Ragam Polusi & Air Langka: Alasan untuk Hengkang dari Jakarta

Infografik Alasan untuk Hengkang dari Jakarta
Pemandangan Monumen Nasional dengan latar belakang gedung bertingkat yang diselimuti asap polusi di Jakarta, Senin (29/7/2019). ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/ama.
Oleh: Aditya Widya Putri - 9 Agustus 2019
Dibaca Normal 3 menit
Ibu kota memang menyediakan lapangan kerja, tapi kondisinya tak baik bagi raga para warganya.
tirto.id - Jika tinggal di Jakarta, atau sebagian besar kota besar di Jawa, pagi Anda akan dibuka dengan riuh suara klakson dan kemacetan yang ada di setiap ruas jalan, seakan semua orang ingin bergerak cepat. Malamnya, setelah melewati situasi serupa, Anda berniat leyeh-leyeh di beranda rumah, minum teh sambil melihat bintang. Namun, yang ada ternyata cuma polusi cahaya.

Minggu lalu, saya pergi ke dokter spesialis penyakit dalam usai melakukan foto Rontgen. Tak ada keluhan khusus saat bertandang ke sana, hanya bagian dari cek kesehatan rutin saja. Dokter mempersilakan saya duduk sambil memegang hasil ronsen paru-paru dan menempelkannya di sebuah kotak yang bersinar. Dahinya mengernyit, menanyakan riwayat kesehatan saya.

“Naik motor?” tanyanya. Saya mengangguk.

“Oh, ini parunya sedikit kotor, biasa permasalahan umum orang Jakarta, kena polusi,” kata si dokter. Pertemuan kami diakhiri dengan saran untuk menggunakan masker setiap saya berada di luar ruangan. Ia juga meresepkan antioksidan untuk diminum selama sebulan.


Selama perjalanan pulang, saya kembali memikirkan cita-cita masa kecil untuk pergi meninggalkan ibukota. Saat bayangan kemudahan dan kemegahan Jakarta dibangun di atas mimpi-mimpi para pendatang. Saya hanya melihat wajah Jakarta yang semakin tidak ramah bagi para penghuninya. Maka, saya pun bertekad tak hendak menua di kota ini.

Ada beberapa hal yang jadi pertimbangan bagi saya—dan mungkin Anda—untuk segera hengkang dari Jakarta. Pertama, soal kualitas udara yang baru-baru ini ramai diperbincangkan. Kota metropolitan ini masuk di posisi 22 kota paling berpolusi (udara) di dunia. Pada Sabtu (3/8/2019) AQI Jakarta mencapai angka 152 dengan konsentrasi polusi PM2.5 sebesar 57.5 µg/m³; dua kali lipat lebih tinggi dari batas udara bersih versi Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Organisasi tersebut menetapkan ambang batas normal untuk kandungan polusi PM2.5 adalah 25 mikrogram/m³. Sementara itu, ambang batas normal polusi PM2.5 yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup adalah 65 mikrogram/m³. Mobilitas masyarakat perkotaan yang semakin kompleks dan dinamis mempengaruhi perubahan lingkungan, termasuk menjadi faktor buruknya kualitas udara di kota besar.

“Gas emisi kendaraan bermotor merupakan salah satu sumber polusi udara tertinggi di Jakarta,” kata dokter spesialis paru, Agus Dwi Susanto.


Paparan polutan berbahaya seperti gas emisi dan partikel debu jalanan adalah konsekuensi bagi masyarakat atas tingginya jumlah kendaraan bermotor di perkotaan. Guna mengurangi dampak kesehatan yang ditimbulkan dari polusi udara itu, Agus menyarankan warga Jakarta menggunakan respirator dan masker. Di kota besar yang penuh polutan, penggunaan respirator dan masker idealnya menjadi kebiasaan untuk perlindungan harian.

"Respirator dan masker harus memiliki filtrasi debu, kotoran dan partikel, digunakan baik di dalam maupun luar ruangan," pungkasnya.

Polusi udara tak cukup jadi satu-satu alasan bagi Anda untuk pergi meninggalkan ibukota. Masih ada alasan selanjutnya yang membikin Jakarta tak cocok jadi hunian idaman; polusi suara dan cahaya.

Di Jakarta, jamak kita mendapati orang-orang yang terlalu mudah memencet klakson kendaraan, saat macet, ketika lampu lantas masih berwarna kuning, memperingati kendaraan atau pejalan kaki. Polusi suara itu belum juga ditambah bisingnya mesin-mesin pembangunan. Cukup berisik untuk membikin masalah pendengaran dan masalah kesehatan lain.


