Pemilu Serentak 2024

Puan atau Ganjar: PDIP Berpotensi Hilang Suara Bila Salah Pilih?

Reporter: Andrian Pratama Taher, tirto.id - 3 Okt 2022 10:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Dedi Kurnia Syah menilai suara Puan Maharani maupun Ganjar Pranowo berada dalam satu ceruk, yakni pemilih PDIP.
tirto.id - Pendiri Saiful Mujani and Research Consulting (SMRC) Saiful Mujani menyebut, PDI Perjuangan akan merugi bila tidak mengajukan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo sebagai bakal calon dalam pemilihan presiden dan wakil presiden pada Pemilu 2024. Ganjar adalah kader PDIP yang namanya selalu masuk tiga besar berdasarkan survei yang dirilis sejumlah lembaga.

Berdasarkan hasil survei kepada 214 responden dengan margin of error 6,8 persen yang dirilis SMRC lewat SMRC TV, Kamis (29/9/2022), angka keterpilihan PDIP melonjak tajam ketika PDIP mencalonkan Ganjar.

“Kalau dimasukkan Ganjar (pemilih PDIP) naik cukup tajam. Jadi 43 persen atau naik 15 persen. Intinya Ganjar memperkuat PDIP secara signifikan,” kata Saiful Mujani dalam video rilis survei tersebut.

Ia menjelaskan, angka 43 persen adalah akumulasi dari angka keterpilihan dasar PDIP di 28 persen, ditambah efek elektoral atau efek ekor jas dari kehadiran Ganjar.

Di sisi lain, angka elektoral PDIP malah jeblok ketika parpol berlambang kepala banteng bermoncong putih itu lebih mengusung Ketua DPP PDIP cum Ketua DPR RI, Puan Maharani. Angka elektabilitas PDIP malah turun menjadi 25 persen atau turun 3 persen.

Dalam survei yang sama, PDIP justru masih mendapatkan efek elektoral bila mengusung kandidat potensial di luar nama Ganjar. Jika PDIP mengusung Prabowo, mereka masih mendapat efek ekor jas 8 persen. Bila PDIP mengusung Anies Baswedan, masih mendapat efek elektoral setidaknya bertambah 9,9 persen.



Politikus PDIP Cuma anggota DPR RI, Masinton Pasaribu menanggapi santai survei SMRC tersebut. Masinton yang tergabung dalam Dewan Kolonel –loyalis Puan Maharani di DPR—menilai, hasil lembaga survei bukan hanya satu-satunya variabel pengambil keputusan pada pemilu.

Masinto menegaskan, survei tidak bisa menjadi tolok ukur elektabilitas Puan layak sebagai kandidat capres atau tidak. “Survei itu sangat dinamis. Karena persepsi publik yang dipotret melalui survei adalah persepsi kemarin dan saat ini,” kata dia saat dihubungi Tirto pada Jumat (30/9/2022).

Masinton menambahkan, “Sedangkan tiap tokoh yang disurvei kemarin, pada saat ini dan juga esok hari selalu bergerak dan terus bergerak.”

Masinton menyebut kemampuan dan kapabilitas Puan Maharani belum banyak diketahui publik. Oleh karena itu, kader berperan untuk mengenalkan kepada publik tentang kemampuan putri dari Megawati Soekarnoputri tersebut.

“Kemampuan leadership atau kepemimpinan Mbak Puan yang belum banyak diketahui publik. Misalnya memiliki prinsip yang kuat dan kokoh dalam bersikap, berani dan tidak plintat-plintut, serta selalu membangun harmoni dengan mengedepankan aspek-aspek kebangsaan dan kebersamaan,” kata Masinton.

Masinton mengklaim dirinya memiliki data yang menunjukkan pergerakan elektabilitas Puan Maharani yang terus merangkak naik.

“Pergerakan para tokoh hari ini dan esok hari akan mempengaruhi dan mengubah persepsi publik pada saat yang akan datang. Termasuk pergerakan Mbak Puan dalam data yang kami miliki terus mengalami peningkatan. Maka saya katakan sangat dinamis," jelasnya.


Mengapa Efek Ekor Jas Puan Maharani Kecil?

Peneliti SMRC, Saidiman Ahmad menjelaskan alasan pengusungan Ganjar lebih potensial daripada Puan. Ia sebut karena faktor likeability putri dari Megawati itu rendah. Berdasarkan survei SMRC pada Agustus 2022, likeability Puan hanya 44 persen. Angka ini berbeda dengan Ganjar yang mencapai 84 persen, Anies 74 persen, maupun Prabowo 71 persen.

“Artinya secara umum resistensi Puan sangat tinggi. Ini yang menjelaskan mengapa pencalonannya sebagai presiden berdampak negatif pada partai,” kata Saidiman saat dikonfirmasi Tirto soal temuan SMRC yang dirilis beberapa waktu lalu.

