Pro-Sajam, Anti-Tangan Kosong: Tawuran Mematikan Remaja Indonesia

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 1 Juni 2018
Dibaca Normal 4 menit
Kecerdasan sosial-emosional milenial dinilai lebih rendah dari generasi sebelumnya.
tirto.id - Sabtu (26/5/2018), pukul 02.30 pagi. Warga muslim di Cirendeu, Tangerang Selatan, mulai menyiapkan sahur. Namun “menu” yang “disantap” oleh dua kelompok remaja dari dua kompleks perumahan di wilayah tersebut jauh dari kenormalan: tawuran bermodal senjata tumpul dan yang tajam (sajam).

Kapolres Tangerang Selatan, AKBP Ferdy Irawan, mengatakan jadwal saling serang sebenarnya pukul 03.00, tetapi entah mengapa terjadi lebih cepat.

Di tengah kericuhan akibat baku hantam dan ayunan senjata, MZS (21) terjatuh. AS (19) dan ADA (16) melihatnya sebagai kesempatan untuk mengeroyok. AS memukul punggung MZS dengan tongkat pemukul golf. Sementara ADA membabat salah satu pergelangan tangan MZS—hingga putus.

Pada Minggu (27/5/2018) Ferdy menyatakan keduanya sudah ditangkap dan menunggu proses hukum lebih lanjut. Penangkapan terjadi pada hari yang sama, sekitar pukul 13.00 WIB. Terungkap bahwa sebelumnya para pelaku berniat untuk melarikan diri dengan meminta bantuan temannya.


“Dibuktikan dengan chat pada aplikasi di gawai yang sudah diamankan polisi,” kata Kasat Reskrim Polres Tangerang Selatan, AKBP Ahmad Alexander Yurikho.

Ahmad menambahkan bahwa pelaku sudah dikeluarkan dari sekolahnya karena sering terlibat perkelahian. Polisi masih melanjutkan penyelidikan terkait para pelaku tawuran lain.

ADA dan AS dijadikan tersangka dengan Pasal 170 KUHP soal kekerasan dan Pasal 351 KUHP dengan tuduhan penganiayaan berat. Mereka juga dihadapkan pada Pasal 80 UU Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman mencapai 5 tahun penjara.


Kasus ini menambah daftar tawuran berdarah di Indonesia yang melibatkan anak-anak muda dan anak usia remaja. Baru pada pertengahan Februari lalu dua kelompok siswa SD dan SMP terlibat tawuran pada pukul 3 pagi di Jalan Gudang Air dan Jalan Puskesmas, Ciracas, Jakarta Timur.

Dua orang peserta tewas, yakni DK (14), siswa di SMP Widya Manggala dan MR (13), siswa di SDN 09 Susukan. DK tewas karena luka sabetan celurit di bagian punggung, leher, dan dadanya. Ia ditemukan sudah tak bernyawa dengan helm masih terpasang di kepala. Sementara itu MR tewas karena luka bacok di bagian leher.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono mengatakan pangkal pemicunya cuma saling ejek di Facebook. Kedua kelompok sebenarnya sering nongkrong bareng hingga lewat tengah malam, bahkan ada yang mengenal satu sama lain.

Degradasi Kecerdasan Sosial-Emosional


Psikolog Kasandra Putranto menyoroti tawuran yang dilakukan generasi milenial atau generasi Z lebih ganas ketimbang yang dilakukan generasi 30 tahun yang lalu. Perkelahian dilakukan tanpa senjata atau tangan kosong, sehingga paling parah luka di kepala. Sementara kini yang dipakai untuk menyerang lawan adalah senjata tajam, sehingga risikonya meningkat tajam jadi kematian.

Tawuran yang dilakoni anak-anak usia sekolah menengah pertama atau atas di Indonesia dilingkupi sejumlah anomali. Misalnya, meski taruhannya nyawa, tapi tetap dijadikan tradisi. Contoh lain, adalah waktu pelaksanaannya yang justru kian marak di bulan suci Ramadan atau masa di mana warga muslim Indonesia sedang fokus beribadah.

Dalam konteks psikologi, Kasandra bahkan secara blak-blakan menyebutkan bahwa generasi milenial punya kecerdasan sosial-emosional yang lebih rendah ketimbang generasi-generasi sebelumnya.

“Kurang bisa kontrol diri. Remaja di era milenial adalah remaja dengan kapasitas kecerdasan sosial-emosional dan kemampuan nalar yang terbatas. Norma sosial juga bergeser, sehingga kemampuan berempati mereka kian terkikis,” jelasnya saat dihubungi Tirto, Senin (28/5/2018).


Nuri Aprilia dan Herdina dari Fakultas Psikologi Universitas Airlangga pernah meneliti topik ini untuk menguji hubungan antara kecerdasan emosi dengan perilaku tawuran yang dilakoni 44 remaja laki-laki berusia 15-18 tahun yang bersekolah di SMK 'B', Jakarta.

Hasilnya, sebagaimana dipublikasikan di Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan (April 2014), menunjukkan terdapat hubungan negatif antara kecerdasan emosi dengan perilaku tawuran. Artinya, semakin tinggi kecerdasan emosi seorang remaja, maka akan semakin rendah perilaku tawurannya.

Kasandra mengatakan para pelaku tawuran adalah produk dari lingkungan yang punya kultur kekerasan. Anak-anak remaja itu tumbuh menjadi pribadi yang agresif dan menggunakan jalan kekerasan sebagai solusi prioritas, atau bahkan satu-satunya, saat menghadapi masalah.

“Yang terbiasa dengan konflik, menyelesaikan segala sesuatu dengan kekerasan, anak akhirnya tidak terbiasa menyelesaikan persoalan dengan damai. Mereka frustrasi, kemudian mencari kesenangan melalui tawuran, sebagai pelampiasan emosi, tidak mampu mengendalikannya,” jelasnya.


Kasandra menambahkan ada faktor genetis yang turut berpengaruh. Teori ini jarang diungkap di media massa, namun ia membekali argumen dengan penelitian bidang neuropsikologi tentang mengapa seseorang lekat dengan gaya hidup penuh kekerasan.

“Mereka (pelaku tawuran) cenderung melakukan kekerasan karena komposisi amigdala otaknya lebih besar, sebab selama proses pertumbuhannya diwarnai kekerasan. Jadi ini juga berhubungan dengan faktor genetis,” katanya.

Soal mengapa tawuran kekinian makin berdarah-darah, Kasandra menitikberatkan pada dorongan agresivitas dari sistem limbik dan lemahnya kemampuan pengambilan keputusan yang berpusat di prefrontal korteks. Hal ini, katanya, mendorong gagah-gagahan saat tawuran, lalu kebablasan sampai ke aksi pembunuhan.

Minimnya kontrol emosi juga yang menyebabkan tawuran kerap timbul hanya karena perkara sepele, seperti kasus di Ciracas bulan Februari kemarin. Singgih Kurniawan da A. Mutho M. Rois dari Fakultas Psikologi Universitas Islam Sultan Agung pernah meneliti ini pada tahun 2012 silam. Tujuannya adalah untuk menguji, apakah tawuran bisa lahir dari prasangka?

Jawabannya, sesuai hasil riset yang keduanya jajaki di kalangan pelajar Kota Semarang, adalah bisa. Ada perbedaan yang sangat signifikan terkait prasangka terhadap kelompok siswa sekolah lain antara siswa yang terlibat dengan yang tidak. Siswa yang terlibat tawuran memiliki prasangka lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang tidak terlibat tawuran.


Kasandra tak lupa menegaskan bahwa persoalan perilaku tawuran itu berangkat dari bagaimana sang pelaku dididik di rumah—komunitas terkecil tempat pelaku membentuk kepribadian diri. Hal ini berlaku di keluarga yang utuh maupun yang mengalami “broken home”.

Pada 2012 silam Andi Maulida Rahmania dan Dewi Retno Suminar dari Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya mempublikasikan risetnya di Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan tentang hubungan antara kontrol orangtua dengan kecenderungan perilaku delinkuensi pada remaja yang pernah terlibat tawuran.

Hasilnya menunjukkan bahwa semakin tinggi persepsi terhadap kontrol orangtua, maka semakin rendah kecenderungan perilaku delinkuensi anak. Artinya, peran pengawasan orangtua adalah komponen penting untuk memahami perilaku anti-sosial yang dilakukan anak remajanya.

Secara keseluruhan, hubungan keluarga yang kuat dapat mengurangi kecenderungan si anak untuk menjalin hubungan negatif dengan teman sebayanya. Saat hubungan negatif dijauhi, potensi untuknya melakukan tawuran juga mengecil.

Hubungan yang kuat dimulai dengan komunikasi yang memadai. Mengutip riset R. Rachmy Diana dari Program Studi Psikologi UIN Sunan Kalijaga dan Sofia Retnowati dari Fakultas Psikologi UGM (diunggah di Jurnal Psikologi edisi Desember 2009), semakin tinggi komunikasi orangtua dan anak, semakin rendah tingkat agresivitas si anak (remaja). Hal yang sama juga berlaku sebaliknya.

infografik tawuran

Warisan Senior


Tawuran juga tak lepas dari proses pewarisan prasangka hingga teknik bertempur di jalanan dari senior ke junior, yang akhirnya menyebabkan tawuran menjadi sebuah tradisi. Riska Amalia dan kawan-kawan pernah meneliti topik ini dan mereka publikasikan di Jurnal Interaksi Online edisi April 2013.

Mereka menemukan bahwa proses pewarisan rasa permusuhan antar-sekolah itu ternyata berlangsung dalam nuansa yang cukup intimidatif.

“Budaya dipertahankan dengan cara diturunkan dari generasi ke generasi, seniorlah yang bertugas mentransmisikan budaya tersebut kepada junior. Senior menggunakan teknik komunikasi koersif yaitu dengan ancaman, paksaan hingga kekerasan fisik saat menyampaikan pesan kepada junior,” tulis Riska dkk.


Para senior juga memakai dua teknik: “pay off idea” dan “fear arousing”. “Pay off idea” dilakukan dengan memberikan harapan pada para junior bahwa mereka akan diterima sebagai bagian dari kelompok jika mau ikut tawuran.

Sedangkan “Fear arousing” didasarkan pada ketakutan para junior pada konsekuensi yang akan diterima jika tidak mematuhi perintah senior. Konsekuensinya merentang dari sekedar bentakan hingga kekerasan fisik. Maka para junior sebenarnya mengawali petualangan berbahayanya dari keterpaksaan dan rasa takut.

Meski demikian fase takut dan terpaksa hanya berlangsung di awal-awal saja. Remaja adalah manusia yang sedang berada dalam fase pembentukan karakter. Segala tindakan yang mereka lakukan atas nama mencari pengalaman, terlepas dari baik maupun buruk menurut hukum atau kacamata moral, akan mengeras di dalam sanubari, dan membentuk pondasi sosial-emosionalnya.

“Lambat laun junior dapat menerima budaya kelompok (tawuran) dan menerapkannya bukan karena tuntutan senior, namun karena telah terinternalisasi ke dalam dirinya.”

Baca juga artikel terkait TAWURAN atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf