Prediksi Indef: Asumsi RAPBN 2020 soal Kurs Rupiah Bakal Meleset

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 19 Agustus 2019
Dibaca Normal 1 menit
Indef memprediksi asumsi kurs rupiah di RAPBN 2020 akan meleset. Nilai tukar rupiah pada 2020 diperkirakan bisa mencapai Rp14.700 per dolar AS.
tirto.id - Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eko Listiyanto menilai asumsi RAPBN 2020 soal kurs rupiah sulit terealisasi.

Pemerintah mematok nilai tukar rupiah pada nilai Rp14.400 per dolar AS. Namun, Eko memprediksi laju pelemahan nilai tukar rupiah pada tahun depan akan melampaui asumsi RAPBN 2020 tersebut.

Menurut Eko, hal ini disebabkan oleh defisit transaksi berjalan (CAD) yang terus melebar di tengah situasi keuangan global yang memburuk.

“[Kurs] Rupiah pada tahun 2020 bisa tembus dari Rp 14.400 per dolar AS. Dugaan saya tahun depan Rp14.700-an per dolar,” kata Eko di Kantor Indef, Jakarta pada Senin (19/8/2019).

Eko menjelaskan CAD Indonesia saat ini cukup menggangu stabilitas nilai tukar rupiah. Apalagi, dia mencatat, data IMF berjudul “External Sector Report” rilisan Juli 2019, mendudukkan Indonesia pada peringkat ke-5 dari 15 teratas negara dengan ekonomi defisit selama tahun 2018.

Akibat dari defisit itu, IMF juga mencatat bahwa nilai tukar mata uang Indonesia secara nominal terdepresiasi.

Oleh karena itu, Eko berpendapat pemerintah perlu segera mengambil sikap agar nilai tukar rupiah tidak terus berada dalam zona negatif.

“Ini gambaran mata uang, secara nominal dia terdepresaisi. Nominal exchange rate-nya dia negatif karena CAD negatif. Kalau ini enggak dijaga, akan sulit bilang tahun depan [kurs] rupiah 14.400 per dolar AS,” ucap Eko.


Selain itu, dia menambahkan, saat ini volume ekspor Indonesia menunjukkan penurunan karena ada hambatan global, seperti aturan pelarangan Uni Eropa dan kebijakan tarif di India.

Dengan kondisi neraca perdagangan demikian, ia pesimistis Indonesia bisa membenahi CAD pada tahun depan.

Meskipun demikian, Eko meyakini nilai tukar rupiah tidak akan sampai tembus Rp15.000 per dolar AS. Sebab, salah satu faktor risiko berkurang menyusul penurunan suku bunga bank sentral AS.

“Sekarang saja sudah mau ke sana. Saat ketidakpastian meningkat, [pada] 2020, [kurs] rupiah akan lebih mudah terombang-ambing. Ini bagi pasar adalah lampu kuning,” ujar Eko.


Baca juga artikel terkait RAPBN 2020 atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Addi M Idhom
DarkLight