Profil Yasser Arafat: Mantan Presiden & Simbol Pembebasan Palestina

Oleh: Abdul Hadi - 26 Mei 2021
Dibaca Normal 3 menit
Profil dan kisah hidup Yasser Arafat yang pernah menjadi Presiden Otoritas Nasional Palestina.
tirto.id - Yasser Arafat adalah mantan Presiden Otoritas Nasional Palestina 1994-2004. Ia disimbolkan sebagai sosok perlawanan dalam membebaskan Palestina. Yasser Arafat diagung-agungkan, sekaligus juga dibenci dalam kadar setara.

Bagi sebagian orang, Yasser Arafat adalah sosok korup, sementara itu pendukungnya menganggapnya sebagai pahlawan. Ia pernah dijuluki sebagai gembong teroris, yang kemudian diakui sebagai pemimpin Palestina.

Bagi warga Palestina, Yasser Arafat merupakan tokoh penting yang memacangkan tonggak perjuangan Palestina melawan Israel. Dalam kiprahnya di panggung politik, Yasser Arafat mendirikan partai politik Fatah pada 1958. Ia juga mengetuai Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan orang pertama yang berhasil membawa Palestina ke meja perundingan internasional PBB.

Yasser Arafat lahir di Kairo, Mesir pada 1929 (kendati mengaku lahir di Yerusalem). Sebagian besar usianya ia habiskan untuk melawan Israel dan berusaha mendirikan pemerintahan Palestina yang berdaulat.

Mendirikan Fatah & Jadi Ketua PLO

Pada akhir 1950-an, ia menggagas gerakan bawah tanah bernama Fatah untuk mengobarkan perlawanan terhadap Israel. Fatah mengawali perjuangannya dengan menerbitkan majalah provokatif, sebagai bentuk dukungan melawan Israel dan membebaskan Palestina.

Kampanyenya berjalan efektif. Berkat jaringan yang ia bangun semasa kuliah dengan menjadi ketua organisasi mahasiswa Palestina, Yasser Arafat memperoleh simpati banyak pihak. Bahkan, banyak kucuran dana sosial yang ditujukan pada Palestina dan disalurkan lewat Fatah.

Akhirnya, pada penghujung 1964, Yasser Arafat memutuskan menjadi revolusioner penuh, mengorganisasi Fatah dari Yordania untuk melakukan penyerangan terhadap Israel. Di tahun itu juga, PLO berdiri di bawah dukungan Liga Arab untuk membebaskan Palestina.

Yasser Arafat terpilih untuk mengetuai PLO, badan konfederasi semua organisasi perlawanan untuk menentang Israel. PLO menaungi sejumlah partai dan organisasi yang heterogen, mulai dari yang berideologi Islam, Kristen, komunis, dan lain sebagainya. Semuanya bersatu dengan misi utama membebaskan Palestina dari Israel.

Pada 1974, PLO berhasil membawa Palestina di meja perundingan internasional dan merupakan satu-satunya organisasi non-pemerintah yang memperoleh kesempatan runding di depang Sidang Umum PBB. Pada 1976, PLO memperoleh keanggotaan penuh di dalam Liga Arab. PLO menjadi entitas non-pemerintah pertama yang diakui hukum internasional sebagai perwakilan Palestina.

Kendati demikian, PLO merupakan organisasi yang sangat dimusuhi Israel dan negara-negara pendukungnya. Tidak hanya itu, Amerika Serikat (AS) juga melabeli PLO sebagai organisasi teroris, yang kemudian baru dicabut pada 1993.

Sebagaimana diwartakan The Guardian, momentum penting yang dicapai Yasser Arafat adalah dengan menyepakati Perjanjian Oslo (Oslo Accord) yang ditandatangani di Gedung Putih AS. Kesepakatan damai pada 13 September 1993 itu membawa PLO sebagai "perwakilan sah Palestina" yang diakui Israel. Sebaliknya, PLO juga mengakui eksistensi Israel sebagai sebuah negara. Di tahun itu juga, PLO dicabut statusnya dari organisasi teroris oleh AS.

