Menuju konten utama

Promosi ke EPL, Sheffield United akan Membawa Kejutan

Kembali ke EPL, Sheffield United akan membawa kejutan menarik: formasi dan pendekatan yang mendorong para bek tengah ikut maju ke depan.

Promosi ke EPL, Sheffield United akan Membawa Kejutan
Sheffield United FC. instagram/sufc_official

tirto.id - Hasil imbang 1-1 dalam pertandingan Leeds United vs Aston Villa di Elland Road, Minggu (28/4/2019) jadi berkah bagi Sheffield United. Klub yang bermarkas di Bramall Lane, Sheffield tersebut dipastikan promosi ke Liga Inggris (EPL) musim depan karena poinnya sudah tidak mungkin disalip Leeds maupun Villa.

Sheffield bertengger di peringkat dua dengan 88 poin. Mereka unggul lima angka dari Leeds di urutan tiga. Dengan sisa satu pekan pada musim ini, Sheffield dipastikan promosi bersama pimpinan klasemen Divisi Championship, Norwich City.

Prestasi tersebut jelas membanggakan. Ini akan jadi kali pertama Sheffield United tampil di divisi teratas setelah terakhir kali melakukannya pada musim kompetisi 2006-2007.

"Ini adalah hadiah istimewa untuk suporter kami yang selalu bersabar selama beberapa waktu terakhir, kami sempat keluar dari Championship [turun ke divisi tiga] selama enam tahun, orang lantas menyebut kami tampil di liga pub. Tapi akhirnya kami akan tampil di sebuah liga di mana kami bisa menikmati champagne," ujar pelatih Sheffield, Chris Wilder kepada laman resmi klub.

Wilder juga tidak segan memuji para pemainnya. "Pencapaian luar biasa ini dari para pemain. Saya berdiri di sini menjawab pertanyaan soal respons terhadap promosi dan mungkin terlihat merendah, tapi ini memang pencapaian luar biasa dari tim."

Selama dua musim terakhir, Wilder menampilkan pendekatan unik yang jadi terobosan baru bagi perkembangan taktik di dunia sepakbola. Dalam sebuah wawancara, pelatih legendaris Marcelo Bielsa bahkan tidak segan memuji kontribusi Wilder untuk Sheffield.

"Jika saya sedang berada di bar dan menikmati obrolan warung kopi dengan rekan-rekan saya, saya akan mengatakan kepada mereka kalau manajer Sheffield United adalah orang yang punya ide brilian dan saya jarang menemui orang dengan ide gila semacam ini," ujar Bielsa seperti diwartakan Leeds-Live.

Bek yang Ikut Menyerang Saat Open-play

Apa yang dimaksud Bielsa dengan 'ide gila' Wilder adalah strategi pilihannya di atas lapangan. Sheffield musim ini konsisten menerapkan formasi 3-5-2. Tiga bek tengah yang kerap mereka andalkan adalah Jack O'Connel, John Egan, dan Chris Basham.

Formasi Sheffield United

undefined
Formasi Sheffield United (sumber: Whoscored)

Uniknya, dari tiga sosok bek tengah tersebut, hanya Egan yang konsisten berada di lini belakang. Dua bek tengah lain--O'Connel dan Basham--tidak segan naik membantu tugas para penyerang di garis terdepan.

Dalam alurnya maju ke depan, O'Connel biasanya bekerja sama melakukan umpan dengan wingback kiri Sheffield, Enda Stevens. Sementara Basham melakukan kombinasi dengan wingback kanan Sheffield, George Baldock. Pos bek tengah yang mereka tinggalkan kemudian dilindungi oleh dua gelandang bertahan, John Fleck dan Oliver Norwood yang kemudian sedikit turun ke garis tengah lapangan.

Dengan keseluruhan pergerakan di atas, praktis saat menyerang Sheffield mengubah formasi mereka jadi 1-2-5-2.

" width="560" height="314" allowfullscreen="allowfullscreen">

(Video: contoh serangan Sheffield dengan bek tengah maju ke depan)

Skema di atas jelas berbeda dari kodrat yang biasa dijalankan klub-klub pemakai formasi 3-5-2. Umumnya, pada formasi ini tiga bek fokus bertahan sementara tugas menyisir tepi lapangan dilakukan dua wingback yang memulai pergerakan dari lini tengah.

Namun, perbedaan pendekatan tersebut justru jadi senjata mematikan bagi Sheffield United. Dari 45 laga Divisi Championship musim ini, Sheffield cuma kalah sembilan kali. 26 kemenangan mereka dapat, dan 10 laga lain berakhir imbang.

