Pramugari Indonesia di Orbit Kekuasaan

Murid pelatihan calon pramugari meletakkan buku di kepala mereka, sumpit di mulut mereka, dan kertas diantara lutut mereka, saat mereka berpartisipasi dalam sebuah latihan postur berdiri di sebuah sekolah kejuruan di Shijiazhuang, provinsi Hebei, China, 4 Mei 2017. Foto diambil tanggal 4 Mei 2017. ANTARA FOTO/REUTERS/Stringer/
Oleh: Indira Ardanareswari - 17 Desember 2019
Dibaca Normal 3 menit
Pramugari identik dengan kesan glamor, bahkan sejak zaman revolusi.
Pramugari bukan profesi baru di mata orang Indonesia tahun 1950-an. Garuda Indonesian Airways (GIA) memperkenalkan profesi itu di Indonesia saat pembukaan rute penerbangan pada 28 Desember 1949 yang mengangkut Presiden Sukarno beserta para pejabat negara pindah dari Yogyakarta ke Jakarta.

Pekerjaan pramugari bahkan sempat muncul dalam film besutan Usmar Ismail di tahun 1958 yang berjudul Asrama Dara. Sayangnya, film yang lahir atas sponsor Dewan Tourisme Indonesia dan GIA ini memang tidak ditujukan untuk memperlihatkan keanggunan watak seorang pramugari.

Maria--peranan pramugari yang dimainkan oleh model Baby Huwae--ditempatkan oleh sutradara Usmar Ismail sebagai cerminan perempuan materialistis tahun 1950-an. Di antara kawan-kawan perempuannya sesama penghuni Asrama Dara, Maria adalah sosok yang mudah tergiur oleh harta dan cinta. Sepanjang cerita, ia digambarkan sangat pecemburu saat mengejar perhatian seorang pria perlente bernama Broto.

Meskipun sempat mendapatkan stigma sosial, lowongan pekerjaan pramugari sangat diminati kala dibuka pertama kali pada akhir tahun 1950. Menurut pewartaan harian Minggu Pagi (10/12/1950), ada minat yang besar terhadap jenis pekerjaan baru ini. Hanya dalam beberapa minggu, jumlah pelamarnya mencapai ratusan orang. Sebagian besar adalah perempuan.

Dari Model hingga Bintang Film

Pada tahun-tahun awal kemunculannya di Indonesia, pramugari langsung diasosiasikan dengan kesan glamor. Berbekal paras rupawan, tidak sedikit pramugari merangkap model. Kartini Manoppo, misalnya. Perempuan yang dinikahi Presiden Sukarno pada akhir 1959 ini juga pernah melakoni pekerjaan sebagai pramugari dan model lukisan.

Posisi pramugari pernah disudutkan seiring kemunculan anggapan bahwa pekerjaan ini tidak memiliki jenjang karir yang jelas. Pada dekade 1950-an, pusat pelatihan pramugari hanya tersedia di Kemayoran, Jakarta Pusat. Di luar bahasa asing, mereka tidak diberi pengetahuan penerbangan berstandar internasional.


Letjen Sayidiman Suryohadiprojo dalam otobiografinya Mengabdi Negara sebagai Prajurit TNI (1997, hlm. 290) mengakui hal itu. Kala itu ia hendak mengadakan perjalanan dinas ke Bangkok pada dekade 1950-an. Alih-alih memilih maskapai penerbangan Garuda Indonesia, Sayidiman malah memesan tiket pesawat Koninklijke Luchtvaart Maatschappij (KLM) milik Belanda. Alasannya, pramugari KLM bekerja jauh lebih baik.

“Cabin service KLM lebih baik dibandingkan Garuda sebelum tahun 1964, nampaknya para pramugari kita masih harus menumbuhkan kebiasaan baru untuk menganggap pelayanan satu profesi dan tidak sebagai keadaan yang merendahkan dirinya,” tulisnya.

Menurut Sayidiman, saat itu belum ada wujud apresiasi terhadap profesi pramugari. Hal ini dipandangnya sebagai akibat dari suasana politik Orde Lama yang tidak bersahabat sehingga prestasi kerja seorang awak kabin tidak terlalu dihargai.

Menjelang transisi ke pemerintahan Orde Baru, sektor penerbangan menjadi salah satu bidang yang ikut diangkat atas nama pembangunan. Pada masa inilah, GIA mulai gencar memberangkatkan kru-nya ke luar negeri untuk mengikuti pelatihan internasional, sebagaimana diwartakan Kompas (20/6/1968).

“Limapuluh orang crew PN Garuda jang terdiri dari cockpit crew (pilot, co-pilot, navigator) dan cabin crew (pramugara/pramugari) dewasa ini telah berada di Amsterdam, Nederland untuk mengikuti training pesawat DC-8,” tulis Kompas.

Laporan lain dari Kompas (9/11/1966) menyebut tahun 1966 sebagai tahun pertama pramugari GIA berpartisipasi dalam Kontes Pramugari Internasional. Kontes tahunan yang diadakan di Australia ini merupakan acara pemilihan pramugari terbaik yang dikemas lewat sistem penjurian--mirip ajang pemilihan Miss Universe namun minus parade pakaian renang. Pada waktu itu, Garuda memberangkatkan seorang pramugari bernama Pertiwi.

“Test-test dilakukan tentang keterampilan, keluwesan meladeni tamu-tamu, sikap dan tindak-tanduk. Berpakaian, berhias, dan tes yang dianggap paling berat: pengetahuan umum tentang negerinya sendiri,” tulis Kompas.

Pada awal masa Orde Baru, pramugari adalah duta kecantikan di angkasa. Standar perekrutan menjadi pramugari mulai dibakukan dan yang muda dianggap punya kesempatan lebih besar. Pewartaan Kompas (19/6/1970) menyebut GIA bahkan cenderung memilih remaja putri lulusan Sekolah Menengah Atas untuk dididik di sekolah pramugari di Jakarta.

Predikat pintar, muda, berparas elok, dan berperangai baik berhasil mengangkat profesi pramugari menjadi berbagai duta dalam berbagai program pemerintah. Pada 1974, sebuah film serial polisi di TVRI berjudul Metro 77 muncul dengan membawa nama seorang pramugari GIA bernama Kartini Suprajati.

Kala ditawari membintangi Metro 77, Kartini masih berusia 19 tahun dan belum lama menjadi pramugari. Laporan Kompas (11/6/1974) menyebut serial polisi itu lahir dari kerjasama Polda Metro Jaya dengan Pertamina--yang saat itu masih menjadi unit bisnis militer di bawah Ibnu Sutowo--untuk membina remaja agar tak terkena bahaya narkoba. Kartini dianggap pantas membintanginya karena masih muda dan berprestasi.



Dekat dengan Militer

Sebelum Orde Baru berkuasa, profesi pramugari memang sudah dekat dengan lingkaran pejabat sipil dan militer. Dominasi negara yang sangat kuat di berbagai bidang pada masa itu membuat pramugari juga harus bersedia mendampingi perjalanan udara mulai dari Presiden, menteri, hingga petinggi militer.

Kisah percintaan Jenderal Benny Moerdani dengan seorang pramugari Garuda barangkali merupakan cerita asmara pramugari paling terkenal setelah kisah Kartini Manoppo. Pada 12 Desember 1964, Moerdani yang masih berpangkat Letnan Dua menikahi pujaan hatinya, seorang mantan pramugari Garuda bernama Hartini. Kisahnya makin menarik tatkala Presiden Sukarno sampai membuatkan pesta resepsi di Istana Bogor.

Hartini memang bukan pramugari biasa. Catatan Seri Buku Tempo: Beny Moerdani yang Belum Terungkap (2014, hlm. 28) menyebut Hartini sebagai pramugari kepresidenan. Memberikan pelayanan terbaik kepada pejabat negara dan segenap personel keamaannya saat perjalanan udara sudah menjadi tugas Hartini.

Hartini semakin istimewa di hadapan Sukarno lantaran keluarganya dikenal dekat dengan lingkaran Istana. Julius Pour dalam Benny Moerdani: Profile of A Soldier Statesman (1993, hlm. 233) mengkisahkan Sukarno mengenal Hartini melalui pamannya yang bernama Anwari, kawan Sukarno di ITB sekaligus pendiri organisasi sepakbola nasional.


Pertemuan Hartini dengan Benny Moerdani sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 1956. Namun, keduanya baru bisa menikah tujuh tahun kemudian akibat terhalang tugas-tugas Benny selama di Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) atau Kopassus.

Untungnya, adik Benny yang bernama Maria Sri Noerna juga bekerja sebagai awak penerbangan Garuda, sehingga hubungan Hartini dan Benny tidak semakin renggang. Kepada Julius Pour, Hartini mengaku “sangat menyukai sikap kemiliteran dalam diri Benny”.

Seorang Komandan Tim Kopassandha punya kisah yang sama dengan Benny Moerdani di tahun 1978. Dalam buku kenang-kenangan untuk Moerdani yang berjudul L.B. Moerdani: Langkah dan Perjuangan (2005, hlm. 319), Kapten Sjafri Sjamsoeddin menceritakan bahwa Benny pernah bergurau di depannya lantaran juga menikahi seorang pramugari Garuda.

“Kamu ikut-ikutan juga,” ucap Benny.

“Kebetulan, Pak sama,” jawab Sjafri sambil terkekeh. Sjafri mengaku bawah setelah kejadian itu Moerdani malah memberinya bekal nikah yang cuku besar untuk ukuran seorang Kapten seperti dirinya.

Baca juga artikel terkait PRAMUGARI atau tulisan menarik lainnya Indira Ardanareswari
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Indira Ardanareswari
Editor: Windu Jusuf
DarkLight