Puluhan Ribu Massa Rayakan Pemakzulan Presiden Park

Oleh: Ign. L. Adhi Bhaskara - 11 Desember 2016
Puluhan ribu warga Korea Selatan merayakan keberhasilan mereka dalam mendesak parlemen untuk memakzulkan Presiden Park Geun-Hye melalui aksi yang digelar di Seoul pada hari Sabtu.
tirto.id - Setelah berhasil mendesak parlemen untuk memakzulkan Presiden Park Geun-Hye, puluhan ribu warga Korea Selatan merayakannya dalam aksi yang digelar di Seoul, Korea Selatan, pada Sabtu (10/12/2016), meski kemarahan dan kecemasan terhadap prospek ketidakpastian politik yang lebih panjang masih tersisa di tengah euforia itu.

Untuk tujuh pekan secara berturut-turut, para pengunjuk rasa berkumpul di jalanan ibu kota, kali ini dalam suasana yang meriah, setelah anggota parlemen pada Jumat kemarin memilih untuk memakzulkan Park karena skandal korupsi yang menyentuh namanya, demikian seperti dikutip dari kantor berita Antara.

Meski langkah tersebut membuat Park kehilangan kekuasaan substansialnya, para aktivis mengatakan bahwa mereka berupaya untuk terus menekan. Proses pemakzulan masih membutuhkan persetujuan akhir dari Mahkamah Konstitusi, sebuah proses yang bisa memakan waktu hingga berbulan-bulan.

Banyak orang yang bersikeras bahwa Presiden Park harus segera mengundurkan diri dan menghadapi tuntutan pidana.

"Kami masih lapar" teriak kerumunan di Seoul Gwanghwamun, mereka juga menyanyikan bersama-sama lagu Natal yang liriknya diubah menjadi "Setelah dia keluar, akankah menjadi Merry Christmas."

Para penyelenggara unjuk rasa tersebut menyatakan sekitar 600.000 orang terlibat dalam aksi itu, berkurang dari pekan sebelumnya yang melewati angka satu juta.

Saat ini, kekuasaan Park ditangguhkan dan ia tetap menyandang gelar presiden. Meski demikian, Park masih memiliki pendukung, di mana banyak dari mereka merupakan para orang tua yang menjadi pengagum ayahnya, mendiang diktaktor militer Park Chung-Hee.

Sementara itu, dalam sebuah aksi pada Sabtu, para pendukung Park melambai-lambaikan bendera nasional, dan membawa spanduk bertuliskan "Presiden Park, Jangan menangis" dan "Batalkan Pemakzulan."

Park dimakzulkan karena sejumlah tuduhan pelanggaran konstitusi dan pidana, mulai dari kegagalan untuk melindungi kehidupan masyarakat, suap, dan penyalahgunaan kekuasaan, demikian dikutip dari laporan AFP.

Baca juga artikel terkait POLITIK atau tulisan menarik lainnya Ign. L. Adhi Bhaskara
(tirto.id - Politik)

Reporter: Ign. L. Adhi Bhaskara
Penulis: Ign. L. Adhi Bhaskara
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight