PT KAI Tegaskan Pembatasan Bagasi di Kereta Api Sudah Sejak 2015

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 1 Maret 2019
PT KAI mejelaskan penerapan bagasi berbayar sebenarnya sudah lama diterapkan sejak tahun 2015 lalu.
tirto.id - Kepala Humas PT Kereta Api Indonesia (KAI), Agus Komarudin mengatakan pembatasan bagasi sebenarnya sudah lama diterapkan sejak tahun 2015 lalu. Bahkan dalam rangka persiapan angkutan lebaran, PT KAI sering mengimbau agar para calon penumpang membawa barang bawaan secukupnya.

“Kebijakan bagasi itu sudah sejak tahun 2015. Jadi bukan hal yang baru,” ucap Agus saat dihubungi reporter Tirto pada Jumat (1/3/2019).

Persoalan bagasi berbayar di sejumlah lini transportasi sempat menarik perhatian masyarakat. Seperti misalnya penerapan bagasi berbayar di maskapai penerbangan Indonesia yang sempat dianggap memberatkan penumpang dan berdampak pada perekonomian destinasi wisata yang ada lantaran dinilai dapat menurunkan omzet.

Namun, Agus mengatakan sejak 2015, PT KAI telah menetapkan batasan bagasi gratis dengan ketentuan berat 20 kg dengan volume 100 dm kubik (70x48x30 cm). Paling banyak pun penumpang hanya boleh membawa 4 kali (item bagasi).

Ketentuan lainnya, bila barang bawaan penumpang mencapai berat 40 kg dengan volume 200 dm kubik maka tidak diperkenankan membawanya ke dalam kabin. PT KAI, kata Agus, akan mengalihkan barang bawaan itu untuk menggunakan jasa ekspedisi KA.

Selain itu, meskipun transportasi kereta api hanya dikelola PT KAI, penetapan harga bagasi berbayar ini juga tidak mengalami kenaikan sejak awal diterapkannya.

Pada Desember 2015 hingga saat ini, tarif bagasi dikenakan biaya sebesar Rp 10.000/kg untuk eksekutif, Rp 6.000/kg untuk kelas bisnis atau ekonomi komersial, dan Rp 2.000/kg untuk kelas ekonomi PSO.

“Dengan diberlakukannya peraturan pembatasan barang bawaan ini, KAI berharap penumpang akan merasa lebih aman dan nyaman selama perjalanan,” ucap Agus.


Baca juga artikel terkait BAGASI BERBAYAR PT KAI atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Maya Saputri