Potret Hamparan Sampah di Jakut, Hanya Sejengkal dari Rumah Warga

Oleh: Riyan Setiawan - 3 Agustus 2019
Dibaca Normal 2 menit
Bau berasal dari tempat pengepulan sampah di RW 07 Kelurahan Tugu Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara.
tirto.id - Bau sampah adalah masalah sehari-hari bagi Encas (35), warga Rawa Sengon, Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara. Tempat usahanya, nasi rames, hanya berjarak sekitar 100 meter dari tempat pembuangan sampah.

"Suka nyesek, apalagi kalau pagi-pagi, ya. Nyesek banget. Sore juga kadang suka bau menyengat banget pas lagi diuruk," katanya kepada saya, Kamis (1/8/2019) kemarin.

"Kalau orang yang lagi makan mencium bau itu jadi mual. Kadang [pelanggan] suka ngeluh," tambahnya.

Bau busuk berasal dari tempat pembuangan sampah yang ada di RW 07 Kelurahan Tugu Selatan, Kecamatan Koja. Rawa Sengon dengan Tugu Selatan hanya dipisahkan Kali Betik.

Bau juga dirasakan Saifullah (29). Rumahnya juga hanya selemparan baru dari tumpukan sampah. Dia bilang, bau sebenarnya sudah jadi 'makanan sehari-hari' warga. Tapi dalam seminggu terakhir, bau makin tak tertahankan.

Bau tercium sepanjang hari, bahkan sampai ke dalam rumah, kata Saifullah. "Kami resah," katanya.

Bau tak sedap tak hanya dikeluhkan warga Rawa Sengon. Afrizal, warga Tugu Selatan yang rumahnya lebih dekat lagi dari sampah dibanding Encas dan Saifullah, mengatakan selain bau, asap dari pembakaran sampah juga sangat mengganggu.

"Kadang debu, sering batuk, apalagi asap habis bakar sampah," kata Afrizal.

Tiga orang ini ingin tempat pembuangan sampah itu ditutup saja. Encas, misalnya, bilang, "mestinya buangnya di daerah yang agak jauh dari warga. Ini kan di tengah-tengah pemukiman."


Tapi toh keinginan itu jelas tidak mudah. Bagi warga lain, tempat pembuangan sampah itu adalah tempat mereka mencari uang. Saat saya ke lokasi, sejumlah warga tengah memilah sampah untuk dijual. Tak ada satu pun dari mereka yang bersedia diwawancara. Mereka semua menyarankan saya untuk menemui Ketua RW 07 saja.

Tempat yang dikeluhkan warga sama seperti tempat pembuangan sampah pada umumnya. Sampah-sampah seperti plastik, botol, kayu, hingga sisa-sisa makanan, terhampar seluas mata memandang. Angin membawa serta bau-bau yang dikeluhkan.

Beberapa truk sampah hilir mudik. Satu alat berat tengah mengeruk dan meratakan sampah agar tak terlalu menumpuk.

Ketua RW 07, Suaib, mengatakan wilayahnya sudah sejak dulu jadi tempat pembuangan sampah. Awalnya tidak ada yang mempermasalahkan karena memang masih banyak lahan kosong. Namun setelah banyak pemukiman, luas lahan pembuangan sampah berkurang dan makin dekat dengan warga.

Sampah-sampah itu berasal dari warga sekitar. Karena itulah Suaib bilang dia tak bisa berbuat banyak, apalagi sampai menyelesaikan masalah. Paling-paling, katanya, mengingatkan warga agar tidak terus-terusan membuang sampah di sana.

"Kami selalu mengingatkan, kalau tetap bandel kami undang rapat dan ingatkan agar mereka tak menumpuk dan menyebabkan bau tak sedap," ujar Suaib di lokasi pembuangan sampah, Kamis (2/8/2019).


Suaib dan pengurus RW 07 saat ini tengah menyiapkan lahan untuk tempat Pembuangan Sampah Ramah Lingkungan (PSRL) dengan dana swadaya dari warga. Ia mengklaim PSRL bisa menampung 50 ton sampah dalam sekali pembakaran.

"Cara pembakaran menggunakan bata api. Sampah masuk melebur. Tapi masih ada asap yang belum tersaring sehingga mengeluarkan karbon dioksida," ujarnya.

Warga juga mengerahkan truk untuk mengangkut sampah ke TPST Bantar Gerbang, Bekasi, Jawa Barat. Biaya angkut sampah juga menggunakan dana swadaya.

Menurut Suaib, bantuan dari Dinas Lingkungan Hidup DKI hanya membuatkan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang luasnya kurang lebih 200 meter persegi. Lokasinya disamping PSRL.

"Baru satu tahun belakangan ini TPS baru ada pengangkutan sampah dari Dinas Lingkungan Hidup. Tapi belum bisa ter-cover semuanya. Kami berharap dinas lebih memperhatikan dan cari solusi," ujarnya.

Kata Dinas


Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta Utara, Slamet Riyadi, mengklaim sudah berkoordinasi dengan Ketua RW 07, Lurah, dan Camat setempat membahas penumpukan sampah yang menyebabkan bau tak sedap. Salah satu upaya DLH yakni dengan membuat TPS baru.


"Tugas kami hanya mengangkut sampah, melayani warga supaya sampahnya tidak selalu menumpuk," kata Slamet, Kamis (2/8/2019).

DLH juga menyiapkan dua truk untuk mengangkut sampah. Jika dananya memadai, jumlah truk pengangkut sampah akan ditambah.

Slamet juga telah menyarankan lokasi tersebut dijadikan bank sampah.

"Kemarin juga sudah bicara dengan beberapa tokoh untuk membuat bank sampah agar dapat menampung sampah warga yang bisa dijual. Mungkin sisanya nanti kami angkut ke Bantar Gerbang," tuturnya.

Sementara untuk mengatasi bau tak sedap, Slamet mengklaim DLH Jakarta Utara tak memiliki anggaran untuk itu. Ia mengatakan lembaganya hanya bisa mengangkut sampah yang menumpuk sedikit demi sedikit.

Baca juga artikel terkait SAMPAH atau tulisan menarik lainnya Riyan Setiawan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Gilang Ramadhan
DarkLight