Prambanan Jazz 2019: Ada Atau Tak Ada Jazz, yang Penting Menghibur

PENAMPILAN ARI LASSO DI PRAMBANAN JAZZ
Penampilan di hari ketiga Prambanan Jazz Festival 2019, Minggu 7/6/2019. FOTO/Rajawali Indonesia
Oleh: Alexander Haryanto - 9 Juli 2019
Dibaca Normal 4 menit
Meski terbilang minim penampil jazz, salah satu festival jazz terbesar di Indonesia ini tetap menghibur.
tirto.id - Ari Lasso sedang menyanyikan lagu pertama “Mengejar Matahari” saat saya tiba di luar area konser Prambanan Jazz 2019. Para penonton sudah menjalar di depan gerbang tiket, sementara saya masih bertanya ke sana-kemari di mana media center dan informasi untuk menukarkan ID card. Maklum, tempatnya cukup jauh dari area penukaran tiket. Setelah menggengam ID card, saya bergegas masuk ke lokasi konser.

“Ini kayaknya jazz palsu penontonnya, bukan [penonton] jazz festival,” kata Ari sembari bercanda usai membawakan lagu “Rahasia Perempuan”, disambut tawa penonton.
“Katanya nonton jaz, tapi dikasih lagu pop,” ujar pria asal Surabaya ini tertawa.

Penonton terbilang beruntung. Selain bisa menikmati lagu-lagu Ari yang membius dan penuh nostalgia di hari ketiga Prambanan Jazz ini, mereka bisa langsung menyaksikan indahnya Candi Prambanan di belakang panggung, ditambah lagi dengan sorotan lampu berwarna ungu, merah dan hijau secara bergantian, yang membuat mood makin baik saat menyaksikan konser.

Ari kemudian membawakan lagu “Hampa”, yang diaransemen sedikit jazz. Saya mulai mempelajari sekitar, tanpa sengaja melihat sepasang suami istri berusia kurang lebih 40-an sedang asik menikmati lagu ini. Sambil memeluk sang istri, sang suami ikut bernyanyi, matanya terpejam, mungkin sedang bernostalgia dengan masa lalunya.

Dalam kesempatan itu, Ari juga sempat membawakan dua lagu Dewa 19, “Kangen” dan “Kamulah Satu-satunya”. Tampaknya dua lagu ini lebih banyak dinyanyikan pria dewasa.

Seorang penonton, Zia (27) puas dengan penampilan Ari. Ia mengaku datang jauh-jauh dari Surabaya bersama tunangannya hanya untuk menyaksikan Ari Lasso. “Lagunya ngena, beberapa lagu yang diubah menjadi jazz tidak terkesan dipaksa aransemennya, cocok.”

Selain Zia, Arifin (21) juga terkesan dengan penampilan Ari Lasso. “Paling pecah Ari Lasso, familiar sama lagu-lagunya.”

Kita Berakhir di Januari


Kata-kata itu disampaikan MC setelah Ari Lasso dan kawan-kawan turun dari panggung. “Berakhir di Januari” yang dimaksud adalah potongan lirik lagu Glenn Fredly, penyanyi berdarah Ambon yang menjadi penampil berikutnya.

Tampil sekitar pukul 19.00 WIB, Glenn membuka dengan lagu “Kala Cinta Menggoda”, lagu ini sempat dipopulerkan almarhum Chrisye. Meski di awal lagu sound gitarnya lebih besar dari pada instrumen lain, tapi ini tetap tak mengurangi antusiasme penonton.

Merasa penasaran, saya kemudian berpindah posisi, mencari sumber suara penonton yang fasih dengan lagu-lagu Glenn. Setelah bisa melihat dari jarak dekat, saya mulai memasang telinga, sambil menulis liputan di atas kertas.

Ketika Glenn membawakan lagu “Sekali Ini Saja”, penonton di dekat saya langsung histeris dan mengangkat tinggi-tinggi smartphone-nya, sambil bernyanyi keras.

“Tuhan bila masihku diberi kesempatan izinkan aku untuk mencintainya. Namun bila waktuku telah habis dengannya. Biar cinta hidup sekali ini saja.”


Tampaknya, festival ini menjadi panggung yang tepat untuk Glenn. Selain lagu-lagunya yang memang bercitarasa jazz, attitude para pemain instrumennya juga tak kalah memukau. Glenn memberikan porsi yang cukup besar kepada mereka, terlebih kepada pemain saksofonnya, Nicky Manuputty.

Sebagai pelengkap, Nicky bisa dikatakan sebagai pemain paling memukau setelah Glenn. Beberapa kali saya mendapati penonton mengapresiasinya dengan tepuk tangan kencang usai saksofonnya memekik dan menajam. Porsi aransemen musik yang lebih besar ini juga memberikan atmosfer beragam pada lagu-lagu Glenn, sehingga panggung terasa lebih penuh dan hidup.

Dalam kesempatan itu, Glenn juga membawakan lagu-lagu andalannya seperti “Cukup Sudah”, “My Everything” dan “Salam Bagi Sahabat”.

Malam itu, melalui lagunya, Glenn juga memotivasi para penonton dengan liriknya. “Hidupmu indah, bila kau tahu jalan mana yang benar. Harapan ada, harapan ada. Bila kau mengerti,” teriak Glenn sambil menepuk-nepuk tangan ke atas.

Susi (40) guru SD di Kediri, Jawa Timur tampak terpukau dengan penampilan Glenn. “Luar biasa, terpesona,” kata dia saat saya wawancarai. Ia memang sengaja jauh-jauh dari Kediri untuk menyaksikan penampilan Glenn, kendati kecewa karena sang idola tidak membawakan lagu “Januari”. Namun, ia tetap puas dan merasa tak sia-sia.

Begitu pula dengan Caca (29) pegawai Hotel di Yogyakarta. Ia mengaku senang melihat penampilan Glenn karena mengingatkannya dengan cerita masa lalunya.



The Brian McKhight dan Anggun di Spesial Show


The Brian McKhight sudah menyelesaikan beberapa lagu saat saya menyaksikannya di panggung Roro Jonggrang Spesial Show. Panggung ini benar-benar spesial, penonton bisa duduk sambil melihat panorama Candi Prambanan yang begitu indah.

Malam itu, penyanyi dari Amerika Serikat ini berhasil menunjukkan penampilan terbaiknya. Ia lebih banyak bermain akrobat vokal dan mampu memainkan tensi di atas panggung. Dalam kesempatan itu, ia juga sempat membawakan beberapa lagu seperti “All Night Long”, “Hungry, “10 Million Stars”, Way Love Goes” dan “The Way Love Goes”. Tapi, yang paling ditunggu-tunggu sudah jelas: “Back At One” dan “One Last Cry”.

Andana Kay (20) mengatakan, malam itu The Brian berhasil mengobati hatinya sebagai penggemar. Ia mengaku sengaja datang untuk menyaksikan pria yang pernah masuk dalam nominasi Grammy Award itu.

“Live-nya pecah, suka, karena dia bisa membangun komunikasi dengan penonton,” kata Andana.

Prambanan Jazz Festival 2019
Penampilan di hari ketiga Prambanan Jazz Festival 2019, Minggu 7/6/2019. FOTO/Rajawali Indonesia


Mia juga mengatakan hal serupa. Wanita 23 tahun ini mengaku tak sia-sia berangkat jauh-jauh dari Tangerang Selatan. Semua lunas terbayar.

“Aku lebih suka live dari pada versi rekaman, karena bisa langsung menyaksikan interaksinya dan banyak improve,” kata dia.

Selesai dengan jaz, memasuki pukul 21.45, Anggun tampil di atas panggung yang sama. Meski bernyanyi dengan penuh energi, Anggun baru berhasil menguasai panggung saat memasuki lagu ke-3. Dengan pakaian serba hitam dan suara seraknya, Anggun bernyanyi dengan prima. Beberapa kali ia meminta penonton berdiri agar bisa saling bertukar energi. Setelah itu, ia dan seluruh pemain instrumen yang mayoritas bule bermain lepas.

Beberapa lagu yang ia bawakan adalah “Rose”, “No Promises”, “Undress Me”, “Still Reminds Me”, “The Good is Back” dan “Yang Aku Tunggu”.

Malam itu, Anggun juga sempat menceritakan soal mitos tentang Prambanan. “Kalau ke Prambanan jangan bawa pacar, nanti putus.”

Sambil berkelakar, Anggun menceritakan pengalamannya saat membawa kekasihnya datang ke Prambanan beberapa tahun lalu. “ Eh benar putus, makanya saya berharap konser di Prambanan lagi kalau sudah punya suami saja, eh sekarang kesampaian, saya datang dengan suami dan anak saya.”

Malam itu, penonton benar-benar dibikin hanyut saat Anggun membawakan lagu “Mimpi”. Mungkin karena lagu ini pernah membuat namanya terkenal di Indonesia sebelum berkarir di luar negeri.

Citra (35) wartawan dari Jakarta memuji penampilan Anggun. “Penampilan Anggun optimal banget, tidak tercerabut dari akarnya, Indonesia, padahal, dia kan lama berkarir di luar negeri.”

Menurut Citra, lagu-lagu Anggun tidak hanya sekadar menghibur, tetapi juga mengangkat keresahan kaum wanita yang “termarjinalkan” dengan sistem patriarki. Ia mencontohkanya dengan lagu “Tua-tua Keladi” yang menceritakan seorang laki-laki tua yang membohongi gadis remaja, padahal sudah memiliki anak dan cucu.

Usai penampilan Anggun, saya pun turun ke bawah dan berjalan menuju Hanoman Stage Festival Show. Anak-anak milenial yang kebanyakan wanita sudah berkerumun di bawah panggung. Siap menantikan penampilan Tulus. Ia mulai bernyanyi pada pukul 23.00 WIB.

Meski sebagian penonton sudah tampak lelah, penyanyi berusia 31 tahun ini berhasil menahan mereka agar tak lekas pulang. Sepanjang Tulus bernyanyi, ia seperti membuat “karaoke” masal karena hampir mayoritas hafal dengan lagu-lagunya.

Setiap kali Tulus memulai lagu barunya, di saat itu pula para penggemar mengangkat tinggi-tinggi smartphone-nya. Tentu saja sambil bernyanyi. Malam itu, Tulus membawakan lagu terbaiknya seperti “Gajah”, “Jangan Cintai Aku Apa Adanya”, “Sepatu,” dan “Monokrom”.

“Yang terburuk kelak, bisa jadi yang terbaik,” teriak penonton mengikuti Tulus bernyanyi.

Ia pun juga membawakan lagu hasil kolaborasinya bersama Glenn Fredly dan Yovie Widianto berjudul “Adu Rayu”. Lagu ini benar-benar membius sekumpulan wanita di sebelah saya. Mungkin saja sedang membayangkan seorang pria mengombalinya dengan kata-kata romantis.

Baca juga artikel terkait PRAMBANAN JAZZ 2019 atau tulisan menarik lainnya Alexander Haryanto
(tirto.id - Musik)


Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight