Puisi Paskah Ulil Abshar yang Disoal MUI Mengajak Dialog Antar-Iman

Oleh: Zakki Amali - 17 April 2020
Dibaca Normal 3 menit
Ulil Abshar Abdalla mengklarifikasi 'Puisi Paskah' tidak membahayakan akidah umat muslim; dari puisinya, pembaca diajak belajar makna pengorbanan Yesus.
tirto.id - Tujuh tahun lalu, intelektual muslim Ulil Abshar Abdalla mencuit pemikirannya lewat medium Twitter. Rangkaian cuitannya disatukan oleh warganet dalam struktur puisi yang digemari oleh umat Kristen dan Katolik dalam setiap peringatan Paskah. Ia tak mengira sekarang puisinya jadi polemik.

‘Puisi Paskah’ karya Ulil tertera dalam medium YouTube, yang diunggah warganet pada Hari Paskah, 12 April. Diiringi alunan denting piano, ada tiga remaja muslim berdeklamasi dengan puisi itu selama 2.51 menit.

Video itu telah ditonton lebih dari 10.000 kali, sebagian mungkin karena ada polemik dan hoaks setelahnya.

Ada hoaks beredar bahwa stasiun televisi negara TVRI memutar video ‘Puisi Paskah’ saat jeda program ‘Belajar dari Rumah’. Manajemen TVRI memastikan tidak ada penayangan video tersebut.

Bantahan TVRI tidak menyurutkan polemik. Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memberikan pernyataan.

Komentar MUI fokus pada isu teologi (ketauhidan), yang menilai video puisi itu "mengganggu hubungan lintas iman" karena ada atribut busana muslim, seperti dikutip kepada Republika.

Ada dua remaja putra dan dua putri dalam video. Remaja putra mengenakan kopiah hitam dengan bordir motif lambang Nahdlatul Ulama berupa bola dunia; model kopiah itu banyak dijumpai di pasaran. Pengurus PBNU menyebut video 'Puisi Paskah' bukan buatan ormas Islam besar Indonesia.

Penjelasan Ulil Abshar

Ulil, yang telah lama menggeluti isu Keislaman melalui studi-studi kritisnya, akhirnya buka suara setelah menerima banyak pertanyaan mengenai duduk perkara video 'Puisi Paskah'.

Penjelasan sepanjang sembilan halaman yang dikonfirmasi dari Ulil memaparkan landasan pemikirannya dalam 'Puisi Paskah'.

Menurut Ulil, 'Puisi Paskah' semula berupa teks yang beredar sekitar dua tahun lalu dan secara teratur viral tatkala Paskah. Ia menyebut dorongan menulis puisi dengan ‘penghayatan’ mendalam datang secara tiba-tiba pada suatu pagi.

“Saya, sejak usia muda, saat menjadi aktivis di era 90-an dahulu [..] sudah berminat untuk mempelajari dan mengapresiasi tradisi keagamaan dari agama-agama dan kepercayaan di luar Islam [..] Agama Kristen dan Yahudi termasuk di antara dua agama yang paling menarik perhatian saya,” katanya, Rabu (15/4/2020).

“Saya bahkan sengaja belajar bahasa Ibrani secara khusus agar bisa membaca kitab Torah dalam bahasa aslinya, meskipun masih grothal-grathul, belum lancar,” lanjutnya.

Ulil mengapresiasi video remaja yang membaca puisinya. Perbedaan pendapat baginya akan menyehatkan kehidupan sosial.

Menanggapi logo NU dalam kopiah yang dikenakan remaja laki-laki, Ulil menyamakannya dengan tindakan Riyanto, anggota Bantuan Serbaguna Ansor, organisasi sayap NU, yang menjaga gereja pada malam Natal 2000. Riyanto meninggal karena ledakan bom saat menyelamatkan Gereja Eben Haezer di Mojokerjo, Jawa Timur.

“Apa yang dilakukan santri cilik ini setara nilainya dengan keberanian Banser NU menjaga gereja saat Natal yang sudah berlangsung beberapa tahun, dan direstui oleh Gus Dur [KH Abdurrahman Wahid],” ujar Ulil.


Mendorong Dialog Antar-Iman

Lahir dari keluarga tekun mendalami Islam secara tradisional di satu desa di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, 53 tahun silam, Ulil Abshar Abdalla menempuh S2 dan S3 bidang perbandingan agama di Universitas Boston, Amerika Serikat.

