Seri Pesepakbola Muslim

Puasa Ramadan Sulley Muntari & 'Pembalasan' Jose Mourinho

Oleh: Oryza Aditama - 4 Mei 2020
Dibaca Normal 3 menit
Sebagai pesepakbola muslim, Sulley Muntari tetap menjalankan ibadah puasa Ramadan meskipun sedang melakoni kompetisi.
tirto.id - Sebagai pesepakbola muslim, Sulley Muntari tetap menjalankan ibadah puasa Ramadan meskipun sedang melakoni kompetisi. Prinsip teguh eks gelandang Timnas Ghana ini pernah memantik urusan dengan Jose Mourinho.

Peristiwa tersebut terjadi saat Muntari bermain untuk Inter Milan yang kala itu dibesut Mourinho. Nerazzurri selaku juara bertahan mengawali Liga Italia Serie A 2009/2010 dengan hasil kurang mulus lantaran ditahan imbang Bari 1-1 di kandang sendiri.

Mourinho menurunkan Muntari sebagai starter di laga pembuka yang berlangsung pada bulan Ramadan itu. Namun, sang gelandang dengan cepat ditarik keluar pada menit 29 babak pertama untuk digantikan oleh Mario Balotelli.

Rupanya, The Special One kurang puas dengan penampilan Muntari. Menurut juru taktik asal Portugal ini, pemainnya itu tampil tak maksimal dan terpaksa diganti lebih cepat.

Mou "Salahkan" Ramadan

Usai laga, Mourinho menyebut kondisi fisik dan stamina Muntari kurang prima lantaran bertanding sambil terus berpuasa, ditambah cuaca yang cukup menyengat.

“Muntari mempunyai sedikit masalah yang berkaitan dengan Ramadan. Mungkin dengan suhu sepanas ini tidak cocok buatnya untuk melakukan itu [puasa]," kata Mourinho saat itu, dikutip dari DailyMail.

"Ramadan datang pada saat yang kurang ideal buat pesepakbola untuk bisa bermain maksimal,” tambah pelatih yang memang kerap memicu kontroversi ini.


Kritikan pedas Mou terhadap Muntari dan seolah-olah menyalahkan Ramadan itu tak pelak menuai kecam. Salah satunya datang dari Ketua Komunitas Persatuan Islam Itali, Mohamed Nour Dachcan.

“Saya pikir Mourinho harus sedikit mengurangi bicaranya," tukas Dachcan.

"Seorang pemain yang melaksanakan ibadah tidak akan melemahkannya, kami tahu dari Institut Medis dan Olahraga bahwa stabilitas mental dan psikologis seorang atlet dapat memberi keunggulan di lapangan,” sambungnya.

Pembelaan untuk Muntari juga hadir dari seorang personal trainer pemain bernama Stefano Tirelli. Ia menilai, gelandang Ghana itu sanggup beradaptasi meskipun tengah menjalani ibadah puasa Ramadan.

“Tidak semua orang bereaksi dengan cara yang sama terhadap pantangan serta perubahan kebiasaan selama Ramadan,” tandas Tirelli.

“Beberapa atlet sangat menderita dan hanya punya sedikit energi saat latihan dan pertandingan. Namun sebagian yang lain berdasar karakter, emosi, dan genetik mereka mampu tetap mempertahankan performa, Muntari adalah salah satunya,” imbuhnya.

Ditepikan Gara-gara Puasa?

Bukan Mourinho namanya jika tak kukuh mempertahankan apa yang ia yakini benar. Walaupun menuai kritik, mantan pelatih Chelsea dan FC Porto ini tetap melakukan 'pembalasan' terhadap Muntari.

Sejak insiden kontra Bari di pekan pertama, Mou tidak memainkan Muntari sejak menit awal, bahkan benar-benar menepikan sang pemain, di beberapa laga berikutnya.

'Hukuman' untuk Muntari diberikan Mourinho di laga pekan ke-2 melawan rival sekota, AC Milan. Nama Muntari tidak tercantum sebagai starting line-up di pertandingan tandang itu.

Di duel derby tersebut, Muntari baru dimasukkan pada menit 60 untuk menggantikan Thiago Motta, dalam kedudukan 0-3 untuk keunggulan La Benamata. Inter pun menuntaskan pertandingan dengan kemenangan 0-4 atas tuan rumah.

Muntari lagi-lagi harus memulai laga dari bangku cadangan di pekan berikutnya kala menjamu Parma di Stadion Giuseppe Meazza. Dalam situasi tanpa gol, pemain bernama lengkap Suleyman Ali Muntari menggantikan Patrick Vieira di menit 70.

Masuknya Muntari tenyata membawa berkah bagi Inter Milan. Belum semenit ia menginjakkan kaki di lapangan, tuan rumah unggul 1-0 lewat gol Samuel Eto'o.

Gol Diego Milito jelang laga usai membuat skor akhir menunjukkan angka 2-0 untuk pasukan Mourinho.

Kendati begitu, Muntari tetap kehilangan posisi reguler dalam tiga laga berikutnya, yakni saat dijamu Cagliari (menang 1-2), menghadapi Napoli (menang 3-1), dan bertandang ke markas Sampdoria (kalah 1-2).


Perlakuan Mourinho terhadap Muntari tersebut memunculkan kabar tak sedap bahwa telah terjadi masalah di antara keduanya. Namun, Muntari membantahnya.

“Saya mendengar rumor bahwa saya punya masalah dengan pelatih. Dia (Mourinho) banyak mendukungku. Saya tidak tahu dari mana rumor itu datang. Maksud saya ini bulan Ramadan. Setelah itu saya harap dapat bermain lagi,” ujar Muntari.

Muntari akhirnya kembali mendapatkan kembali tempatnya di skuad utama Inter Milan di pekan ke-7 melawan Udinese pada 4 Oktober 2009, atau setelah Ramadan tahun itu usai.

Walk-Out karena Rasisme

Jauh di kemudian hari, saat kembali ke Liga Italia dengan memperkuat Pescara pada musim 2016/2017, Muntari mengalami hal yang tidak mengenakkan. Itu terjadi saat Pescara menghadapi Cagliari pada 30 April 2017 di Stadio Sant'Elia.

Di laga itu, Muntari mendapatkan cemohan bernada rasisme dari suporter Cagliari. Ia lalu mengadukan perlakuan tersebut kepada wasit. Namun, sang pengadil malah mengganjarnya dengan kartu kuning.

Muntari tak kuasa lagi menahan kecewa, lantas pergi meninggalkan lapangan di menit-menit akhir pertandingan yang nantinya usai dengan skor 1-0 untuk kemenangan tuan rumah. Wasit pun mencabut kartu kuning kedua alias kartu merah untuk Muntari.

“Wasit berkata padaku tak boleh berbicara ke penonton. Aku bertanya padanya, apakah mendengar cemoohan? Aku mendesak agar ia punya keberanian untuk menghentikan pertandingan,” sebut Muntari atas kejadian itu, dikutip dari The Guardian.

“Wasit tak boleh hanya diam saja, ia harus melakukan sesuatu. Ia harus memberikan contoh. Setidaknya jika Anda menghentikan laga, saya yakin hal ini tak kan terjadi lagi,” tambahnya.


Pelatih Pescara saat itu, Zdenek Zeman, memahami keputusan Muntari, namun juga menyayangkan tindakan walk-out tersebut.

“Muntari meninggalkan lapangan karena cemoohan rasis, namun kita tak seharusnya memutuskan keadilan dengan tangan sendiri,” ujar Zeman.

Di sisi lain, pelatih kawakan ini juga mengecam aksi rasisme oleh sebagian suporter klub di Italia yang tampaknya selalu berulang.

“Kita telah membahas rasisme sejak lama tetapi tak ada yang berubah. Hari ini terjadi kepada Muntari yang telah bermain bertahun-tahun di Italia. Kita membutuhkan perubahan mental,” tegas Zeman.

Selain Inter Milan dan Pescara, Muntari yang kini berusia 35 tahun pernah pula membela Udinese, Portsmouth, Sunderland, AC Milan, Al-Ittihad, dan Deportivo La Coruna.

Pengemas 84 caps dan 20 gol bersama Timnas Ghana ini masih bermain hingga kini, yakni di klub divisi kedua Liga Spanyol, Albacete.

Baca juga artikel terkait SERI PESEPAKBOLA MUSLIM atau tulisan menarik lainnya Oryza Aditama
(tirto.id - Olahraga)

Kontributor: Oryza Aditama
Penulis: Oryza Aditama
Editor: Iswara N Raditya
DarkLight