Studi dari Thomas Münzel, dkk. yang dimuat Journal of The American College of Cardiology (2018) menyimpulkan bahwa paparan suara bising pada orang dan hewan memengaruhi peningkatan risiko gagal jantung. Suara keras juga dikaitkan dengan irama jantung tak teratur, darah tinggi, kolesterol, hingga gula darah. Ternyata, suara bising membikin hormon stres melonjak dan memengaruhi beragam risiko penyakit tersebut.

Jakarta juga termasuk kota memiliki tingkat polusi cahaya tinggi. Sky glow atau cahaya yang dipancarkan dari lampu penerangan di kota akan membentuk kubah di atmosfer. Kubah tersebut menutupi langit di malam hari, sehingga membikin bintang sulit terlihat. Aktivitas astronomi, reproduksi dan migrasi hewan bisa terganggu akibat kondisi ini. Pada manusia, polusi cahaya berakibat pada gangguan tidur.

“Gangguan pola tidur akan mengakibatkan daya tahan tubuh menurun. Lebih kompleks memicu gangguan jantung, sistem darah, diabetes, dan obesitas,” ungkap Andreas Prasadja, dokter ahli di bidang sleep physician, dikutip dari Antara.


Kelangkaan Air

Oke, mungkin tiga alasan di atas tak cukup membuat Anda berpikir untuk pindah dari Jakarta, karena yah, toh kita masih bisa hidup—dengan tidak berkualitas—di kota penuh polutan. Namun, bagaimana dengan langkanya ketersediaan air?

Sudah semenjak tahun 2000, World Water Forum II di Denhaag memproyeksikan kelangkaan air dunia yang akan terjadi pada tahun 2025. Meski air merupakan sumber daya alam yang bisa diperbarui, tak semua jenis air di dunia bisa dikonsumsi. Air tawar hanya berjumlah sekitar tiga persen dari jumlah total air dunia.



Sebanyak 2 persen dari total air tawar dunia berada di kutub utara dan selatan, dalam bentuk glesyer. Air tawar pada tanah dan permukaan—yang bisa digunakan penduduk dunia—hanya mengambil porsi sebanyak 1 persen dari total air. Sebanyak 97 persen air di dunia merupakan air laut yang tidak bisa dikonsumsi. Jika melihat hitungan ini, proyeksi terhadap kelangkaan air terasa sangat masuk akal.

Baru-baru ini, BBC Indonesia menerbitkan laporan soal prediksi kelangkaan air di Pulau Jawa di tahun 2040 nanti. Laporan tersebut mengutip kajian lain yang dikeluarkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Kabarnya akan ada 150 juta penduduk di pulau Jawa kesulitan mendapat sumber air bersih, bahkan sekadar untuk makan atau minum.

“Faktor pemicunya mulai dari perubahan iklim, pertambahan penduduk sehingga air diambil secara besar-besaran, hingga alih fungsi lahan,” demikian ringkasan laporan tersebut.


Indonesia punya ketersediaan air cukup banyak, sekitar 15.000 meter kubik per kapita per tahun. Jumlah tersebut masih di atas rata-rata dunia yang hanya 8.000 meter kubik per kapita per tahun. Namun, faktanya proporsi ketersediaan air tidak merata di tiap daerah. Jawa dan Bali hanya punya 7 persen total ketersediaan air nasional. Padahal, pulau ini dihuni lebih dari 60 persen penduduk Indonesia.

Nusa Tenggara menjadi daerah yang paling sedikit ketersediaan airnya, sebesar 2 persen air nasional. Jumlah air justru melimpah di Pulau Sumatera (25 persen), Kalimantan (28 persen), dan Papua (28 persen). Lalu bagaimana dengan Jakarta?

Proyeksi PBB yang dilaporkan dari artikel lain di BBC menyebut, pada 2030 nanti, kebutuhan air tawar di dunia 40 persen akan lebih besar dari ketersediaan. Khusus di Jakarta, cadangan air tanah di kota ini berkurang drastis lantaran praktik penggalian sumur secara tidak sah, penggunaan air secara besar-besaran, kenaikan permukaan air laut, dan tidak adanya daerah resapan air hujan akibat tutupan beton dan aspal.

Jakarta masuk dalam 11 besar kota dunia paling terancam krisis air. Ia menempati urutan kelima setelah São Paulo, Brazil; Bangalore, India; Beijing, Cina; dan Kairo, Mesir. Hanya perlu menunggu 10 tahun lagi bagi kita untuk melihat wajah Jakarta yang makin penuh polusi dan kering—jika tak ada tindakan apa-apa.

Baca juga artikel terkait POLUSI JAKARTA atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight