Menuju konten utama

Bacaan Niat Puasa Muharram: Jadwal, Hukum, Dalil, dan Amalan

Puasa sunah Muharam, yaitu puasa Tasua (9 Muharam) dan Asyura (10 Muharam) hukumnya sunah. Berikut bacaan niat puasa Muharam.

Bacaan Niat Puasa Muharram: Jadwal, Hukum, Dalil, dan Amalan
Ilustrasi Salat. foto/istockphto

tirto.id - Puasa tasua dan Asyura termasuk amalan sunnah yang dianjurkan pada bulan Muharam. Kedua puasa ini hukumnya sunah. Tahun ini, jadwal puasa tasua (9 Muharam) bertepatan dengan 7 Agustus 2022 sedangkan puasa Asyura (10 Muharam) pada 8 Agustus 2022.

Puasa tasua dan Asyura sifatnya sunah, yang maknanya, dianjurkan untuk dikerjakan seorang muslim demi mendapatkan keutamaan, tetapi jika tidak dilakukan, tidak apa-apa.

Sejarah Puasa Tasua dan Asyura

Sebelum datangnya Islam, kaum Quraisy sudah terbiasa melakukan puasa Asyura, yang sesuai namanya (kesepuluh), dikerjakan pada 10 Muharam. Ketika Nabi Muhammad saw. hijrah ke Madinah, kemudian menyaksikan kaum Yahudi setempat juga mengerjakan puasa pada hari tersebut.

Ketika ditanyai oleh Rasulullah, mengapa kaum Yahudi Madinah berpuasa, mereka menjawab, "Ini adalah hari baik, pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israel dari musuh-musuh mereka, Musa berpuasa pada hari ini."

Kaum Yahudi tersebut merujuk pada tradisi turun-temurun, bahwa Nabi Musa mengungkapkan syukur kepada Allah yang membimbing Bani Israel dari kungkungan Firaun Mesir melalui beliau dengan jalan menyeberangi Laut Merah. Nabi Musa berpuasa pada hari tersebut.

Mendengar jawaban ini, Nabi Muhammad saw. bersabda, "aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”.

Beliau lantas berpuasa dan memerintahkan umat Islam juga berpuasa pada hari Asyura. Ajakan puasa Asyura ini berlaku sejak tahun ke-2 Hijriah.

Dalam hadis yang diiriwayatkan dari jalur Aisyah, disebutkan, "Rasulullah saw. memerintahkan berpuasa pada hari Asyura. Dan ketika puasa Ramadan diwajibkan, siapa yang ingin (berpuasa pada hari Asyura) ia boleh berpuasa dan siapa yang ingin (tidak berpuasa) ia boleh berbuka" (H.R. Bukhari).

Terkait puasa Tasua, Nabi tidak sempat mengerjakan puasa tersebut karena sudah berpulang pada 8 Juni 632 M (12 Rabiul Awwal 11 H). Meskipun demikian, beliau sudah menganjurkan umat Islam untuk berpuasa pada 9 Muharam. Tasua sendiri artinya kesembilan.

Diriwayatkan dari jalur Abdullah bin Abbas, Rasulullah berpuasa pada hari Asyura dan menganjurkan umat Islam untuk turut berpuasa. Suatu ketika, mereka berkata, "Ya Rasulullah, ini hari yang dimuliakan oleh orang Yahudi dan Nasrani".

Mendengar jawaban tersebut, Nabi berkata, "Jika aku masih hidup hingga tahun depan, insyaAllah, kita akan berpuasa pada hari kesembilan juga". Namun, Rasulullah meninggal sebelum tahun berikutnya tiba (H.R Muslim 1916).

Terkait keutamaan puasa sunah pada bulan Muharam, puasa tasua dan Asyura disebut sebagai puasa yang paling utama setelah puasa pada bulan Ramadan, yang hukumnya wajib.

Diriwayat dari jalur Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda, "Puasa paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yakni Muharam. Sementara salat paling utama setelah salat fardhu adalah salat malam,".

Selain mengerjakan puasa pada tanggal 9 dan 10, umat Islam juga dapat melakukan amalan-amalan sunah lain selama Muharam. Di antaranya adalah salat sunah, bersedekah pada hari Asyura, membaca surah Al-Ikhlas sebanyak 1.000 kali, dan beberapa amalan lain.