Perjanjian Oslo dianggap sebagai kesepakatan bersejarah setelah perang Palestina-Israel yang berlangsung puluhan tahun. Bersama Perdana Menteri Yitzhak Rabin dan Presiden Shimon Peres dari Israel, Yasser Arafat diganjar penghargaan Nobel Perdamaian 1994.

Ketika dilakukan pemilihan presiden pertama pada 1994, Yasser Arafat menang telak dengan memperoleh 83 persen suara rakyat Palestina untuk menjadi Presiden Otoritas Nasional Palestina.

Ditentang Hamas

Pada saat bersamaan, perjanjian damai Oslo ditentang oleh organisasi Hamas (Gerakan Perlawanan Islam). Hamas menentang pengakuan PLO atas eksistensi Israel. Perlawanan Hamas dilakukan dengan cara bom bunuh diri di wilayah Israel, misalnya bom bunuh diri dengan bus pada 6 April 1994 yang menewaskan 14 orang Israel dan melukai 75 lainnya. Kemudian, bom bus di Tel Aviv yang menewaskan 22 warga Israel, dan lain sebagainya.

Kesepakatan damai melalui Perjanjian Oslo hanya bertahan dalam waktu singkat. Tindak tanduk Hamas yang tidak kompromi membuat berang Israel. Mereka beranggapan bahwa pemerintah Palestina tidak melakukan upaya pencegahan atas serangan bom Hamas terhadap sipil Israel. Walhasil, hubungan kedua belah pihak semakin dingin dan tidak percaya satu sama lain.

Hamas dan organisasi militan Palestina semakin naik daun, sementara Yasser Arafat semakin terdesak. Pamornya kian menurun. Beberapa ahli politik menuduh Yasser Arafat sebagai sosok korup dan haus kekuasaan, bahkan ia dikabarkan menumpuk harta sebanyak 1,3 miliar dolar AS.

Namun, tuduhan tersebut berseberangan dengan gaya hidup Arafat sendiri. Dilansir dari The Atlantic, Yasser Arafat nyaris tidak pernah menikmati kesejahteraan hidup normal yang didambakan banyak orang. Selama 40 tahun, ia hanya sekali makan di restoran mewah. Museum Yasser Arafat di Ramallah juga menampilkan kamar tidur kecil (5 meter persegi), tempat di mana Yasser Arafat menghabiskan hari-hari terakhir kehidupannya.

Konflik kian meruncing ketika Ariel Sharon terpilih menjadi Perdana Menteri Israel pada 2001. Ariel Sharon menegaskan bahwa Israel tidak terikat lagi dengan negosiasi damai antara Palestina-Israel sebelumnya. Pada Januari 2002, Israel melancarkan serangan ke Fatah dan rumah Yasser Arafat di Ramallah dikepung.

Penyerangan terhadap Yasser Arafat ini didukung oleh Presiden AS kala itu, George W. Bush yang menyebut Arafat sebagai "pengganggu perdamaian". Pada penghujung 2004, Yasser Arafat diisolasi tentara Israel sebagai tahanan rumah di Ramalah. Beberapa waktu kemudian, Yasser Arafat jatuh sakit mendadak dan tidak bisa ditangani lagi oleh dokter Tunisia, Yordania, dan Mesir, Arafat pun dilarikan ke Perancis.

Pada 11 November 2004, Yasser Arafat akhirnya menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit militer Percy di Clamart, Perancis. Hingga sekarang, penyebab sakit dan kematian Yasser Arafat masih menjadi kontroversi.

Museum Yasser Arafat di Ramalah menampilkan keterangan tertulis kalau Arafat meninggal akibat racun yang diberikan oleh pihak Israel. Namun, pihak Israel sendiri membantah keterlibatan mereka. Teka-teki kematian Yasser Arafat terus menjadi misteri yang belum menemukan titik terang.


Baca juga artikel terkait KONFLIK ISRAEL PALESTINA atau tulisan menarik lainnya Abdul Hadi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Abdul Hadi
Penulis: Abdul Hadi
Editor: Alexander Haryanto
DarkLight