Pray for Lebanon dan PrayforBeirut Trending di Twitter Usai Ledakan

Oleh: Nur Hidayah Perwitasari - 5 Agustus 2020
Dibaca Normal 1 menit
Hingga pukul 10.38 WIB setidaknya ada 340 ribu tweet yang menggunakan hastag PrayForLebanon.
tirto.id - Hastag pray for Lebanon dan prayforbeirut menjadi trending di Twitter usai ledakan besar yang terjadi di Beirut, Lebanon pada Selasa (4/8/2020) waktu setempat.

Hingga pukul 10.38 WIB setidaknya ada 340 ribu tweet yang menggunakan hastag #PrayForLebanon dan lebih dari 20 ribu tweet yang menggunakan hastag #PrayForBeriut.

Dalam cuitannya para pengguna Twitter turut berduka dan mengecam keras ledakan yang terjadi di Beirut, Lebanon.

Salah satunya adalah politikus Hidayat Nur Wahid, dalam cuitannya ia menyatakan turut berduka dan mendorong agar ledakan ini dapat diusut tuntas.

“Presiden & PM Libanon Bongkar Penyebab Ledakan Dahsyat di Beirut. Singgung Soal 2.750 Ton Bahan Peledak”. Sementara Presiden AS nyatakan itu adalah serangan bom. Dan israel buru2 nyatakan tak terlibat. Apapun kita turut berduka. Penting diusut tuntas juga!" tulis Hidayat.

Selain Hidayat Nur Wahid, Tiffani Afifa dokter yang juga penyanyi ini juga menuliskan duka citanya terhadap ledakan yang terjadi di Beirut, Lebanon.

"Tadinya udah mau nge-post dengan caption ini itu, ternyata penyebab ledakannya belum diketahui. Ada kemungkinan bukan serangan. Jadi sekarang aku cuma doain aja dan ngajak kalian juga buat doain yang di Lebanon 🙏🏻 #PrayForLebanon" tulis Tiffani.

Penyebab Ledakan di Beirut, Lebanon



Ledakan di Beirut, Lebanon ini meratakan pelabuhan kota, merusak gedung-gedung dan membuat awan jamur raksasa di langit.

Hingga pagi ini waktu Indonesia Barat, dilaporkan lebih dari 70 orang tewas dan 3.000 luka-luka, dengan jenazah yang terkubur di reruntuhan, kata para pejabat.

Ledakan itu menghantam dengan kekuatan gempa magnitudo 3,5 menurut pusat geosains Jerman GFZ. Ledakan didengar dan dirasakan sejauh Siprus lebih dari 200 kilometer (180 mil) melintasi Mediterania.

Menteri Dalam Negeri Lebanon mengatakan tampaknya ada sejumlah besar amonium nitrat di pelabuhan yang meledak.

Kehancuran akibat ledakan ini mendadak membanjiri sebuah negara yang sudah berjuang dengan pandemi virus Corona, krisis ekonomi, dan keuangan yang parah.

Selama berjam-jam setelah ledakan yang paling merusak dalam semua sejarah Lebanon, ambulans bergegas masuk dari seluruh negeri untuk menggotong mereka yang terluka. Rumah sakit juga dipenuhi oleh para korban, dan mereka meminta pasokan darah dan generator untuk menyalakan lampu.

Di sekitar pelabuhan, di mana ledakan terjadi, warga berlumuran darah terhuyung-huyung melalui jalan-jalan yang dipenuhi dengan mobil terbalik dan puing-puing dari bangunan yang hancur.

Jendela dan pintu-pintu ditemukan terlepas beberapa kilometer jauhnya, termasuk di satu-satunya bandara internasional kota itu. Helikopter militer membantu mengatasi kebakaran yang berkobar di pelabuhan Beirut.

Diwartakan AP News, Menteri Dalam Negeri Mohammed Fahmi mengatakan kepada sebuah stasiun TV lokal, ledakan itu disebabkan oleh lebih dari 2.700 ton amonium nitrat yang telah disimpan di sebuah gudang di dermaga sejak disita dari sebuah kapal kargo pada 2014.

Saksi melihat awan oranye, yang mirip dengan ketika gas nitrogen dioksida beracun dilepaskan setelah ledakan yang melibatkan nitrat.

Video menunjukkan apa yang tampaknya merupakan kebakaran yang terjadi di dekat situ sebelumnya, dan stasiun TV lokal melaporkan, kebakaran itu terjadi di gudang kembang api.

Api tampaknya menyebar ke bangunan terdekat, memicu ledakan yang lebih besar, mengirimkan awan jamur dan menghasilkan gelombang kejut.

Charbel Haj, yang bekerja di pelabuhan, mengatakan ledakan itu dimulai sebagai ledakan kecil seperti petasan. Lalu, katanya, dia terlempar jauh.

Ledakan itu terjadi di tengah ketegangan yang sedang berlangsung antara Israel dan kelompok militer Hizbullah di perbatasan selatan Lebanon.


Baca juga artikel terkait LEDAKAN BEIRUT atau tulisan menarik lainnya Nur Hidayah Perwitasari
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Nur Hidayah Perwitasari
Editor: Agung DH
DarkLight