Bacaan Niat Puasa Muharram: Tasua dan Asyura

Menjalankan ibadah puasa Tasu'a dan Asyura pada tanggal 9-10 Muharram perlu didahului dengan niat. Berikut adalah lafal niat puasa Tasua dan puasa Asyura dalam bahasa Arab, yang bisa dibaca pada malam hari atau sebelum terbitnya fajar, dikutip dari laman NU Online.

Bacaan Niat Puasa Tasua

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ التَا سُوعَاء لِلهِ تَعَالَى

Bacaan latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i sunnatit Tasu‘a lillahi ta‘ala.

Artinya, "Aku berniat puasa sunah Tasu‘a esok hari karena Allah SWT."

Bacaan Niat Puasa Asyura

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ ِعَا شُورَاء لِلهِ تَعَالَى

Bacaan latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i sunnati asyura lillahi ta‘ala.

Artinya: "Aku berniat puasa sunah Asyura esok hari karena Allah SWT."

Bacaan Niat Puasa Tasua & Asyura pada Siang Hari

Seperti ibadah puasa sunah yang lain, mengucapkan niat puasa Tasu'a dan Asyura bisa dilakukan ketika fajar sudah terbit atau saat hari sudah siang. Dengan catatan, yang mengerjakan puasa belum melakukan beberapa perkara yang dapat membatalkan, misalnya makan dan minum.

Jika niat puasa Tasua dan puasa Asyura tersebut diucapkan setelah terbitnya fajar, maka lafalnya adalah sebagai berikut.

Puasa Tasua

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ التَا سُوعَاء لِلهِ تَعَالَى

Bacaan latinnya: "Nawaitu shauma hadzal yaumi ‘an ada’i sunnatit Tasu‘a lillahi ta‘ala."

Artinya, "Aku berniat puasa sunah Tasu’a pada hari ini karena Allah SWT."

Puasa Asyura

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ عَا شُورَاء لِلهِ تَعَالَى

Bacaan latinnya: "Nawaitu shauma hadzal yaumi ‘an ada’i sunnati asyura lillahi ta‘ala."

Artinya, "Aku berniat puasa sunah Asyura pada hari ini karena Allah SWT."

Amalan 10 Muharram

Pada Muharam, khususnya pada hari Asyura merupakan momen yang diistimewakan. Pada hari itu, disunahkan berpuasa dan memperbanyak amalan baik lainnya.

Dilansir dari NU Online, berikut ini amalan yang dianjurkan untuk dikerjakan pada hari Ayura, dan secara umum dianjurkan untuk dikerjakan pada Muharam:

  • Memperbanyak salat sunah
  • Berpuasa
  • Menyambung silaturahmi
  • Bersedekah
  • Mandi
  • Memakai celak mata
  • Berziarah kepada ulama (baik yang hidup maupun yang meninggal)
  • Menjenguk orang sakit
  • Menambah nafkah keluarga
  • Memotong kuku
  • Mengusap kepala anak yati
  • Membaca Surat al-Ikhlas sebanyak 1000 kali.

Setiap tanggal 10 Muharam atau hari Asyura, umat Islam dianjurkan untuk berpuasa sunah. Namun, sebenarnya puasa sunah Asyura disyariatkan sebelum kewajiban puasa Ramadan, sebagaimana tergambar dalam hadis yang diriwayatkan Aisyah RA:

"Bahwasanya orang-orang Quraisy pada zaman Jahiliah melakukan puasa Asyura, kemudian Rasulullah SAW memerintahkan agar melakukan puasa Asyura tersebut sampai diwajibkan puasa Ramadan, dan Rasulullah SAW mengatakan:

'Barang siapa yang ingin melakukan puasa Asyura silahkan, dan barang siapa yang tidak ingin melakukannya silahkan berbuka'," (H.R. Bukhari dan Muslim).

Baca juga artikel terkait PUASA SUNNAH MUHARRAM atau tulisan lainnya dari Beni Jo

tirto.id - Sosial budaya
Kontributor: Beni Jo
Penulis: Beni Jo
Editor: Fitra Firdaus
Penyelaras: Yulaika Ramadhani