Liga Champions 2019

Preview Taktik MU vs PSG: Adu Lincah Herrera & Kepintaran Verratti

Oleh: Renalto Setiawan - 12 Februari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Ander Herrera dan Marco Verratti akan menjadi pemain penting dalam duel antara Manchester United dan Paris Saint-Germain di Old Trafford nanti.
tirto.id - Duel antara Manchester United dan Paris Saint-Germain baru akan terjadi, Rabu (13/2/2019) pukul 03.00 WIB nanti. Pertandingan ini akan menjadi pertemuan pertama Setan Merah dan PSG di ajang resmi. Jauh hari sebelum laga berlangsung, Ole Gunnar Solskjaer dan Thomas Tuchel ternyata sudah ancang-ancang membuat laga berjalan secara menarik.

Di bawah asuhan Solskjaer, United sejauh ini belum terkalahkan. Bermain dalam 11 pertandingan (9 pertandingan liga dan 2 pertandingan Piala FA), United menang 10 kali dan hanya 1 kali bermain imbang. Maka, Solskjaer pun yakin United bisa melanjutkan pencapaian positifnya itu saat menghadapi PSG nanti.

"Skuat ini mempunyai kapasitas untuk mengalahkan setiap lawan. Saat kami bisa bermain dengan rasa percaya diri yang kami punya, kami akan selalu melihat ke depan," kata Solskjaer, dilansir dari Guardian.

Sementara itu, PSG datang ke Old Trafford tidak dengan kekuatan terbaiknya. Tim asal Paris itu tidak akan diperkuat Neymar dan Edinson Cavani, dua penyerang terbaik mereka. Walaupun demikian, Tuchel mewanti-wanti Setan Merah, bahwa bermain menyerang sudah menjadi "DNA" bagi PSG.

"Kami memiliki identitas sebagai sebuah tim dan tidak akan mudah mengubah identitas tim [...] Kami memainkan sepakbola menyerang, kami adalah PSG, dan itu yang akan kami lakukan – menciptakan peluang ada di dalam DNA kami."


Komposisi PSG dan Pentingnya Peran Verratti


Jika bermain menyerang hanya berpatokan dengan jumlah gol yang sudah diciptakan, PSG jelas menjadi lakon di Liga Champions Eropa sejauh ini. Anak asuh Thomas Tuchel ini sudah mencetak 17 gol, satu gol lebih banyak dari Manchester City yang berada di peringkat kedua. Namun, bagaimana mereka akan bermain menyerang tanpa Neymar dan Cavani?

Akhir-akhir ini, terutama saat bermain melawan Guingamp dan Rennes, PSG memainkan formasi unik: 4-2-2-2. Jika melihat komposisi pemainnya, formasi tersebut tentu dimaksudkan untuk bermain menyerang. Saat menang 9-0 atas Guingamp, Neymar, Mbappe, Cavani, dan di Maria dimainkan secara bersamaan. Saat menang 4-1 atas Rennes, posisi Neymar digantikan Julian Draxler. Tak ada bedanya, sama-sama pemain berkarakter menyerang.

Yang menarik, di pos gelandang bertahan, Marco Verrartti, Marquinho, dan Dani Alves dimainkan secara bergantian dalam dua pertandingan tersebut. Nama pertama memang gelandang tulen, tapi dua nama terakhir sejatinya merupakan pemain bertahan. Alves serta Marquinhos bahkan menjadi pilihan utama ketika PSG menghempaskan Rennes. Lantas, apa tujuan Tuchel memainkan dua poros ganda itu?

Sederhana. Meski bermain menyerang, ia tetap menginginkan keseimbangan. Saat melakukan build-up serangan, sementara mengawasi sisi lapangan ketika duet full-back PSG naik ke depan, Marquinhos bisa turun ke belakang untuk menjadi bek tambahan.
Namun, menurut analisis Charlie Scott di The Times, pendekatan taktik itu barangkali tak akan digunakan Tuchel di Old Trafford. Taktik itu terlalu menyerang. Terlalu berisiko.

"Tuchel mungkin akan memainkan formasi 4-3-3 atau 4-2-3-1 dengan memainkan Mbappe sebagai penyerang tengah. Bersama Di Maria dan Draxler, Alves mungkin akan menjadi bagian dari tiga gelandang serang saat PSG memainkan formasi 4-2-3-1. Saat mereka memainkan formasi 4-3-3, ia akan menjadi salah satu pemain tengah bersama Verratti dan Marquinhos."

