Pseudobulbar Affect dan Kisah Para Penderitanya yang Dituduh Kejam

Joaquin Phoenix membentuk karakter dan tawa khas sebagai Joker dengan mempelajari korban pengidap Pseudobulbar Affect (PBA). screenshot/youtube/Warner Bros. Pictures
Oleh: Aditya Widya Putri - 11 Oktober 2019
Dibaca Normal 3 menit
Tak cuma salah merespons situasi seperti tertawa saat sedih atau menangis saat bahagia. Ada orang dengan pseudobulbar affect yang justru berlebihan saat merespons situasi, misal menangis hanya karena hal remeh.
tirto.id - Mereka bukannya tak punya hati saat menertawakan hal-hal sedih.

Sebuah adegan dalam film Joker adalah gambaran nyata bagaimana orang-orang dengan pseudobulbar affect (PBA) dipandang negatif oleh lingkungan sosial mereka. Arthur Fleck masih terus tertawa keras saat seorang perempuan melarang si pelawak ini bermain dengan anaknya. Respons kontras itu berujung salah sangka sampai Arthur harus menyisipkan selembar kertas yang menerangkan bahwa ia mengidap PBA.

Seperti Joker, begitulah kira-kira Joyce Hoffman menjalani hari-hari sebagai seorang dengan PBA. Penulis asal Philadelphia ini mulai mendapat gejala penyakit itu saat terserang stroke beberapa tahun silam. Salah satu kisah buruknya, sebagaimana ia tuturkan kepada Healthline, adalah ketika Hoffman melangsungkan sebuah pesta makan malam bersama rekan-rekannya.

Malam itu seharusnya jadi momen menyenangkan bagi Hoffman karena ia kembali membaur setelah berbulan-bulan bertapa di dalam rumah. Seorang teman mengajak Hoffman pergi ke pesta, dan ia langsung setuju. Mulanya, pesta berjalan wajar, tamu-tamu saling sapa dan beramah-tamah. Mereka membuat kelompok-kelompok kecil dan berbincang satu sama lain.


Sampai kemudian seorang pria mengalihkan perhatian para tamu. Ia bercerita soal hidupnya yang sedang apes, dipecat dari pekerjaan, sementara istrinya hanya bekerja paruh waktu, dan mereka punya tiga orang anak. Tiba-tiba saja matanya berkaca-kaca dan ia mulai menangis, bersandar di bahu sang istri. Ceritanya sangat sedih, tapi begitu ceritanya usai, Hoffman justru cekikikan.

“Aku sangat malu, teman-temanku kaget atas respons itu. Aku cuma bisa menjauh dari meja, mendorong kursi roda ke ruang tamu,” katanya.

Satu jam ia berdiam di sana dengan tawa yang berubah menjadi parau. Sampai hidangan penutup disajikan, ia baru berhenti tertawa. Hoffman kembali ke ruang makan tapi suasana pesta sudah berubah suram. Ia bisa merasakan semua orang menatapnya dengan gusar, marah, dan jijik. Seolah mengatakan: “Kau sangat kejam!”

“Temanku mengantar pulang, tapi perjalanan kami hening dan canggung.”

Kejadian itu berulang lagi beberapa hari kemudian ketia ia pergi berbelanja. Bersama kawan lain Hoffman menjajal jaket merah beludru, merah adalah warna favoritnya, dan harga jaket itu cukup murah. Harusnya Hoffman senang dan bisa segera membungkusnya pulang. Tapi ia justru menangis saat berada di ruang pas, dan mereka kembali pulang dengan kecanggungan.


Hoffman sempat menyangka kewarasannya hilang. Ia lalu pergi ke dokter, memeriksakan kesehatan jiwanya, dan dokter mendiagnosis perempuan itu terserang PBA. Kondisi itu merupakan efek lain dari penyakit stroke yang ia alami.

“Dokter menekankan, PBA bukan berarti saya sakit jiwa. Tapi ada luka di bagian otak saya.”

Depresi Versus PBA

Tak selamanya orang-orang dengan gangguan PBA mengeluarkan ekspresi yang bertentangan dengan suasana hati, misalnya tertawa saat sedang sedih, atau menangis ketika gembira. Ada juga kelompok yang selaras bereaksi, hanya saja terlihat hiperbolis. Mereka bisa menangis meraung-raung atau tertawa terbahak-bahak hanya karena menonton film.

Wayne B adalah salah satu orang dengan PBA tipe ini. Melalui Susan, sang istri, ayah tiga anak ini mengisahkan reaksi PBA yang kurang lazim dibanding lainnya. Sebelum terserang stroke hemoragik, Wayne adalah manajer TI di sebuah perusahaan logistik di Illinois. Tapi di umur 45 tahun, selain berjuang dengan penyakit strokenya, Wayne juga harus belajar menerima respons tubuh yang tak selaras.

“Dia bisa menangis berlebihan pada hal yang tidak terlalu sedih atau tertawa histeris karena hal yang sama sekali tidak lucu,” ungkap Susan, dilansir dari laman Psycom.


Wayne sulit mengontrol emosinya berada di titik normal. Ia juga sering bereaksi pada hal yang sama tidak berhubungan dengannya, misal menangis ketika melihat seorang anak jatuh, meski ia tak mengenalnya, dan si anak sama sekali tidak terluka. Kata Susan, respons emosi Wayne lebih histeris ketika menangis dibanding tertawa.

Lantaran respons emosi yang tidak lazim ini, PBA seringkali disalahartikan dengan depresi. Padahal menurut WebMD, PBA merupakan kondisi ketika seseorang tidak dapat merasakan dan mengontrol emosi sesuai dengan situasi yang dihadapi, tapi hanya dalam periode waktu tertentu.

Depresi dirasakan dalam periode lebih panjang dalam hitungan minggu atau bahkan bulan. Selain itu, depresi juga diikuti gejala lain seperti sulit tidur, atau gangguan nafsu makan. Hal yang sama tidak terjadi dengan kondisi PBA.

PBA bisa dipicu oleh gangguan sistem saraf, kerusakan korteks prefrontal alias area otak yang membantu mengendalikan emosi akibat cidera atau penyakit seperti tumor otak, demensia, multiple sklerosis (MS), amyotrophic lateral sclerosis (ALS), dan parkinson. Sekitar setengah dari seluruh orang yang terserang stroke juga tercatat mengalami gejala PBA.




Healthline menjelaskan apa yang terjadi pada otak ketika mengalami PBA. Dalam kondisi normal, bagian otak kecil bertindak menjaga emosi tetap terkendali berdasar sinyal dari bagian otak lain. Tapi ketika cidera atau rusak, sinyal ke otak kecil terganggu, sehingga respons emosional yang muncul nampak berlebihan atau tidak pantas.

Namun, meskipun PBA berbeda dengan depresi, orang dengan gangguan penyakit ini bisa terserang depresi dalam waktu bersamaan, bahkan peluangnya jadi lebih besar. Kombinasi kedua penyakit ini akan memunculkan respons emosional yang lebih ekstrem. Penelitian tahun 2013 berjudul “Pseudobulbar affect: prevalence and management” melaporkan ada sekitar 30-35 persen pasien PBA juga mengalami depresi.


Berdamai dan Hidup Bersama PBA

Sudah delapan tahun Susan hidup bersama Wayne yang baru. Wayne yang tak bisa ditebak emosinya, Wayne yang depresi, Wayne yang murung. Ketika respons emosi suaminya keluar dan berada dalam situasi yang tidak tepat, Susan tahu bahwa Wayne sangat malu. Kondisi itu bertambah buruk karena orang dengan PBA tak bisa mengontrol respons emosi mereka, meski mereka ingin.

“Ketika dia sadar responnya berlebihan tapi tak bisa berhenti, dia jadi frustasi dan marah,” ungkap Susan.

Wayne akan bingung ketika orang-orang meminta untuk menghentikan responsnya. Di sisi lain mereka tidak paham bahwa respons itu tak bisa dikendalikan. Walhasil tatapan aneh atau komentar sinis akan mendarat padanya. Untuk menghindari terjebak dalam kondisi itu, Susan terpaksa “mengurung” Wayne. Ia memilih tak mengajak suaminya ke pemakaman dan menghindari apa pun yang memicu respons berlebih.


Kadang, ia juga memperingatkan Wayne untuk mengendalikan emosinya, tapi seringkali tidak berhasil. Jika sudah begitu, Wayne akan menjauh dari situasi, pergi ke kamar, atau mencari tempat sepi untuk menenangkan diri.

Sekelumit kisah lain datang dari Amy Elder (37 tahun) yang menjajal meditasi untuk mengurangi efek PBA-nya. Elder sudah hidup dengan PBA sejak tahun 2011. Ia juga telah mencoba berbagai cara yang dipercaya bisa mengurangi PBA. Mulai dari pergi ke tempat-tempat baru yang menyenangkan, hingga memutuskan melakukan meditasi setiap hari.

“Konsisten melakukan meditasi bisa menenangkan pikiranku,” katanya kepada Healthline, dengan begitu Elder lebih bisa menerima kondisi barunya.

Tapi selain pergi meditasi atau jalan-jalan, ada hal yang paling penting dari tahap berdamai dengan PBA, yakni mengedukasi diri sendiri dan orang sekitar tentang kondisi tersebut. PBA akan membaik seiring waktu, jadi mereka hanya perlu memberi dukungan, bersabar, dan paham, bahwa respons kejam atau berlebihan itu muncul tanpa bisa dikendalikan.

============

Depresi bukanlah persoalan sepele. Jika Anda merasakan tendensi untuk melakukan bunuh diri, atau melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan tendensi tersebut, amat disarankan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait, seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.

Baca juga artikel terkait KESEHATAN MENTAL atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Windu Jusuf
DarkLight