1,4GHz sebagai prosesor.

“Senang, bisa main Solitaire,” katanya mengingat PC pertamanya itu.

Komputer yang dimiliki Luthfi merupakan komputer rakitan. Di zaman sebelum notebook bisa dimiliki hampir semua orang, merakit merupakan sesuatu yang menyenangkan sekaligus mendebarkan. Setiap orang punya setelan dan spesifikasi masing-masing atas PC rakitan. Kuat atau lemahnya komputer hanya ditentukan dana si pemilik. Yang menarik, dalam tiap perakitan PC, prosesor buatan Intel banyak jadi pilihan. Di zaman Luthfi, prosesor buatan Intel itu ialah Pentium.

Pentium 3, seperti yang dimiliki Luthfi, merupakan generasi lanjutan dari brand prosesor Pentium dari Intel.

Pentium generasi pertama lahir pada 22 Maret 1993, tepat hari ini 25 tahun lalu. Pentium berarti “lima”— merujuk pada arsitektur prosesor generasi kelima yang dibuat Intel.

Pada permulaan, Intel sebenarnya tak hendak memberi nama Pentium. i586 adalah pilihan awal. Sayangnya, mengikuti aturan, angka tidak dapat dijadikan merek dagang. Merujuk laman Toms Hardware, Intel lalu menggandeng Lexicon Branding, firma pemasaran yang melahirkan logo bagi Apple PowerBook, BlackBerry, hingga Adobe InDesign. Pentium lantas dipilih sebagai nama produk.


Pentium generasi pertama adalah prosesor yang memiliki 3,1 juta transistor—meningkat dari 1,2 juta transistor pada pendahulunya, prosesor Intel 80486—dan memiliki clock speed antara 60 hingga 66 MHz. Ia juga merupakan prosesor berarsitektur superskalar x86 pertama yang diproduksi Intel. Superskalar ialah istilah yang merujuk pada prosesor yang mampu melakukan banyak instruksi di setiap siklusnya. Sementara x86 alias 80x86 adalah nama bagi rancangan arsitektur yang dikembangkan perusahaan ini. Intel menciptakan Pentium dengan teknologi 800 nanometer.

Menambang Untung dari Pentium

Di awal peluncurannya, Intel Pentium dijual dengan harga $878 untuk versi 60 MHz dan $964 untuk versi 66 MHz. Majalah Computerworld (8/2/1993) melaporkan, prosesor baru dari Intel tersebut diprediksi hanya akan dikapalkan sejumlah 200 ribu unit. Sebuah prediksi yang terbilang kecil. Sebagai perbandingan, AMD, produsen pembuat prosesor pesaing Intel, menjual 3,15 juta prosesor 386 dari Januari hingga Maret 1993.

Arsip The New York Times menyebut bahwa Pentium memberi banyak keuntungan finansial untuk Intel. Pada 1994, hampir setahun selepas Pentium dirilis, Intel berencana memproduksi 6 hingga 7 juta prosesor Pentium. Angka itu setara dengan 25 persen pengapalan PC di kuartal ke-4 tahun tersebut.

Pada kuartal ke-2 1994, Intel mengklaim memperoleh laba bersih sebesar $640 juta atas penjualan Pentium. Meningkat dari laba bersih sebesar $569 di kuartal yang sama setahun sebelumnya.


Dalam laman EDN Network disebutkan, Pentium pertama kali dikembangkan pada 1989. Rencananya, prosesor itu akan menjadi salah satu bahan pameran di PC Expo yang digelar pada pertengahan 1992, lalu diluncurkan secara resmi di bulan September tahun yang sama. Sayangnya, Intel gagal mewujudkan mimpi itu. Hampir setahun berselang, Pentium baru dapat diluncurkan.

Sesungguhnya, Pentium lahir bukan tanpa cela. “Pentium Flaw” merupakan cela paling terkenal pada generasi pertama prosesor ini. Cela tersebut muncul dari kesalahan pembagian pada salah satu segmen di antara 3,1 juta transistor. Intel kemudian melakukan recall pada prosesor buatannya itu dan membuatnya menanggung biaya sebesar $475 juta.


Meski begitu, Pentium terbilang sukses. Selepas lahirnya Pentium generasi pertama, Intel memperbarui lini ini menjadi pentium Pro pada November 1995, Pentium 2 pada Mei 1997, Pentium 3 pada Juli 2000, dan Pentium 4 pada November 2000.

Mantra "Intel Inside"

Intel merupakan perusahaan teknologi yang dirintis Bob Noyce dan Gordon Moore pada 1968. Masing-masing pendiri menyumbang modal $245 ribu untuk membangun perusahaan yang awalnya bernama NM Electronics. Mereka lantas membayar $15 ribu pada perusahaan bernama Intelco untuk menggunakan nama “Intel”.

Intel 3101, sebuah komponen RAM statis, merupakan produk pertama mereka. Kemudian, pada November 1971, Intel meluncurkan prosesor pertama bernama Intel 4004. Itu merupakan prosesor 4-bit yang memiliki 2.300 transistor di dalamnya.

Infografik Pentium


Lambat laun, Intel memperoleh kesuksesan. Pada 1991, atas penjualan prosesor seri Intel 286, 386, dan 486, Intel memperoleh pendapatan sebesar $4,8 miliar dan untung bersih $819 juta. Selain digunakan untuk mengembangkan produk, pendapatan tinggi Intel pun dimanfaatkan untuk melakukan strategi pemasaran. Strategi pemasaran Intel yang paling fenomenal ialah “Intel Inside.”


“Intel Inside” merupakan strategi pemasaran yang mahal dan salah satu yang tersukses.
Donald G. Norri dalam papernya di Journal of Business & Industrial Marketing (Vol. 8, 1993) berjudul “‘Intel Inside’: Branding A Component In A Business Market” mengatakan bahwa strategi "Intel Inside" berawal dari “The Computer Inside” yang mulai digunakan sebagai materi iklan pada November 1991. Pada tahun itu, hanya untuk menjangkau langsung konsumennya, Intel mengalokasikan dana lebih dari $14 juta guna menggembar-gemborkan "The Computer Inside".

Setahun selepasnya, Intel mengucurkan dana sebesar $250 juta untuk mempopulerkan “Intel Inside”. Uang itu digunakan untuk berpromosi di ranah konvensional, seperti televisi maupun cetak, hingga menjalin kerjasama dengan para produsen pembuat komputer. Dari data yang dipaparkan Norri, Intel telah bekerjasama dengan hampir 300 produsen komputer agar menempelkan logo “Intel Inside” di cangkang komputer mereka.


Dalam penuturan Norri, kesuksesan “Intel Inside” setidaknya terjadi atas tiga faktor. Pertama, ia sukses menghipnotis masyarakat bahwa prosesor buatan Intel berharga murah. Kedua, “Intel Inside” dapat sukses tak lain lantaran kurangnya pengetahuan masyarakat atas komputer itu sendiri. Ini mengakibatkan mudahnya meniupkan informasi yang dikehendaki Intel pada masyarakat tentang produk buatannya. Terakhir, promosi tersebut sukses karena Intel berhasil meyakinkan konsumen bahwa prosesor buatan mereka akan mampu mengakomodasi perangkat lunak yang ada di masa itu hingga masa depan.

Tiga propaganda Intel itu sukses membuat “Intel Inside” bergema di kepala orang banyak. Ini membuat Pentium hingga seri-seri prosesor berikutnya dari Intel sukses di pasaran.

Baca juga artikel terkait PROSESOR atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Ivan Aulia Ahsan