Menuju konten utama
6 Februari 2008

Prabowo Subianto dan Barisan Purnawirawan di Partai Gerindra

Prabowo memberdayakan dukungan para purnawirawan. Mereka aktif di Gerindra dan banyak memegang jabatan penting dalam partai.

Prabowo Subianto dan Barisan Purnawirawan di Partai Gerindra
Ilustrasi Partai Gerindra dan Prabowo. tirto.id/Nauval

tirto.id - Kala pergi bersama menuju Bandara Soekarno-Hatta pada November 2007, Fadli Zon dan Hashim Djojohadikusumo terlibat perbincangan serius. Keduanya bercakap tentang kondisi politik Indonesia. Baik Fadli maupun Hashim berkesimpulan demokrasi Indonesia tengah dibajak orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan memiliki modal besar. Perbincangan itu pun bermuara keinginan Hashim untuk membuat partai baru.

Laman resmi Gerindra menyebutkan, sebulan kemudian, pada Desember 2007, Fadli Zon bersama Ahmad Muzani, M. Asrian Mirza, Amran Nasution, Halida Hatta, Tanya Alwi, dan Haris Bobihoe membahas anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) partai baru tersebut di kantor IPS (Institute for Policy Studies), Jakarta.

Awalnya, partai baru itu bakal dinamakan Partai Indonesia Raya (Parindra). Menurut David Bourchier dalam Illiberal Democracy in Indonesia: The Ideology of the Family State (2014), kakek Hashim, Margono Djojohadikusumo, adalah salah satu pendiri partai tersebut.

Namun Hashim punya gagasan lain, yaitu menambahkan kata “gerakan” sehingga ia bernama partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).

Pada 6 Februari 2008, tepat hari ini 12 tahun lalu, Gerindra dideklarasikan secara resmi. Ketua Umum Gerindra dijabat Suhardi, guru besar Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada yang sempat mendirikan Partai Kemakmuran Tani dan Nelayan pada 2003.

Sosok yang lekat betul dengan Gerindra adalah Prabowo Subianto (kakak kandung Hashim). Dia menjadi anggota Gerindra sejak 12 Juli 2008. Sebelumnya, Prabowo masih menjadi pembina partai Golkar. Dia kemudian menjabat Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra. Prabowo saat ini menjabat Menteri Pertahanan dalam kabinet Jokowi, bekas seterunya pada dua pilpres berturut-turut.

Di Partai Gerindra, Prabowo banyak melibatkan purnawirawan. Pada Pilpres 2019, setelah pencoblosan berlangsung, para purnawirawan pendukung Prabowo begitu yakin capres yang mereka dukung terpilih menjadi Presiden RI. Dalam sebuah video, terekam adegan bagaimana mereka memberi selamat kepada Prabowo sambil melakukan hormat ala tentara dan berucap "Siap, Presiden."

Belum ada partai yang punya sayap purnawirawan sesemangat Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Persatuan Purnawirawan Indonesia Raya (PPIR), yang dipimpin Mayor Jenderal (purnawirawan) Musa Bangun, sudah membuktikan diri sebagai legiun veteran yang begitu militan mendukung Prabowo.

Para purnawirawan yang berada di belakang Prabowo bukan cuma junior atau bawahannya, tapi juga seniornya, bahkan bekas komandannya pun ada.

Konco dari Lembah Tidar

"Komandan kamu di lapangan yang pertama itulah komandan yang akan memengaruhi kamu seumur hidup," kata Jenderal Yogi S. Memet.

Ucapan jenderal baret merah ini diingat Prabowo. Dan perwira penting yang jadi komandan pertama Prabowo adalah laki-laki asal Rappang bernama Muhammad Yunus Yosfiah. Sedari muda di Kopassus, Yunus adalah perwira yang bisa membereskan masalah. “[Yunus] perwira berwatak keras, tegas dan lurus," aku Kiki Syahnakri dalam Timor Timur The Untold Story (2013: 45).

Yunus kini merupakan salah satu purnawirawan yang mendukung penuh Prabowo untuk maju menjadi Presiden RI.

Senior Prabowo yang paling kesohor, tapi bukan dari baret merah, tentunya Kivlan Zen. Di masa lalu, senior Prabowo yang dekat tak hanya Kivlan Zen, ada juga Ismed Yuzairi Chaniago. Keduanya sama-sama lulusan Akabri tahun 1971, dan sama-sama berpangkat terakhir mayor jenderal. Hanya saja Ismed sudah tutup usia pada 2005. Kivlan kini jadi tersangka kasus makar bersama mantan Danjen Kopassus Mayor Jenderal (purnawirawan) Soenarko, Akabri Angkatan 1978.

Prabowo Subianto masuk Akabri Magelang bersama-sama Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Judi Magio Jusuf, dan Glenny Kairupan. Glenny dan Judi lulus tahun 1973 bersama SBY, tapi tidak bersama Prabowo. Namun di Pilpres 2019 mereka bersama lagi untuk mendukung Prabowo.

Prabowo lulus dari Akabri Magelang di tahun 1974 bersama dua pemuda yang dalam 10 tahun belakangan jadi orang penting di Kementerian Pertahanan, Ryamizard Ryachudu dan Sjafrie Sjamsoeddin. Jusuf Wanandi dalam Menyibak Tabir Orde Baru (2014: 377) menyebut Sjafrie, yang pernah jadi ajudan Soeharto, lebih dipercaya Soeharto ketimbang Prabowo.

Dua tahun di bawah Prabowo ada juga Letnan Jenderal (purnawirawan) Johannes Suryo Prabowo, yang punya hubungan kekerabatan dengan keluarga Cendana. Dialah “Macan Sosmed” Prabowo di Twitter, Facebook, dan Instagram.

Jauh bertahun-tahun di bawah Prabowo, tentu saja ada bekas bawahannya di Kopassus, Mayor Jenderal (purnawirawan) Chairawan Kadarsyah Nusyirwan dan Kolonel (purnawirawan) Fauka Noor Farid. Dua orang itu adalah bekas anggota Tim Mawar.

Pendukung penting di antara barisan purnawirawan itu tentunya Jenderal (purnawirawan) Djoko Santoso. Lulusan Akabri 1975 ini pernah menjadi Panglima TNI 2007-2010, di zaman kepresidenan SBY. Kini dia masuk lingkaran Prabowo. Kehadirannya tentu menambah kesangaran bagi PPIR, dan tentunya Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi.

Infografik Mozaik Barisan Purnawirawan Prabowo

Infografik Mozaik Barisan Purnawirawan Prabowo. tirto.id/Nauval

Di Luar Lembah Tidar

Kolega pendukung Prabowo tidak hanya dari kalangan jenderal, tapi banyak yang berpangkat di bawah jenderal. Di PPIR, ada 300-an jenderal dan setidaknya tergabung pula para purnawirawan TNI (semua matra) dan Polri. Para jenderal itu tidak hanya dari Angkatan Darat, tapi juga Angkatan Udara, Angkatan Laut, dan Kepolisan.

Dari Angkatan Laut ada Laksamana (purnawirawan) Tedjo Edhy Purdijanto, yang pernah jadi menteri dalam kabinet Presiden Jokowi di awal-awal berkuasa. Mantan Kepala Staf Angkatan Laut periode 2008-2009 ini pernah setahun (dari 27 Oktober 2014 hingga 12 Agustus 2015) menjadi Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukkam). Tedjo waktu itu bernaung di Partai Nasional Demokrat (Nasdem). Dia kemudian hijrah ke partai yang terobsesi kembali era Soeharto, Partai Berkarya.

Ada pula jenderal Angkatan Laut lain, yaitu Laksamana Madya (purnawirawan) Moekhlas Sidik. Dia ikut Gerindra dari 2012. Dia menjadi Ketua Harian Gerindra yang membantu tugas Ketua Umum merangkap Ketua Dewan Pembina, Prabowo Subianto.

Dari Angkatan Udara, ada Marsekal (purnawirawan) Imam Sufaat. Dia adalah Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) dari 17 November 2009 hingga 17 Desember 2012.

Dari jajaran kepolisan, ada Komisaris Jenderal (purnawirawan) Sofyan Jacob. Mantan Kepala Kepolisan Daerah Jakarta Raya ini pernah menjadi tersangka kasus makar terkait kerusuhan 22 Mei 2019. Bukan kali ini saja Jacob dapat tuduhan macam itu. Di zaman Gus Dur, bersama Suroyo Bimantoro, Jacob pernah akan diciduk karena membangkang kepada presiden. Jacob pun pada 2001 memilih mundur dari kepolisian.

Prabowo tampaknya belajar dari mertuanya, Jenderal Besar Soeharto, soal pentingnya memelihara (hubungan dengan) mantan jenderal. Apalagi dalam usaha memenangkan pertarungan politik. Bukan hanya lingkaran dekat yang sudah lama dijalin, mendekati yang lain pun juga perlu. Itulah kenapa PPIR harus ada.

==========

Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 12 Juli 2019. Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait PARTAI GERINDRA atau tulisan lainnya dari Petrik Matanasi

tirto.id - Politik
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan