Privasi adalah PR Terbesar Facebook

Potongan karton berbentuk CEO Facebook Mark Zuckerberg terlihat saat aksi demo menjelang pertemuan antara Zuckerberg dan sejumlah pemimpin Parlemen Eropa di Brussels, Belgia, Selasa (22/5/2018). ANTARA FOTO/REUTERS/Francois Lenoir
Oleh: Ahmad Zaenudin - 5 Mei 2019
Dibaca Normal 3 menit
Mark Zuckerberg dan Facebook punya pekerjaan rumah soal privasi para penggunanya.
tirto.id - Saat pembukaan konferensi tahunan Facebook F8 2019, Mark Zuckerberg menegaskan komitmennya untuk menciptakan platform media sosial yang terpusat pada privasi pengguna (privacy-focused social platform). Komitmen ini akan terlaksana jika Facebook melaksanakan enam prinsip, yakni: private interaction, encryption, reducing permanence, safety, interoperability, dan secure data storage.

Zuckerberg saat menyatakan komitmennya soal privacy-focused social platform, terdiam sejenak, dan dilanjutkan dengan tertawa kecil.

“Saya paham, banyak orang yang berpikir kami tidak serius soal ini,” kilahnya. “Dalam sejarahnya, kami memang tidak memiliki reputasi kuat untuk urusan privasi,” tambah Zuckerberg.



“Tapi, kami sangat berkomitmen untuk menciptakan privacy-focused social platform,” tutupnya.

Privacy-focused social platform adalah masa depan dunia media sosial. Dalam catatan pribadi Zuckerberg yang dipublikasikan pada Maret 2019, terungkap bahwa “kian banyak orang menginginkan untuk berkomunikasi maya secara privat, sama seperti perlakuan orang-orang atas siapa saja bisa mengakses ruang keluarga mereka.”

Kenyataan tersebut disimpulkan Zuckerberg selepas meneliti interaksi yang terjadi pada Facebook, Instagram, Messenger, dan WhatsApp.

“Banyak orang lebih memilih komunikasi intim, empat mata atau hanya dalam grup kecil,” tulisnya. “(Karena dengan itu mereka memperoleh privasi.) Privasi memberikan kekuatan bagi para pengguna untuk menjadi diri sendiri,” lanjutnya.

Seperti yang ditertawakan oleh Zuckerberg, Facebook memang memiliki rekam jejak buruk soal perlindungan privasi penggunanya, bukan akhir-akhir ini saja melainkan sejak tahun-tahun awal kemunculannya.

Sebagaimana dilansir TechRepublic, pada 2005, beberapa ilmuwan dari Massachusetts Institute of Technology sukses menggondol 70 ribu data pengguna dari empat sekolah di Amerika Serikat. Sebagai catatan, pada awal kehadiran Facebook hanya pengguna yang memiliki e-mail institusi pendidikan yang bisa menggunakan Facebook.



Kegagalan perlindungan privasi berlanjut. Pada 2013, sebanyak 6 juta akun Facebook terpapar ke publik karena adanya design flaw alias kesalahan rancang-bangun pada platform ini, khususnya pada fitur rekomendasi pertemanan.

Pada 2018, ada 50 juta akun lainnya mengalami nasib serupa, tetapi dengan alasan berbeda. Kala itu, kebocoran terjadi lantaran adanya celah pada Application Programming Interface (API) yang digunakan pengembang aplikasi pihak ketiga.

Puncak kegagalan Facebook melindungi privasi penggunanya terungkap pada 2018. Kala itu, firma Cambridge Analytica sukses menggondol data-data pribadi dari 87 juta akun Facebook. Miris, data tersebut digunakan salah satunya untuk memenangkan Donald Trump menjadi presiden Amerika Serikat.

Seakan tak belajar dari masa lampau, pada awal 2019, akibat sistem verifikasi baru yang meminta pengguna memberikan kata kunci e-mail, ada 1,5 juta akun bermasalah soal privasinya.

Zuckerberg seakan berkilah. Facebook mungkin bobrok, tapi tidak semua. Privacy-focused social platform yang hendak diciptakan Facebook akan dibuat berlandaskan pada produk yang dibeli Zuckerberg pada Februari 2014 senilai $19,3 miliar yaitu WhatsApp.

WhatsApp, klaim Zuckerberg secara tersirat, adalah kesuksesan raksasa media sosial itu soal privasi. Katanya, “kami akan membangun privacy-focused social platform berlandaskan bagaimana kami mengembangkan WhatsApp.”