Di atas lapangan, bek-bek lawan kerap kesulitan mengantisipasi pergerakan dua orang pemain belakang Sheffield yang tiba-tiba maju menambah jumlah gelandang serang. Ini terbukti dengan rapor mentereng O'Connel dan Basham. Kendati berposisi sebagai bek, keduanya punya catatan rata-rata umpan di pertahanan lawan sebanyak 11,79 dan 13,41. Menurut catatan The Times, angka ini jauh di atas rataan bek tengah lain di Divisi Championship yang cuma sebesar 5,97.

Tak hanya itu, keduanya juga melakukan rata-rata 49 dribel per pertandingan. Ditambah dengan rataan umpan silang akurat sebesar 1,34 dan 1,56 per pertandingan, statistik menyerang O'Connel dan Basham melampaui bek tengah manapun.

Asisten manajer Sheffield, Alan Knilll menyebut taktik Sheffield dengan istilah 'pendekatan pedang'. Knill mengakui kalau dalam pendekatan tersebut, O'Connel dan Basham punya peranan vital. Tanpa kemampuan ofensif yang baik, dua bek tengah ini jelas tidak akan mampu menyerang dengan efektif.

"Bash bisa tampil di mana saja, sementara Jack sangat tangguh dalam hal menyerang. Peran ini sangat cocok bagi keduanya. Memang ada risiko bahaya di lini belakang, namun harus diakui taktik ini menyenangkan untuk dilihat," ucapnya.

Namun Knill juga menggarisbawahi kalau sosok terpenting dalam serangan ini bukan cuma dua pemain tersebut. Stevens dan Baldock, dua wingback Sheffield harus ikut menyelaraskan pergerakan untuk tidak terburu-buru naik, begitu pula Fleck dan Norwood yang tak boleh terlalu cepat turun.

Gelandang serang Mark Duffy dan duet penyerang Sheffield juga dituntut mencari ruang dengan baik selama 90 menit, guna mendukung pergerakan O'Connel dan Basham. Sedangkan Egan dan kiper Henderson dituntut tampil fokus karena mereka adalah dua palang pintu terpenting di lini pertahanan.

Pada akhirnya, kata Knill, dalam build-up unik Sheffield semua pemain dituntut menjalankan perannya dengan baik.

Mujarab Sekaligus Berisiko

Pendekatan unik Sheffield pertama kali diaplikasikan di atas lapangan pada musim 2016-2017, saat mereka tampil di League One (divisi tiga) menghadapi klub-klub yang menggunakan gaya parkir bus (bertahan total). Di awal-awal musim, mereka kerap jadi bulan-bulanan lawan karena kelimpungan menangkal serangan balik klub-klub League One.

Saat itu, Knill dan Wilder melakukan diskusi panjang hingga muncul satu solusi: untuk melawan pemain bertahan menumpuk, mereka juga harus menumpuk penyerang. Maka muncullah siasat mendorong para bek tampil ke depan guna mengimbangi pertahanan berlapis lawan.

"Pertama kali melakukannya, kami megalahkan Walsall 4-1. Keempat gol kami dari serangan balik, bek tengah kami ikut membuat satu assist. Kami menyesuaikan sehingga diri sehingga dari formasi ini jumlah keuntungannya bisa mengalahkan risiko yang ada," imbuh Knill.

Kendati mujarab, formasi ini memang belum teruji untuk menghadapi klub-klub dengan deretan pemain bertabur bintang di EPL. Knill pun mengakuinya. Bisa jadi, formasi Sheffield yang efektif untuk melawan klub-klub divisi dua dan tiga akan hancur berkeping-keping ketika dipakai melawan tim-tim dengan deretan penyerang kelas atas.

Namun terlepas dari berbagai kemungkinan, pengamat sepakbola The Times, Gregor Robenson mengatakan kehadiran Sheffield ke EPL musim depan tetap akan jadi hal yang menarik untuk dinanti.

Ada dua alasan yang mendasari keyakinan Robenson. Pertama, Sheffield bisa merangsang klub-klub Inggris untuk meniru pendekatan pedang-nya. Kedua, bisa jadi kemunculan pendekatan ini akan membuat klub-klub Eropa merumuskan taktik lain yang tak kalah ampuh. Kedua hal tersebut, menurut Robenson, akan sangat berguna bagi perkembangan evolusi taktik sepakbola.

"Banyak tim barangkali akan kesulitan menangani [Sheffield] musim depan. Jangan pernah berharap Sheffield United--atau barisan bek tengah mereka--akan menurunkan semangat bajak lautnya," tandasnya.

Baca juga artikel terkait SHEFFIELD UNITED atau tulisan lainnya dari Herdanang Ahmad Fauzan

tirto.id - Olahraga
Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Gilang Ramadhan