P.J. Zoetmulder (1906-1995)

Profesor Asli Belanda Berhati Jawa

Infografik Petrus Josephus Zoetmulder
Petrus Josephus Zoetmulder. FOTO/Istimewa
Oleh: Iswara N Raditya - 8 Juli 2017
Dibaca Normal 3 menit
Zoetmulder adalah seorang profesor sekaligus pastor kelahiran Belanda yang mengabdikan nyaris seluruh hidupnya di tanah Jawa.
tirto.id - Kembalinya Belanda tak lama setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 menjadi saat-saat yang amat rawan bagi Petrus Josephus Zoetmulder. Nyawanya sewaktu-waktu bisa melayang. Kala itu, kerap terjadi bentrokan melawan pasukan republik. Sentimen rakyat terhadap orang-orang Belanda, siapapun itu, sedang dalam tensi yang sangat tinggi.

Zoetmulder sungguh pernah mengalaminya. Suatu hari di Gereja Kemetiran, Yogyakarta, pendeta Katolik ini nyaris dihabisi oleh jemaatnya sendiri lantaran ia adalah orang Belanda tulen. Beruntung, ada jemaat lain yang membela dan menyelamatkannya. “Beliau adalah orang suci!” seru jemaat yang orang asli Jawa itu (M. Nijhoff, Anthropologica, 1997:4).


Selamatlah Zoetmulder meskipun ia tidak akan menyesal apabila benar-benar harus tewas saat itu. Zoetmulder memang seratus persen orang Belanda, namun Jawa telah menjadi hal yang paling dicintainya, bahkan melebihi tanah airnya sendiri. Zoetmulder sudah sangat siap menutup mata di tanah Jawa.

“Saya tak pernah merasa rindu dengan negeri Belanda. Bahkan, kalau Tuhan mencabut nyawa saya, saya ingin itu terjadi di Jawa,” demikian ucap Zoetmulder suatu kali (Tempo, Volume 22, 1992:183).

Merantau ke Jawa Sejak Remaja

Petrus Josephus Zoetmulder lahir di Utrecht, Belanda, tanggal 29 Januari 1906. Piet, begitu ia biasa disapa dengan nama kecilnya, sudah berminat mengabdikan dirinya di jalan Tuhan sejak duduk di bangku sekolah menengah. Maka, Piet muda memutuskan untuk menempuh pendidikan awal untuk calon pendeta.

Pastor J. Willekens, salah seorang guru Zoetmulder di sekolah agama itu, menyarankan kepadanya untuk merantau ke Jawa, pulau teramai di Hindia (Indonesia) yang telah menjadi wilayah pendudukan Belanda sejak berabad-abad lampau.

Zoetmulder mematuhi saran gurunya tersebut. Setelah pendidikannya di Belanda rampung, ia langsung menuju ke Jawa dengan menumpang kapal. Saat itu Zoetmulder masih remaja, usianya baru 19 tahun dan sudah mantap meninggalkan kampung halamannya demi pengabdian kepada agama dan Tuhannya.


Sesampainya di Jawa, Zoetmulder ditempatkan di Sekolah Seminari Menengah di Yogyakarta, tepatnya di daerah Kotabaru, untuk mengajar bahasa Latin dan Yunani selama dua tahun awal (Suratmin, Prof. Dr. Petrus Josephus Zoetmulder, Karya dan Pengabdiannya, 1983:11).

Pastor J. Willekens ternyata menyusul ke Jawa tiga tahun setelah Zoetmulder tiba. Mantan gurunya itu menganjurkan kepada Zoetmulder untuk mempelajari segala hal tentang budaya Jawa, termasuk filsafat, sastra, hingga bahasa Jawa kuno.

Sekali lagi, Zoetmulder melaksanakan saran guru yang sangat dihormatinya itu. Dan nantinya, ia meraih gelar akademis tertinggi sebagai pakar kebudayaan Jawa, khususnya dalam bidang sastra dan bahasa.

Berpuluh-puluh buku dan artikel tentang seputar agama serta budaya Jawa pun dihasilkannya. Karya terakhir Zoetmulder sebelum wafat adalah Kamus Jawa Kuno-Indonesia, yang diterbitkan pada 1995.

Bertaruh Nyawa Demi Kembali ke Jawa

Zoetmulder sempat pulang ke Belanda untuk merampungkan pendidikan tingginya. Setelah meraih gelar sarjana dari Universitas Leiden, ia tetap melanjutkan studi di Belanda. Bulan Oktober 1935, Zoetmulder mempresentasikan disertasi doktoralnya dengan judul “Pantheisme en Monisme in de Javaansche Soeloek Literatuur”, dan dinyatakan lulus dengan predikat cum laude.

Tiga tahun berselang, yakni pada 1938, Zoetmulder dikukuhkan sebagai Imam Katolik di Belanda. Sebelum kembali ke Jawa, ia ingin menyelesaikan studi teologinya terlebih dulu. Selama 4 tahun Zoetmulder memperdalam ilmu agama di Maastricht, Belanda (Mingguan Hidup, Volume 49, 1995:40).


Setelah lulus, Zoetmulder masih harus menjalani tertiat atau masa pendidikan dan pendalaman rohani, selama setahun di Belgia. Namun, ia tidak lama bertahan di sana lantaran pasukan Nazi dari Jerman menyerbu negara tetangga Belanda itu. Situasi darurat tersebut membuat Zoetmulder mengungsi ke Perancis pada Juni 1940.

Zoetmulder memutuskan untuk segera kembali ke Jawa. Bertolak dari Perancis, ia menumpang kapal menuju Hindia Belanda. Perjalanan jauh itu ternyata penuh hambatan, nyawa menjadi taruhannya. Kapal yang ditumpangi Zoetmulder terpaksa singgah dulu di Inggris. Penyebabnya, Nazi memasang banyak ranjau di jalur pelayaran dari Eropa.

Sebulan kemudian, kapal Zoetmulder akhirnya memasuki perairan Jawa. Ia mendengar kabar bahwa ada seorang teman yang juga sedang dalam perjalanan dengan kapal berbeda tewas terkena torpedo Jerman. Zoetmulder bersyukur bisa selamat sampai tujuan. “Tuhan menghendaki saya berbahagia di tanah Jawa," ucapnya (Aulia A. Muhammad, Bayang Baur Sejarah: Sketsa Hidup Penulis-penulis Besar Dunia, 2003:163).


Totalitas untuk Jawa dan Indonesia

Zoetmulder datang lagi ke Jawa manakala Belanda sedang menyongsong masa-masa akhirnya di Indonesia. Tahun 1942, Belanda benar-benar hengkang setelah ditaklukkan Jepang. Pembersihan terhadap orang-orang Belanda pun segera dilakukan, termasuk Zoetmulder yang menjadi tawanan Jepang dan dipenjarakan di Cimahi, Jawa Barat.

Hidup Zoetmulder belum sepenuhnya terjamin aman ketika Indonesia akhirnya merdeka pada 1945. Kembalinya pasukan Belanda dengan wujud NICA memantik terjadinya perang di mana-mana, hingga penyerahan kedaulatan pada akhir 1949. Sejak itulah, Zoetmulder mulai menjalani kehidupan di Jawa dengan lebih nyaman, dan ia memutuskan untuk beralih kewarganegaraan menjadi WNI.


Tahun 1955, Zoetmulder diangkat sebagai Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta (Majalah Bahana, Masalah 7-12, 1996:8). Suatu kali, Zoetmulder menghadapi seorang mahasiswa yang tidak mau mempelajari bahasa Jawa kuno yang diampunya. Mahasiswa itu beralasan bahwa ia tidak sanggup karena berasal dari luar Jawa.

Zoetmulder pun berkata, “Saya sendiri dari Belanda, dan saya mampu. Yang terpenting kemauan dan niat. Apapun bisa dipelajari, tak ada yang sulit.”

Pengabdian Zoetmulder untuk Jawa yang merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia memang sangat total meskipun ia adalah orang asli Belanda. Tahun 1970, ia memperoleh penghargaan dari pemerintah Indonesia sebagai Pengabdi dan Pendorong di Bidang Sosial Kemanusiaan.

Empat tahun berselang, Zoetmulder dianugerahi penghargaan International Man of the Year dari International Biographical Centre, Cambridge, Inggris. Selanjutnya pada 1983, Kerajaan Belanda menyematkan gelar Commandeur in der Order van Oranye Nassau kepadanya.

Prof. Dr. Petrus Josephus Zoetmulder menjalani hidup yang cukup panjang di tanah Jawa, ia meninggal dunia pada 8 Juli 1995 dalam usia 89 tahun, dimakamkan di Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Tanggal 13 Agustus 2015 atau dua dekade setelah mangkatnya sang pendeta besar asal Belanda yang juga pakar sastra dan bahasa Jawa itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Iswara N Raditya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Iswara N Raditya
DarkLight