WhatsApp, katanya kemudian, dibangun “seaman mungkin.” Dari pondasi itu, Facebook menciptakan banyak fitur-fitur interaksi, seperti perpesanan, panggilan video, grup, stories, dan di beberapa negara: pembayaran. WhatsApp diciptakan oleh tim “yang terobsesi dengan lingkungan intim.”

“Bahkan ketika kita menambahkan fitur yang memungkinkan pengguna WhatsApp membagi konten secara luas, itu masih jauh lebih kecil lingkupnya dibandingkan Facebook atau Instagram,” tulis Zuckerberg.

Apakah WhatsApp seaman yang diklaim Zuckerberg?

Dalam paper berjudul “When Signal Hits the Fan: On the Usability and Security of State-of-the-Art Secure Mobile Messaging” yang ditulis Svenja Schroder, dalam kancah aplikasi pesan instan, Signal adalah aplikasi teraman.

Mengapa? Signal merupakan aplikasi yang berawal dari dua hal berbeda: TextSecure, aplikasi pesan instan terenkripsi, dan RedPhone, aplikasi panggilan berbasis suara terenkripsi. Keduanya bergabung, menciptakan aplikasi yang mengimplementasikan Curve25519 dan HMAC-SHA256 sebagai key derivation function (KDF). Dalam dunia Kriptografi, KDF merupakan suatu fungsi untuk menghasilkan lebih dari satu kunci rahasia guna membuka konten yang terkunci.

Atas fitur yang canggih ini, menurut Schroder, Signal menjadi standar de facto bagi aplikasi-aplikasi lain yang menerapkan skema end-to-end encryption. Karena Signal juga mengusung konsep Open Source, WhatsApp pun mengembangkan sistem keamanannya berdasarkan aplikasi ini. WhatsApp baru menerapkan end-to-end encryption pada April 2016.

Meskipun menerapkan sistem keamanan berdasarkan Signal, ada perbedaan dalam tubuh WhatsApp. Paul Rosler, dalam papernya berjudul “More is Less: How Group Chats Weaken the Security of Instant Messengers Signal, WhatsApp, and Threema,” menyebut bahwa selain memanfaatkan Curve25519 dan HMAC-SHA256, WhatsApp juga menggunakan Noise Pipes, guna memproteksi jalur komunikasi antara pengguna dengan servernya.

Sayangnya, lanjut Rosler, WhatsApp memperlakukan berbeda antara komunikasi empat mata dengan komunikasi dalam grup. Dibandingkan mengenkripsi satu-satu pesan yang dikirim ke anggota grup, WhatsApp justru menciptakan symmetric key, kunci enkripsi yang digunakan bersama. Akibatnya, ada celah yang disebut “Burgle into a Group” dan “Breaking Traceable Delivery,” di mana masing-masing celah itu bisa dimanfaatkan untuk mengambil kendali pesan-pesan yang dikirim dalam grup.

Masalah WhatsApp bukan soal keamanan data saja. WhatsApp, dalam tahun-tahun terakhir, menjadi medium penyebaran hoaks yang efektif.



Peran WhatsApp sebagai medium penyebaran hoaks terjadi, salah satunya, karena platform ini populer di banyak negara. Adi Putra Wardhana, dalam “Pseudi-Identity: Lifestyle’s Ecstasy Society in Whatsappization” paper yang terbit dalam “Borderless Communities & Nations With Borders Challenges of Globalisation,” menyebutkan populernya WhatsApp tercipta atas empat faktor.

WhatsApp dianggap efisien, komunikatif, manipulatif, dan tanpa batas. Efisien karena WhatsApp mudah dan murah. Komunikatif dan manipulatif karena WhatsApp dianggap memberikan jembatan komunikasi yang mudah bagi para penggunanya serta aplikasi ini memiliki banyak fitur yang memicu kesenangan.

Salah satu fitur utama WhatsApp ialah grup. Menggunakan WhatsApp, masyarakat bisa menciptakan grup yang mencakup orang-orang dengan pemikiran atau latar belakang yang sama. Siapapun pengguna WhatsApp bisa mengirim pesan ke manapun, tanpa ada halangan.

Aplikasi ini cukup privat, sukar membendung hoaks yang tumbuh dalam diri WhatsApp. Untuk menciptakan privacy-focused social platform, Zuckerberg memiliki segudang pekerjaan rumah (PR) yang harus dituntaskan.

Baca juga artikel terkait FACEBOOK atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra
DarkLight