Dan dari dua formasi tersebut, Verratti jelas punya peran dan pengaruh besar.

Setan Merah tentu tidak bisa dibandingkan dengan pesaing-pesaing PSG di liga Prancis. Selain mempunyai pemain-pemain berkualitas, akhir-akhir ini mereka juga mampu menunjukkan diri sebagai tim yang solid. Maka, menyerang United dengan hanya mengandalkan kualitas individu bukan sebuah pilihan bijak.

Dari sana, saat ide pemain-pemain depan PSG pampat, umpan-umpan Veratti bisa menjadi solusi untuk membongkar organisasi pertahanan United. Verratti tahu betul kapan waktu yang tepat untuk membuat timnya bermain cepat, sekaligus paham bagaimana caranya men-delay permainan.


Herrera akan Menjadi Kunci Permainan United


Solksjaer kemungkinan besar akan memainkan formasi 4-3-3 dalam pertandingan nanti. Meski begitu, formasi itu barangkali bukan 4-3-3 murni. Jesse Lingard, Marcus Rashford, dan Martial, yang kemungkinan besar menjadi pilihan utama di lini depan, terbiasa melakukan pergerakan cair.

Mereka sering bertukar posisi, terutama Rashford dan Lingard. Saat Rashford yang biasanya bermain sebagai penyerang tengah bermain melebar, Lingard akan bergerak ke tengah, juga sedikit turun ke belakang. Ia lantas akan berperan sebagai pemain nomor 10, mengubah formasi United menjadi 4-4-2 berlian.

Pendekatan taktik ini akan sangat menguntungkan United apabila PSG memilih bermain secara terbuka. Sementara kecepatan Rashford dan Martial bisa menciptakan dilema bagi kedua full-back PSG, dari posisi nomor 10, Lingard bisa mengincar ruang kosong di depan garis pertahanan PSG. Selain itu, peran Lingard juga dapat digunakan saat United dalam fase bertahan: ia bisa mengganggu Marco Veratti, pengatur tempo permainan PSG.

Namun, di antara semua pemain United yang terlibat dalam pertandingan nanti, peran Ander Herrera bisa dibilang paling krusial. Ia adalah "nafas" United di bawah asuhan Solskjaer. Alasannya, menurut Solksjaer: "Dia terus berlari dan berlari, dia selalu memenangkan bola, bermain dengan cara sederhana, juga melakukan pergerakan bagus ke dalam kotak penalti lawan."

Di bawah asuhan Solksjaer, United menjadi tim yang lebih gesit daripada sebelumnya. Setidaknya catatan statistik Sky Sports bisa menjadi buktinya. Dari 8 pertandingan di bawah asuhan Solskjaer, United 6 kali unggul jumlah sprint dari tim lawan. Sedangkan dalam 17 pertandingan di bawah asuhan Jose Mourinho musim ini, United hanya dua kali unggul sprint dari tim lawan.

Kemampuan Herrera dalam berlari jelas sangat berpengaruh terhadap pencapaian itu. Ia bisa berada di mana saja, mempermudah kinerja pemain-pemain United lainnya. Dan karena bantuannya itu, Paul Pogba dan Nemanja Matic pun dapat melaksanakan tugasnya dengan baik di lini tengah.

Musim ini, pada era Mourinho, Matic hanya melakukan 1,1 kali intecept dan 1,7 kali tekel dalam setiap pertandingan. Namun saat ini, berkat bantuan Herrera dalam bertahan, ia tak perlu banyak berlari, sehingga rataan intercept-nya meningkat menjadi 1,2 kali setiap pertandingan. Sedangkan Pogba bisa lebih leluasa dalam menyerang. Pemain asal Prancis itu hanya membutuhkan 11 pertandingan untuk mencetak 8 gol dan mencatatkan 5 asisst.

Dari sana, kemampuan Herrera dalam berlari jelas dibutuhkan United untuk menggerakkan roda tim sekaligus untuk menghadapi kecepatan pemain-pemain PSG.

Baca juga artikel terkait LIGA CHAMPIONS atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Mufti Sholih