Menuju konten utama

Putri Michael Minta Maaf Gunakan Bros 'Rasis' Blackamoor

Blackamoor kini dianggap sebagai lambang perbudakan kulit hitam.

Putri Michael Minta Maaf Gunakan Bros 'Rasis' Blackamoor
Putri Michael dari Kent. FOTO/wikipedia.com.

tirto.id - Putri Michael dari Kent meminta maaf kepada publik setelah mengenakan bros "rasis" blackamoor saat menghadiri acara makan siang menyambut Natal di Istana Buckingham. Acara itu juga dihadiri oleh tunangan Pangeran Harry, Meghan Markle yang merupakan keturunan Afrika-Amerika.

Putri yang menikah dengan sepupu Ratu Elizabeth II itu tampak mengenakan bros menggambarkan sosok berkulit hitam. Dia kemudian dikritik secara online karena memakai perhiasan yang dinilai rasis.

Dikutip dari The Independent, blackamoor memiliki sejarah yang kompleks. Blackamor pernah menjadi tanda kemewahan dan dianggap sebagai tanda kehormatan kepada orang-orang Afrika. Namun kini dianggap berkonotasi rasis dan perhiasan yang berasal dari Venesia pada abad ke-16 itu melambangkan perbudakan.

Juru bicara kerajaan mengatakan bahwa dia sangat menyesal karena mengenakan barang itu, yang menurutnya merupakan hadiah yang sering dia pakai tanpa masalah.

"Bros itu adalah hadiah dan telah sering dipakai sebelumnya. Putri Michael sangat menyesal dan tertekan bahwa telah menyebabkan pelanggaran,” kata juru bicara itu kepada The Guardian.

Ini bukan pertama kalinya sang putri dituduh melakukan rasisme. Pada tahun 2004, dia dilaporkan menginstruksikan pelanggan Amerika Afrika di restoran New York untuk "kembali ke koloni" karena sikap sang pelanggan yang dianggap kurang sopan saat makan.

Sang putri, yang ayahnya adalah seorang perwira SS, membantah kejadian tersebut beberapa bulan kemudian dalam sebuah wawancara dengan ITV.

Selain Putri Michhael, rumah desain Italia Dolce dan Gabbana pernah dikecam karena menunjukkan anting yang terinspirasi oleh Blackamoor sebagai bagian dari koleksi Spring 2013 mereka.

Baca juga artikel terkait RASISME atau tulisan lainnya dari Yantina Debora

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Yantina Debora
Penulis: Yantina Debora
Editor: Yantina Debora