Praktik Sewa Rahim dan Dampak Psikologisnya untuk Anak

Oleh: Yulaika Ramadhani - 9 Januari 2019
Dibaca Normal 1 menit
Surogasi atau sewa rahim adalah metode di mana seorang perempuan mau menjalani kehamilan bagi orang atau pasangan lain.
tirto.id - Praktik sewa rahim atau dikenal dengan istilah surogasi sempat diperbincangkan warga net lantaran pernyataan mantan pembawa berita Jeremi Teti yang menyebut pasangan LGBT dapat memiliki anak dengan cara tersebut.

Praktik sewa rahim kembali ramai diperbincangkan ketika Kim Kardashian kembali mengungkapkan rencananya untuk menerapkan teknik serupa di kelahiran bayi ke-4nya, setelah tahun lalu ia berhasil mendapatkan anak ke-3nya dengan bantuan metode ini.


Praktik sewa rahim sendiri adalah metode sekaligus persetujuan di mana seorang perempuan mau menjalani kehamilan bagi orang atau pasangan lain. Orang atau pasangan lain itu akan menjadi orang tua bagi si anak yang dilahirkan oleh perempuan yang menjadi wadah rahim yang "disewa".

Secara medis, praktik sewa rahim atau surogasi dapat dibedakan menjadi dua jenis. Pertama, surogasi dengan ibu pengganti tradisional. Ibu pengganti diinseminasi sperma penyewa/sperma donor. Seorang pengganti tradisional merupakan ibu kandung dari bayi tersebut karena telurnya dipakai untuk dibuahi.

Kedua, surogasi dengan ibu pengganti gestasional, yang dilakukan lewat teknik fertilisasi in vitro (IVF). Telur ibu pengganti tidak digunakan, ia hanya meminjamkan rahim sehingga tak memiliki ikatan genetik dengan bayi. Sperma dan telur berasal dari penyewa maupun donor.


Praktik sewa rahim banyak dilakukan di masyarakat India. Di negara itu, ibu pengganti menyewakan rahimnya dengan harga $16-32 ribu. India memang telah menjadi surga bagi para pencari rahim sewaan.

Terdapat seribu pusat surogasi di negeri ini yang mempu menarik 25 ribu pasangan untuk berkunjung. Mereka menghasilkan lebih dari dua ribu kelahiran dengan nilai bisnis mencapai $2,3 miliar setiap tahun.

Sejumlah negara melarang praktik ini karena dinilai bertentangan dengan hukum dan norma yang berlaku. Salah satu yang melatarbelakangi pelarangan tersebut adalah potensi kerentanan psikologis bagi anak dan ibu pengganti.

Anak-anak yang dilahirkan dengan surogasi ini bisa jadi sulit menerima penjelasan tentang asal usul mereka. Atau sebaliknya, orangtua yang kesulitan menjelaskan hal tersebut kepada anaknya.

Kasus ini terjadi pada keluarga Ricky Martin. Matteo dan Valentino dua anak Ricky Martin yang dilahirkan melalui suroasi, sempat melontarkan pertanyaan yang menohok. Dua anak kembar laki-laki ini dibesarkan oleh dua orang ayah dan tanpa ibu.

“Ayah, apa aku dulu berada di perutmu?” tanya mereka, polos.

Saat itu, Ricky hanya menjawab bahwa ada seorang perempuan yang ia sayangi telah membantu membawa Matteo dan Valentino ke dunia.

Anak hasil surogasi juga akan mengalami kerancuan garis genetika. Terlebih, anak-anak yang lahir dari salah satu pasangan homoseksual dengan donor anonim.

Dampak psikologis negatif juga menyerang sang ibu pengganti. Peneliti Hoda Ahmari Tehran dalam risetnya terhadap delapan wanita berusia 29-34 tahun yang menjadi ibu pengganti menyatakan surogasi adalah praktik emosional berisiko tinggi.

Karena dalam perjanjian, ibu pengganti hanya menyewakan rahim saja, sehingga mereka dipaksa tidak memiliki perasaan pada bayi yang dikandungnya. Permasalahan selanjutnya, para ibu pengganti kerap khawatir melahirkan bayi abnormal sehingga perjanjian sewa menjadi batal.


Baca juga artikel terkait SEWA RAHIM atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Yulaika Ramadhani
DarkLight