Timnas Indonesia

Profil Sejarah Stadion Si Jalak Harupat Venue Piala Dunia U20 2021

Oleh: Hendi Abdurahman - 2 Juli 2020
Dibaca Normal 2 menit
PSSI menunjuk kandang Persib Bandung, yakni Stadion Si Jalak Harupat (SJH), sebagai salah satu venue Piala Dunia U20 2021.
tirto.id - PSSI menunjuk kandang Persib Bandung, yakni Stadion Si Jalak Harupat (SJH), sebagai salah satu dari enam venue yang akan digunakan untuk menggelar pertandingan putaran final Piala Dunia U20 2021 tahun depan.

Selain SJH, ada lima stadion di Indonesia lainnya yang disebut PSSI bakal menggelar laga Piala Dunia U20 2021, yakni Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Jakarta, Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Stadion I Wayan Dipta Gianyar-Bali, Stadion Manahan Solo, dan Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring Palembang.

Stadion Si Jalak Harupat dan Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring menggantikan Stadion Mandala Krida Yogyakarta dan Stadion Pakansari Bogor yang sebelumnya sempat disebut sebelum PSSI berkomunikasi dengan FIFA.

Meskipun sempat terjadi kesalahpahaman antara PSSI dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) penunjukan enam stadion tersebut, namun kedua belah pihak akhirnya menemukan kata sepakat.

Hal ini juga telah dikomunikasikan antara Menpora Zainudin Amali dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) serta Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) juga Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dalam Rapat Terbatas pada Rabu (1/7/2020) lalu.

Keenam stadion terpilih sebenarnya baru sebatas rekomendasi PSSI. Pasalnya, ketetapan final mengenai venue Piala Dunia U20 2021 tetap berada di tangan FIFA.

Namun demikian, Menpora Zainudin Amali mengatakan bahwa pihaknya bakal melangsungkan proses renovasi dalam waktu dekat terhadap 6 stadion itu, termasuk Si Jalak Harupat.

“Tentang venue pertandingan tadi sudah diputuskan, kalau menunggu FIFA masih lama sementara Kementerian PUPR membutuhkan waktu untuk pengerjaan dan persiapan administrasi. Maka diputuskan [6 stadion], itu akan segera disesuaikan dengan putusan FIFA,” ucap Zainudin Amali seperti diwartakan Antara.


Profil Stadion Si Jalak Harupat

Stadion Si Jalak Harupat berlokasi di Desa Kopo dan Cibodas, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Stadion berkapasitas 27.000 penonton ini dibangun pada 2003.

Dalam proses pembangunannya, Pemerintah Kabupaten Bandung mengeluarkan dana sebesar Rp67 miliar dan menjadikan stadion ini sebagai stadion termegah di Kabupaten Bandung.

Secara teknis, proses pembangunan Stadion Si Jalak Harupat relatif berlangsung lancar. Namun, di sisi lain, sempat berembus kabar tak sedap lantaran adanya dugaan korupsi.

Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Barat kala itu, Halius Hosen, sempat mengatakan bahwa indikasi tersangka telah didapat.

Kecurigaan muncul lantaran ketika masa pembangunannya disetujui DPRD Kabupaten Bandung, pembayaran pada pihak pengembang yang semestinya lunas tahun 2005 justru telah rampung lewat dana anggaran tahun 2004.

Berbeda dengan Stadion Siliwangi yang berada di wilayah Kota Bandung, konsep Stadion Si Jalak Harupat jauh lebih modern.

Hal ini bisa dilihat dari sejumlah fasilitas yang ada. Jenis rumput yang digunakan, misalnya, adalah zoyzia matrell lin mer yang dapat meminimalisir pemain mengalami cedera.

Selain utu, lampu stadion berkekuatan 1.000 lux disematkan guna memungkinkan pertandingan malam hari. Tambahan fasilitas lainnya yaitu papan skor elektronik, lintasan untuk atletik, toilet, ruang ganti pemain, ruang wasit, dan lahan parkir.

Tak banyak hambatan berarti selama proses pembangunan membuat Si Jalak Harupat hanya rampung dalam kurun dua tahun saja. SJH diresmikan pada April 2005 oleh Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) kala itu, Agum Gumelar.

Sejarah Penamaan SJH

Dikutip dari bandungkab.go.id, terpilihnya nama Stadion Si Jalak Harupat sebelumnya dilakukan melalui sayembara.

Ada beberapa syarat dalam sayembara itu, antara lain: bukan nama orang, belum pernah digunakan oleh daerah lain, bersifat kedaerahan, dan harus mencerminkan lambang keberanian, gagah, dan pantang menyerah sebagaimana semangat olahraga.

Akhirnya, sayembara dimenangkan oleh Agustin Purnawan. Warga Kabupaten Bandung ini mengajukan nama Si Jalak Harupat yang tidak lain adalah julukan dari Oto Iskandar Di Nata.

Oto Iskandar Di Nata adalah pahlawan nasional sekaligus tokoh Paguyuban Pasundan asal Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

“Saat itu saya teringat Oto Iskandar Di Nata, tokoh pergerakan nasional yang merupakan orang Bandung. Bukan namanya, tapi julukannya yaitu Si Jalak Harupat yang membuat saya tertarik,” katanya seperti dikutip dari Detik (6 September 2012).

“Saya semakin yakin mengusulkan nama Si Jalak Harupat karena kriteria soal mewakili Kabupaten Bandung sudah terjawab,” lanjutnya.


Menggelar Event Besar

Setelah Stadion Siliwangi yang berada di pusat Kota Bandung tidak memenuhi kriteria sebagai kandang tim peserta Liga Indonesia, Persib mulai sering menggunakan Stadion Si Jalak Harupat sebagai markasnya.

Kendati kini sudah ada Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) yang dinilai lebih representatif, beberapa kendala membuat Persib terpaksa tetap berkandang di Stadion Si Jalak Harupat.

Selain Persib, Stadion Jalak Harupat juga digunakan oleh Persikab Kabupaten Bandung yang saat ini berkiprah di Liga 3. Pada 2015, Pelita Bandung Raya (PBR) juga sempat menjadikan SJH sebagai home base untuk menjamu lawan-lawannya.

Di event nasional, SJH pernah dipakai venue PON XIX 2016 bersama Stadion GBLA. Di tingkat internasional, SJH pernah menggelar laga Kualifikasi Piala AFC 2015 ketika Persib bertanding melawan Hanoi T&T, New Radiant, Ayeyawady, Lao United, dan Kitchee SC.

Stadion Si Jalak Harupat juga sempat dijajal Timnas Korea Selatan, termasuk pilar Tottenham Hotspur, Son Heung-min, saat bermain di Asian Games 2018. Kala itu, SJH menjadi tuan rumah Grup E yang diisi oleh Kirgistan, Malaysia, Bahrain, dan Korea Selatan.

Dengan sejumlah pengalaman itu, PSSI merekomendasikan Stadion Si Jalak Harupat Bandung dibandingkan dengan beberapa stadion yang sebelumnya sempat disebut menjadi calon venue Piala Dunia U20 2021.

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA U20 2021 atau tulisan menarik lainnya Hendi Abdurahman
(tirto.id - Olahraga)

Kontributor: Hendi Abdurahman
Penulis: Hendi Abdurahman
Editor: Iswara N Raditya
DarkLight