Pada awal milenium kedua, Ulil menulis artikel berjudul "Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam", yang memancing kontroversi, bahkan ancaman pembunuhan dari Forum Ulama Umat Islam Indonesia, organisasi yang didirikan oleh ulama Jawa Barat yang mendesak tujuan syariat Islam di Indonesia. Pada 2011, Ulil pernah diteror bom buku.

Pada fase itu, Ulil tengah bersemangat dalam studi pemikiran Islam dan, bersama para kolega satu pemikiran, membentuk lembaga kajian bernama Jaringan Islam Liberal (JIL).

Saat masa itulah 'Puisi Paskah' lahir sekitar tahun 2013, setidaknya ditandai ada nada ‘gugatan’ pada pemahaman Islam yang mapan yang terwakili dalam salah satu bait puisinya: “Penyakitmu, wahai kaum beriman: Kalian mudah puas diri, pongah jumawa, bagai burung merak. Kalian gemar menghakimi!

Beberapa tahun terakhir pendekatan Keislamannya boleh jadi berubah. Sejak 2017, Ulil menggalang pengajian virtual setiap bulan Ramadan. Ia tak punya santri seperti lazimnya pengajian yang digelar di pesantren, tapi ‘santri vitual’ menantikannya, ulasannya bertumpu dari Ihya Ulumuddin, kitab yang populer di kalangan Islam tradisional.

Komentar atas puisi itu oleh seorang tokoh Islam di Yogyakarta masih melekatkan Ulil pada label lamanya seorang "pemikir liberal" Islam sehingga puisinya dianggap "berbahaya bagi akidah umat Islam".

Komentar itu dianggap Ulil hal bagus karena menghidupkan diskusi mengenai Islam. Dengan tenang, Ulil juga menampik tudingan puisinya "berbahaya bagi akidah".

“Dalam masalah akidah, pembeda paling penting dalam hubungan Islam-Kristen adalah pandangan tentang sosok Yesus atau Nabi Isa. Seorang Muslim mempercayai Yesus sebagai nabi sebagaimana nabi-nabi yang lain, meskipun nabi dengan kedudukan yang amat spesial; sementara umat Kristen meyakini ketuhanan Yesus,” katanya.

Menurut Ulil, selama seorang muslim berpegang pada keyakinan bahwa Yesus adalah Nabi Isa, memahami puisinya akan memperoleh pembelajaran atas penderitaan dan pengorbanan saat Yesus disalib. Dalam bait terakhir puisinya makna pengorbanan ia sebut, “[...] membuatku cinta pada yang dinista.”



Berikut puisi Ulil Abshar Abdalla selengkapnya:

Puisi Paskah

Ia yang rebah, di pangkuan perawan suci
Bangkit setelah tiga hari, melawan mati.

Ia yang lemah, menghidupkan harapan yang nyaris punah.

Ia yang maha lemah, jasadnya menanggungkan derita kita.
Ia yang maha lemah, deritanya menaklukkan raja-raja dunia.

Ia yang jatuh cinta pada pagi, setelah dirajam nyeri.
Ia yang tengadah ke langit suci, terbalut kain merah kirmizi:"Cintailah aku!"

Mereka bertengkar tentang siapa yang mati di palang kayu.
Aku tak tertarik pada debat ahli teologi.
Darah yang mengucur itu lebih menyentuhku.

Saat aku jumawa dengan imanku
Tubuh nyeri yang tergeletak di kayu itu, terus mengingatkanku:
Bahkan Ia pun menderita, bersama yang nista.

Muhammadku, Yesusmu, Krisnamu,
Buddhamu, Konfuciusmu--
Mereka semua guru-guruku Yang mengajarku tentang keluasan dunia, dan cinta.

Penyakitmu, wahai kaum beriman:
Kalian mudah puas diri, pongah
Jumawa, bagai burung merak.
Kalian gemar menghakimi!

Tubuh yang mengucur darah di kayu itu, bukan burung merak.
Ia mengajar kita, tentang cinta, untuk mereka yang disesatkan dan dinista.

Penderitaan kadang mengajarmu tentang iman yang rendah hati.
Huruf-huruf dalam kitab suci, kerap membuatmu merasa paling suci.

Ya, Yesusmu adalah juga Yesusku.
Ia telah menebusku dari iman yang jumawa dan tinggi hati.
Ia membuatku cinta pada yang dinista!


Baca juga artikel terkait JARINGAN ISLAM LIBERAL atau tulisan menarik lainnya Zakki Amali
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Zakki Amali
Penulis: Zakki Amali
Editor: Abdul Aziz
DarkLight