Saidiman mengatakan, survei eksperimental yang digunakan SMRC hanya mengukur dampak elektabilitas kepada partai ketika disandingkan kandidat tertentu. Ia menjawab Ganjar memiliki dampak paling positif bagi PDIP. Hal itu sejalan dengan dengan konsep coattail effect atau efek ekor jas dalam istilah pemilu.

Sementara itu, nama Anies lebih baik daripada Prabowo karena tingkat penerimaan publik kepada gubernur DKI Jakarta itu lebih tinggi ketimbang Prabowo bila mereka diusung PDIP. Saidiman mengingatkan, pemilih Indonesia bukan pemilih yang loyal pada partai. Mereka bisa berpindah jika partai mengeluarkan kebijakan yang tidak sejalan dengan aspirasi mereka.

“Ganjar, Anies dan Prabowo terlihat bisa membawa suara dari luar untuk memilih PDIP jika mereka didukung PDIP. Sebaliknya dengan Puan, suara PDIP justru tergerus jika partai memutuskan mengusungnya sebagai capres,” kata Saidiman.

Saidiman mengaku bahwa pengaruh tokoh memang mempengaruhi pemilihan calon presiden dan wakil presiden. Selain tokoh, ada juga pengaruh ormas seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama. Menurut Saidiman, partai besar rerata memiliki tokoh seperti PDIP, Demokrat maupun Gerindra.

“Salah satu yang menjelaskan kenapa PDIP menjadi partai terbesar sekarang karena memang punya tokoh populer seperti Megawati, Jokowi dan Ganjar," kata Saidiman.

Ia mengingatkan bahwa pemilu dalam beberapa waktu terakhir membuktikan soal pengaruh ketokohan. Pada 2004, angka kesukaan publik terhadap Megawati rendah sehingga suara PDIP turun. Kemudian, pada 2009, suara Demokrat naik karena kepuasan publik kepada pemerintahan SBY tinggi.

“Realitanya begitu sekarang. Tokoh lebih kuat memengaruhi pilihan politik," kata Saidiman.



Analisis berbeda diungkapkan pemerhati politik dari Universitas Telkom, Dedi Kurnia Syah. Ia mengakui bahwa ada potensi keterpilihan PDIP bisa terganggu bila mengusung kandidat di luar kader. Namun suara partai tetap terjaga bila yang diusung adalah kader, baik Puan maupun Ganjar.

“Situasi itu bisa dilihat pasca pemilu, jika merujuk PDIP, konsep salah usung tokoh ini dimungkinkan terjadi jika usung tokoh non-kader, sepanjang yang diusung kader sendiri, PDIP punya potensi stabil, karena pemilih PDIP mendahulukan partai dibanding tokoh,” kata Dedi kepada Tirto.

Menurut Dedi, hal serupa juga terjadi pada Gerindra. Suara Gerindra terpengaruh jika ada kader yang diusung dalam Pemilu 2024 mendapatkan restu Prabowo. Namun hal ini berbeda dengan partai lain yang tidak dominan dalam pemilu.

Ia tidak sepakat apabila ada pandangan pengusungan Puan akan menurunkan elektabilitas PDIP dan sebaliknya jika mengusung Ganjar. Ia beralasan suara Puan maupun Ganjar berada dalam satu ceruk, yakni pemilih PDIP. Pengusungan Ganjar atau Puan akan berasal dari satu suara yang sama yakni pemilih PDIP.

“Jika keputusan partai mengusung Puan, maka Puan akan mendapat elektabilitas PDIP. Begitu pun sebaliknya jika Ganjar yang diusung, saat ini elektabilitas Ganjar didominasi pemilih PDIP. Bukan karena faktor Ganjar, demikian yang terbaca dari IPO,” kata Dedi yang juga Direktur Eksekutif IPO.

Dedi menilai, situasi pemilihan antara Ganjar dan Puan di PDIP masih dinamis. Ia sebut Ganjar menang karena kemampuan propaganda dan upaya membentuk simpul pengaruh. Sementara itu, Puan lebih berada di bawah Ganjar yang berasal dari simulasi semu di media sosial.

Di sisi lain, pengusungan Ganjar atau Puan bukan berarti bisa membawa coattail effect. Dedi beralasan, pemilih PDIP dan kelompok anti-PDIP cukup kuat. Dengan kata lain, PDIP lebih mengandalkan pemilih loyal PDIP, termasuk bagi kemenangan Jokowi.

“Tetapi, jika secara bersama Ganjar, Jokowi, tidak bersama PDIP, bisa saja ada pengaruh,” kata Dedi.


Baca juga artikel terkait PEMILU 2024 atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher
(tirto.id - Politik)

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Abdul Aziz

DarkLight