Prabowo Klaim Menang Pilpres 2019: Mengulang Narasi 2014

Oleh: Fadiyah Alaidrus - 18 April 2019
Dibaca Normal 2 menit
Prabowo mengulang 2014 dengan mengklaim unggul lewat Pidato Kemenangan. Ia juga bersujud seperti saat mengumumkan kemenangan empat tahun lalu.
tirto.id - Dengan nada berapi-api, Prabowo Subianto, Calon Presiden nomor urut 02, menyatakan kemenangannya berdasar hasil hitung cepat internal. Ia memberikan pidato, setelah hampir seluruh hasil hitung cepat lembaga survei publik mengeluarkan angka bahwa ia kalah dalam Pemilu Presiden 2019.

Seolah mengimbangi narasi lembaga survei yang memenangkan Joko Widodo, Prabowo mengklaim ia menang 55,4 persen berdasar hasil hitung internal "Hasil quick count kita menang 55,4 persen," ujar Prabowo di Rumah Pemenangan Kertanegara, Rabu (17/4/2019).

Saat berpidato, Prabowo tak ditemani Sandiaga Salahuddin Uno, calon wakil presiden pendampingnya. Namun, ia tetap bersemangat mengingatkan para pendukungnya atas klaim yang ia sebut. Mantan Danjen Kopassus ini juga mewanti-wanti dengan menyebut narasi lembaga survei publik yang berusaha menggiring opini, bahwa ia benar-benar kalah.

Ia pun meminta para pendukungnya tidak berhenti mengawasi jalannya Pilpres 2019. "Jangan terpancing [oleh hasil lembaga survei]."

Prabowo menutup pidatonya dan mengimbau para pendukungnya tidak terprovokasi melakukan kekerasan dalam segala bentuk. "Saya mengimbau pendukung-pendukung saya semuanya agar tetap tenang dan tidak terprovokasi," kata Prabowo.

Malam hari, Prabowo kembali berpidato dan masih tak didampingi Sandiaga. Kali ini, ia makin bersemangat berpidato untuk kembali menegaskan dirinya menang dan akan jadi presiden bagi seluruh rakyat.

"Ini kemenangan bagi rakyat Indonesia, seluruh rakyat indonesia, dan saya katakan di sini, saya akan jadi presiden seluruh rakyat Indonesia, dan bagi saudara sekalian yang membela 01, tetap kau akan saya bela," kata Prabowo.

"Saya akan dan sudah menjadi presidennya seluruh rakyat Indonesia. Kita akan membangun Indonesia yang menang, Indonesia yang adil makmur, yang damai, dan disegani seluruh dunia," imbuhnya.

Saat memberikan pidato kemenangan, ia didampingi Ketua Dewan Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri, Sekjen PKS Mustafa Kemal, Ketua Umum PA 212 Slamet Ma'arif, Jurkamnas BPN Idrus Sambo, Wakil Ketua BPN Tedjo Edy, dan Wakil Ketua Dewan Penasihat Partai Gerindra Yunus Yosfiah.

Prabowo kemudian menutup pidatonya dengan takbir dan bersujud.




Mengklaim Kemenangan Seperti Pilpres 2014

Pidato dan sujud serupa, sejatinya pernah juga dilakukan Prabowo saat pertarungan Pilpres 2014. Prabowo yang saat itu didampingi Hatta Rajasa, calon wakilnya dalam Pilpres 2014, juga membuat narasi serupa seperti sekarang. Ia mengklaim kemenangan itu berdasarkan hasil hitung cepat lembaga survei yang ia gunakan untuk internal pemenangan Prabowo-Hatta.

"Dari quick count berbagai lembaga survei, dan dari lembaga survei-lembaga survei yang kami gunakan sebagai rujukan, kita bersyukur bahwa dari semua keterangan yang masuk, menunjukkan bahwa kami, pasangan nomor satu Prabowo-Hatta, mendapatkan dukungan dan mandat dari rakyat Indonesia, kami dari koalisi merah-putih," kata Prabowo saat itu.

"Kami dari koalisi merah-putih, menyampaikan terima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia atas kepercayaan yang telah diberikan kepada kami, pasangan nomor satu, Prabowo-Hatta, dari koalisi merah-putih," ia menegaskan.

Saat Prabowo menyatakan pidato kemenangan atas hasil perhitungan internal, lembaga-lembaga survei publik saat itu juga mengunggulkan pasangan Jokowi-Jusuf Kalla. Populi Center misalnya, merilis hasil hitung cepat Prabowo-Hatta dengan perolehan suara 49,05 persen, sedangkan Jokowi-JK sebesar 50,95 persen.

Sementara itu, hasil hitung cepat CSIS menyebut Prabowo-Hatta mendapat perolehan suara sebesar 48,1 persen dan Jokowi-JK 51,9 persen. Pun demikian dengan SMRC yang merilis hasil serupa dengan kemenangan Jokowi sebesar 52,91 persen, lebih unggul dibanding Prabowo yang mendapatkan hasil 47,09 persen.

Hasil hitung cepat itu pun kemudian dikuatkan dengan hasil hitung resmi (real count) KPU yang merilis pasangan Jokowi-JK unggul dengan perolehan suara sebesar 53,15 persen. Sementara Prabowo-Hatta Rajasa hanya memperoleh suara sebesar 46,85 persen.


Hasil Lembaga Survei Tak Jauh Berbeda Dengan KPU

Philips Jusario Vermonte, Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS), mengatakan hasil hitung cepat pasangan calon 01 (Jokowi-Ma’ruf), sejauh ini memang mengungguli pasangan calon 02 (Prabowo-Sandi) dengan selisih lebih dari 10 persen. Prabowo memperoleh suara 44,2 persen, sementara Jokowi memperoleh suara sebesar 55,8 persen.

"Dengan selisih dua digit yang lebih dari 10 persen, sepertinya data ini tidak akan jauh berbeda dibanding dengan hitungan KPU nantinya," ujar Philips saat menggelar keterangan pers di Kantor CSIS, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (17/4/2019).

Philips menjelaskan, selisih suara pada Pilpres 2019 lebih besar ketimbang 2014 yang hasil perolehan suaranya hanya terpaut 6 persen. Dengan demikian, kata Philips, berdasarkan hasil hitung cepat lembaganya, ia mengatakan pasangan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin mendapatkan suara lebih besar dibandingkan dengan tahun 2014.

Pernyataan serupa disampaikan Djayadi Hanan, Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menyebut hasil hitung cepat lembaga survei nantinya tak akan jauh berbeda dengan hasil yang diumumkan KPU. Selisihnya, kata dia hanya terpaut 1 persen dari hasil yang akan dirilis secara resmi oleh KPU.

"Ya bisa dipercaya dan selama ini quick count, kan, selalu tidak bermasalah. Quick count SMRC itu ... di berbagai pilpres itu hasilnya selalu terpaut kurang dari 1 persen dari hasil KPU," kata Jayadi kepada reporter Tirto.

"Hampir seluruh lembaga survei [menunjukkan hal tesebut]." ia menegaskan.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Fadiyah Alaidrus
(tirto.id - Politik)

Reporter: Fadiyah Alaidrus
Penulis: Fadiyah Alaidrus
Editor: Arbi Sumandoyo