PSSI & PT Liga: Penyakit Laten Selalu Menunggak Utang kepada Klub

Oleh: Aqwam Fiazmi Hanifan, Herdanang Ahmad Fauzan - 7 Maret 2019
Dibaca Normal 4 menit
Segala hal bisa terjadi dalam PSSI. Yang tak mungkin: operator liga menepati janji tak menunggak utang kepada klub.
tirto.id - Tajuk pengelolaan kompetisi elite sepakbola nasional di Indonesia masih retorika belaka. Dari zaman Joko Driyono masih jadi manajer Pelita Jaya pada awal dekade 90-an, hingga ia menjabat Ketua PSSI pada era sekarang, operator penyelenggara liga selalu bermasalah. Dan masalah laten itu selalu berkaitan dengan tunggakan subsidi pada klub.

Narasi sama terjadi musim ini. Di tengah ancaman sulit mencari sponsor utama bagi kompetisi Liga 1 2019 sejak pengunduran diri Glenn Sugita, PT Liga Indonesia Baru punya beban lain yang tak kalah berat: tunggakan subsidi untuk klub-klub Liga 1.

Total nominal yang dijanjikan ke masing-masing 18 klub peserta Liga 1 musim 2018 adalah Rp7,5 miliar. Sesuai rencana, uang Rp7,5 miliar itu diberikan secara bertahap: Rp5 miliar dari April hingga Desember 2018; dan Rp2,5 miliar sesuai pelaksanaan agenda pembinaan usia muda di setiap klub.

Sialnya, yang baru dilunasi PT Liga ke masing-masing klub baru Rp5 miliar.

"Tinggal sisanya yang belum. Ini terkait kewajiban dari partner licensing kami yang belum terpenuhi. Kalau sudah dipenuhi, baru akan dibayar,” ujar CEO PT LIB, Risha Adi Wijaya.

Sayangnya, Risha enggan menyebutkan siapa sponsor yang menunggak itu. Kabar orang dalam PT LIB, tunggakan sponsor itu dilakukan oleh pemegang hak siar Liga 1 musim 2018/2019.


Soal tunggakan ini jadi pekerjaan rumah direktur sementara PT LIB, Dirk Soplanit. Saat konferensi pers usai penetapan dirinya selepas Rapat Umum Pemegang Saham kedua di Hotel Sultan, 28 Februari lalu, Dirk berkata utang akan diupayakan lunas sebelum kompetisi 2019 dimulai.

“Tentunya kepercayaan diberikan pemegang saham kepada kami untuk melanjutkan kompetisi Liga 1 dan Liga 2. Soal kewajiban [utang] pasti kami tidak boleh mengabaikan,” katanya, retorik.

Sayangnya, saat ditanya kapan tepatnya janji itu bakal ditepati, Dirk—yang jadi anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, menjawab, “Tentu juga kami tidak boleh terlalu mengumbar janji, tapi ini pasti kami selesaikan."

Gusti Randa, rekan Dirk yang kini diberi mandat sebagai Komisaris sementara PT LIB—peran yang ditinggalkan Glenn Sugita—menimpali dengan berdalih bahwa pembahasan mengenai utang subsidi operator bakal dilakukan pada Maret.

Janji ini juga kembali ditegaskan Gusti saat kami hubungi lewat sambungan telepon, Selasa pekan ini (5/3/2019).

“Dalam waktu dekat, semua klub sebagai pemegang saham ini akan kumpul lagi, buat business plan-nya. Business plan ini, salah satunya, menjawab bagaimana posisi utang yang belum terbayarkan. Rencananya akhir Maret. Biarkan mereka yang mengatur juga,” janji Gusti.


Janji Terus

Janji PT LIB untuk membayar kewajibannya patut disorot karena dari pengalaman sebelumnya pun selalu mengulur-ulur waktu.

Janji serupa sempat dilontarkan sejak kompetisi rampung tapi, hingga nyaris tiga bulan berlalu, sama sekali belum memberi solusi.

Pada Januari lalu, manajemen Sriwijaya FC melayangkan surat bernomor 2/SFC/I/2019 kepada PT LIB agar membayar utang kepada klub berjuluk Laskar Wong Kito itu sebesar Rp2.374.808.702.

Dari angka itu, yang jadi pembayaran "elite pro"sesuai ucapan CEO PT LIB, Risha Adi Wijaya—cuma senilai Rp2.150.000.000. Sisa Rp324.808.702 lain adalah tunggakan dari kontribusi tahap tujuh dan delapan yang belum dibayar PT LIB.

Belakangan, saat Tirto wawancarai Muddai Madang pada Selasa pekan ini (5/3), , mantan bos Sriwijaya FC ini meralat nominal tersebut. “Bukan, kalau tidak salah malah sekitar hampir Rp3 miliar,” katanya.

Apa yang dialami Sriwijaya FC juga dirasakan seluruh 18 klub liga 1 2018.

CEO PSM Makassar, Munafri Arifuddin, mengamininya. Tetapi, soal nominal, saking banyak hitungan-hitungan yang perlu dimasukkan, pria yang akrab disapa Appi ini tidak berani menyebut angka rigid.

“Ada hitung-hitungan yang harus kami [PSM] selesaikan. Rumit. Bahwa ada tunggakan, iya, tapi nilainya saya tidak hapal persis,” ujarnya.

Karena kegelisahan itu pula, Appi mengatakan pada saat RUPS di Hotel Sultan, ke-18 klub terus menanyakan ke operator PT Liga soal pelunasan.

“Semua menanyakan, hampir semua klub menanyakan itu. Katanya akan ada penyelesaian, makanya kami diminta kumpul [RUPS] lagi, kalau enggak salah di bulan Maret. Karena kepengurusan LIB ini juga baru berganti,” tandasnya.


CEO PSIS Semarang Yoyok Sukawi membenarkan ada tuntutan dari klub soal kepastian tunggakan kepada PT LIB.

“Ya pasti. Semua klub tanya itu. Mereka [LIB] menyampaikan kepada klub, semisal tahun ini ada sisa hasil usaha tunggakan itu akan dicicil,” ungkap Yoyok.

PSIS, klub yang dipimpin Yoyok, sebenarnya berstatus tim promosi yang baru semusim berlaga di Liga 1. Saat bercerita kepada kami, Yoyok seakan tidak bisa menutupi kekecewaan karena PSIS tidak mendapat pengalaman menyenangkan dalam musim pertamanya mengarungi kompetisi divisi teratas.

“Kalau ke kami [tunggakan] masih banyak, dua [miliar] lebihlah,” ungkapnya.

Kendati demikian, mewakili PSIS, Yoyok menegaskan klubnya akan tetap berkomitmen terhadap sepakbola. Meski masih tertunggak, PSIS sama sekali tidak berniat mengecewakan harapan suporternya dengan—misalnya—boikot dari liga.

Menurutnya, menghadirkan tontonan dan membanggakan masyarakat Semarang adalah tindakan yang tak ingin dikhianati PSIS, sesulit apa pun kondisi finansial yang menerpa.

“Tetap harus ikutlah. Kami punya komitmen untuk ikut terus memajukan klub,” pungkasnya.


Infografik HL Indepth PSSI
Infografik PT LIB menunggak utang ke klub. tirto.id/Lugas

Efek Domino Tunggakan PT Liga

Suporter PSIS patut bersyukur. Kendati sejumlah subsidi tertunggak, setidaknya klub mereka masih punya sumber pendanaan yang bisa menyokong para pemain untuk tetap berpartisipasi di kompetisi level tertinggi.

Bayangkan, misalnya, jika mereka harus punya nasib senahas Perseru, Papua.

Klub yang musim lalu bermarkas di Stadion Marora, Serui, ini dipaksa banting tulang dalam mengarungi kompetisi karena sumber pendanaan minim. Tak banyak sponsor meliriknya, dan subsidi liga yang diharapkan bisa jadi penopang di tengah situasi sulit malah tak kunjung cair.

Alhasil, kesebelasan berjuluk Cendrawasih Jingga itu bangkrut dan sempat terancam gulung tikar.

Kebangkrutan baru-baru ini bisa diatasi, tapi kini para pencinta Perseru harus berhadapan dengan fakta lain yang tak kalah memilukan. Pasalnya, solusi yang bisa mengamputasi ancaman gulung tikar itu adalah sesuatu yang tidak enak didengar: penjualan klub.

Kabar terbaru: Perseru resmi dijual ke pengusaha asal Lampung, Eddy Samsu. Hal ini membuat nama Perseru dipastikan tidak akan menghiasi Liga 1 lagi. Seiring kepindahan tersebut, klub itu bakal pindah markas ke Lampung dan berganti nama pula.

“Sudah ada opsi nama yang akan dipakai, tapi nanti akan kami luncurkan secara meriah ke publik,” ucap Eddy Samsu, orang yang membeli kepemilikan Cendrawasih Jingga dikutip dari Jawa Pos.

Kami beberapa kali meminta klarifikasi kepada Yance Banua, mantan presiden Perseru. Namun, yang bersangkutan belum berkenan mengeluarkan pernyataan. "No comment dulu," ucapnya.


Tindakan PT LIB dan PSSI yang seolah membiarkan kebijakan menunggak ini membuat banyak klub dirugikan. Dalam skala lebih kecil lagi, keuangan klub yang tidak sehat karena tunggakan subsidi mengakibatkan pula nasib pemain terkatung-katung.

Salah satu contoh nyata adalah Sriwijaya FC. Akibat tunggakan itu, Laskar Wong Kito sempat menunggak gaji pemain-pemainnya selama sebulan. Muddai Madang membenarkan hal ini.

“Gaji pemain sempat tertunggak sebulan. Cicilan [subsidi] yang telat padahal bisa buat menggaji pemain berbulan-bulan, tapi tidak kunjung cair,” ungkapnya.


Sekjen Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI), Muhammad Hardika Aji, sebenarnya tidak sepenuhnya membenarkan logika yang serta merta menyalahkan operator atas kondisi pemain. Namun, khusus untuk kasus LIB, menurutnya, alasan Sriwijaya FC atas kegagalan menggaji pemain adalah sesuatu yang masuk akal.

“Secara hubungan hukum tidak bisa dikatakan demikian, tapi [wajar] kalau mengaitkan dengan LIB. Sriwijaya itu sisa royalti dari LIB tidak sebanding dengan tunggakan ke pemainnya. Kalaupun sudah dilunasi LIB dan untuk menggaji pemain, sisanya masih besar,” kata Aji.

Dampak dari tunggakan barangkali tidak terasa telak bagi klub-klub yang bisa menggaet sponsor besar macam Persib, Persija, sampai Arema FC. Namun, bagi kesebelasan yang sangat menggantungkan diri dengan subsidi seperti Perseru, atau Sriwijaya FC, efeknya terasa betul.

“Bahwa memang dalam sistem pembukuan ada utang yang perlu dibayarkan, saya kira, tetap harus kami bayar,” kata Komisaris baru PT LIB, Gusti Randa, dalam janji terbarunya.


Meski begitu, apa yang dilakukan PT LIB cukup ironis. Alih-alih menyelesaikan tunggakan, PT LIB lebih memilih menyetor dana pendapatan liga pada PSSI.

Dalam laporan keuangan PSSI tahun 2017, tercatat PT LIB menyumbang 36 persen atau Rp40 miliar pendapatan ke dana kas PSSI, di tengah ada utang yang masih tertunggak kepada klub peserta Liga 1.

“Bukan cuma tertunggak tahun ini, tapi tahun lalu juga masih ada,” CEO PSM Makassar, Munafri Arifuddin.

Baca juga artikel terkait LIGA 1 atau tulisan menarik lainnya Aqwam Fiazmi Hanifan & Herdanang Ahmad Fauzan
(tirto.id - Olahraga)

Reporter: Herdanang Ahmad Fauzan
Penulis: Aqwam Fiazmi Hanifan & Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight