PRISTIN Bubar, Ada Kutukan Girl Group K-Pop Tak Bisa Bertahan Lama?

Oleh: Aditya Widya Putri - 28 Mei 2019
Dibaca Normal 3 menit
Ada persoalan bias gender terkait kelangsungan grup idola K-pop perempuan.
tirto.id - Pledis Entertaiment kembali menarik perhatian para penggemar K-pop di dunia. Salah satu agensi hiburan di Korea Selatan ini membubarkan salah satu grup idola potensial, PRISTIN.

Setelah girl group terdahulu mereka, After School, bubar, kini PRISTIN mengalami nasib sama, hanya berkarier selama dua tahun saja. Warganet pecinta K-pop ramai-ramai menghujat Pledis karena dianggap tak becus mengurus artisnya.

“Grup yang debut di bawah Pledis selalu begini, dibuang, tak terurus padahal mereka potensial.”

“Kasihan PRISTIN disia-siakan, padahal saking bahagianya, mereka menangis saat didebutkan.”

“Pledis menyebalkan!”

PRISTIN merupakan girl group dari Korea Selatan yang dibentuk Pledis Entertainment pada 21 Maret 2017. Grup ini beranggotakan 10 orang idola, yakni Nayoung, Kyulkyung, Roa, Yuha, Eunwoo, Rena, Yehana, Sungyeon, Xiyeon, dan Kyla. Cikal bakal pembentukan PRISTIN bermula dari ajang pencarian bakat Produce 101. Ada tujuh anggota PRISTIN yang ikut ajang tersebut, termasuk Nayoung dan Kyulkyung yang menduduki peringkat 11 besar.


Nayoung dan Kyulkyung muncul dalam debut bersama girl group proyek Produce 101 yang bernama I.O.I. pada Mei 2016. Setahun setelah kontrak habis, mereka bergabung dengan delapan orang anggota PRISTIN lain dan meluncurkan minialbum Hi!. Dari awal kemunculannya, PRISTIN sukses menarik perhatian penggemar K-pop karena lagunya mudah diingat dan vokal yang tetap stabil pada penampilan langsung.

“Para anggota PRISTIN yang berbakat bersama-sama membikin lirik serta mengarasemen musik,” demikian laman Soompi menarasikan potensi anggota PRISTIN di minialbum pertama.

Usaha PRISTIN menangani sendiri proyek pembuatan albumnya patut diapresiasi. Apalagi jika disandingkan dengan fenomena saat ini, ketika banyak idola hanya membawakan lagu yang telah disiapkan oleh agensi mereka. Proses penciptaan lagu ini berlangsung sampai pembuatan minialbum kedua sekaligus album terakhir mereka, Schxxl Out.


Pledis Entertaiment memutuskan untuk membubarkan PRISTIN pada 24 Mei 2019 kemarin. Lewat pernyataan resminya, seperti dipacak laman Soompi, mereka mengumumkan pemutusan kontrak dan pembubaran PRISTIN. Tujuh anggota selain Kyulkyung, Yehana, Sungyeon tak memperpanjang kontraknya dengan Pledis. Keputusan itu diambil setelah tercapai kesepakatan atas diskusi panjang perusahaan dengan para anggota PRISTIN.

“Halo. Ini Pledis Entertainment. Pertama, kami dengan tulus berterima kasih kepada penggemar yang peduli dan mencintai PRISTIN.....(dan) Kami minta maaf kepada fans atas berita ini,” tulis Pledis, masih dari laman yang sama.

Kabar tentang bubarnya PRISTIN, sempat menjadi topik populer yang dibicarakan di Twitter. Penggemar tidak rela atas keputusan Pledis. Padahal, PRISTIN dianggap potensial bahkan sudah menyabet beberapa penghargaan bergengsi seperti ‘Rookie Award’ dari Asia Artist Awards, ‘Best New Female Artist’ dari Mnet Asian Music Awards, ‘New Artist Award’ dari Seoul Music Awards, dan ‘Global Rookie Top 5’ dari V Live Awards.


Di Balik Tumbangnya Girl Group

Bertahan di industri musik Korea untuk waktu yang lama bukanlah perkara mudah, terutama bagi grup idola perempuan. Ada mitos ‘kutukan 7 tahun’ yang diyakini berlaku untuk mereka. Perjalanan karier grup idola perempuan tak akan bertahan lebih lama dari 7 tahun, begitu yang diyakini.

Pada kasus PRISTIN bahkan lebih pendek. Jika ditotal, dari dua tahun berkarier, PRISTIN hanya aktif di tahun pertama saja. Setelah mengeluarkan minialbum terakhir pada Agustus 2017, mereka vakum hingga akhirnya bubar.

Mari kita runut masa karier beberapa girl group kenamaan untuk membuktikan mitos ‘kutukan 7 tahun’. Girl group pertama yang ada dan membuka gerbang industri musik K-pop adalah S.E.S besutan SM Entertaiment. S.E.S debut pada 1997 dan bubar pada 2002, artinya mereka aktif hanya dalam rentang lima tahun. Lalu, ada girl group pertama besutan YG Entertaiment, 2NE1, yang bertahan selama 7 tahun dari 2009 hingga 2016.

Sementara itu, girl group pertama milik Pledis, After School, yang dibentuk pada 2009 tak pernah ada kabarnya lagi sejak comeback terakhir pada 2014 lalu. Saat ini hanya ada empat anggota aktif di After School. Pledis menerapkan sistem gugur atau yang biasa mereka sebut ‘kelulusan’ pada girl group ini. Tiap anggotanya dapat keluar dari grup dan digantikan dengan anggota baru lainnya.


Infografik Annyeong Pristin
Infografik Annyeong Pristin. tirto.id/Quita


Grup perempuan yang mampu mematahkan mitos tersebut hanyalah Wonder Girls dengan masa karier selama 10 tahun dan Girls Generation yang masih aktif dari 2007 hingga sekarang. Namun, ‘kutukan 7 tahun’ terjadi pada grup perempuan lainnya. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Kevin Cawley, profesor studi Asia Timur di University College Cork, Irlandia, menganalisis hal ini terjadi karena industri musik K-pop memiliki bias gender. Grup idola perempuan lebih sulit bertahan dibanding grup idola pria.

Ada banyak alasan, mulai dari tuntutan citra tubuh hingga hujatan penggemar jika mereka terlihat dekat dengan para idola pria. Para idola perempuan ini lazimnya memiliki umur yang masih sangat muda, berkisar 16-17 tahun saat debut. ‘Kutukan 7 tahun’ melunturkan citra mereka yang digaungkan cantik, muda, dan imut.

Selain itu, para idola perempuan juga dituntut memiliki citra tubuh sempurna, putih, langsing, cantik. Pada kasus PRISTIN, salah satu anggota yang bernama Kyla sering mendapat hujatan karena dianggap terlalu gemuk untuk standar ukuran seorang idola. Mantan anggota After School, Uee, sampai kehilangan berat badan signifikan karena standar yang sama. Sulli, mantan anggota f (x) dihujat karena berkata bahwa dirinya cantik.

Respons berbeda diperlihatkan penggemar pada idol pria. Penggemar tak pernah merisak Shindong Super Junior yang bertubuh subur. Saat Kim Hee-chul, anggota Super Junior, mengaku menjadi anggota paling tampan di grup, penggemar justru menganggap lucu komentar tersebut. Grup idola laki-laki memiliki keuntungan lebih hanya karena identitas gender mereka.

“Idol perempuan dituntut mematuhi norma konservatif sekaligus tampil menghibur dengan menjual citra tubuh mereka, sementara idola pria terbebas dari itu semua,” kata Kevin Cawley, seperti dilansir laman PRI.

Baca juga artikel terkait K-POP atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Musik)


Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani