Poster-Poster "Lucu" di Demo Mahasiswa 2019 Jogja Hingga Jakarta

Oleh: Dipna Videlia Putsanra - 25 September 2019
Dibaca Normal 2 menit
Poster-poster lucu yang beredar saat demo menuntut pengesahan RUU PKS, menolak UU KPK, dan RUU yang bermasalah seperti RUU Pemasyarakatan, RKUHP, dan RUU Pertanahan.
tirto.id - Demo mahasiswa Jakarta hingga Jogja diwarnai poster-poster dengan kata-kata lucu. Kumpulan poster dan kata-kata saat demo banyak tersebar di media sosial Instagram, Twitter, dan Facebook. Kata-kata itu ditujukan untuk memprotes berbagai macam masalah yang belakangan ini terjadi di Indonesia.

Ribuan mahasiswa berdemonstrasi di Jakarta, Jogja, Bandung, Malang, Balikpapan, Samarinda, Purwokerto dan lainnya. Demo di berbagai kota itu menyuarakan tuntutan hampir sama, terutama menolak RUU KUHP dan Revisi UU KPK.

Kondisi Jakarta hari ini sudah tidak dipenuhi mahasiswa demo lagi. Namun, kata-kata yang mereka suarakan masih ramai dibagikan. Berikut ini beberapa poster dari demo mahasiswa 2019 di berbagai kota, sebagaimana dihimpun Tirto.

1. "Maaf Perjalanan Anda Terganggu, Sedang Ada Perbaikan Reformasi".
2. "I've Seen Smarter Cabinets at IKEA".
3. "Negara tidak memfasilitasi rindu, tapi mencampuri urusan saat kita bertemu".
4. "Aku Ingin Yang-yangan Tanpa Takut Ditangkap Polisi".

TUNTUT PENGESAHAN RUU PENGHAPUSAN KEKERASAN SEKSUAL
Massa Yang tergabung dalam Gerakan Umat Lintas Iman Se-Jawa Barat (Geulis) berunjuk rasa di depan Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Rabu (25/9/2019). ANTARA FOTO/Novrian Arbi/wsj.

5. "Entah Apa yang Merasukimu DPR?"
6. "Jok Kiri Mobil Pemberian Ayahmu Mungkin Milik Rakyat".
7. "Cukup Cintaku yang Kandas, KPK Jangan!"
8. "Asline Mager Pol, Tapi Piye Meneh? DPRe Pekok!!"
9. "Keputusanmu Ra Masook!!!"
AKSI RAKYAT MENGGUGAT NEGARA
Massa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Menggugat melakukan aksi unjuk rasa di Gedung DPRD Jawa Barat, Selasa (24/9/2019). ANTARA FOTO/Novrian Arbi/pd.

10. "Pak opo salah rakyatmu iki :( Koe nganti tego mblenjani janji".
11. "Kita gak butuh DPR. Kita butuhnya Hokage!!!"
12. "DPR Medot Janji"
13. "Kalo Seks Bebas Dipenjara, Siapa yang Kerja di Gedung DPR?"
14. "Dewan Perwakilan Ra Mashoook".
15. "Itu DPR apa lagunya Afgan? Kok 'SADIS'?"
16. "Cukup Cintaku yang Kandas, KPK Jangan".
17. "DPR Wahaye Kerjo Malah Turu Pisan Kerjo Malah Keliru".
18. "Sudah Diperkosa, Dibui Pula, Apa Kata Dunia?"
DEMO PENGESAHAN RUU KPK DI MALANG
Seorang wanita dari Aliansi Masyarakat Anti Korupsi (AMAK) membawa poster saat berunjuk rasa menolak pengesahan Revisi Undang-undang (RUU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di depan Gedung DPRD, Malang, Jawa Timur, Rabu (18/9/2019). ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/pras.

19. "Selangkanganku Bukan Urusan Pemerintah".
20. "Aku kira yang lemah cuma hatiku, ternyata KPK juga".
21. "Jangan Matikan Keadilan!!! Matikan Saja Mantanku!!!"
22. "Mau makan bareng dengan pacar tapi takut kena pasal zina di RKUHP".
23. "Sudah Kelewatan Kalo Kaum Rebahan Turun ke Jalan".
24. "Jangan Buat KPK Serapuh Hatiku".
25. "Indonesia Gak Bakal Maju Kalau DPR Ngurusi Peju".
TUNTUT PENGESAHAN RUU PENGHAPUSAN KEKERASAN SEKSUAL
Massa Yang tergabung dalam Gerakan Umat Lintas Iman Se-Jawa Barat (Geulis) berunjuk rasa di depan Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Rabu (25/9/2019). ANTARA FOTO/Novrian Arbi/wsj.

RUU yang bermasalah menjadi salah satu tuntutan demo mahasiswa di Jakarta. Demo mahasiswa juga terjadi di berbagai kota, mulai dari Bandung, Malang, Balikpapan, Samarinda, Purwokerto dan lain-lain.

Demo mahasiswa ini kurang lebih menuntut hal yang sama soal rancangan undang-undang atau RUU yang bermasalah. Beberapa RUU bermasalah yang didemo mahasiswa adalah Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP), RUU Pertanahan, RUU Minerba, RUU Pemasyarakatan, dan RUU Ketenagakerjaan.

Sejumlah protes di atas sebagian besar mengkritik soal RKUHP, RUU PKS, dan UU KPK. Mereka menuntut RUU PKS agar segera disahkan, salah satunya untuk mengakomodasi korban kekerasan seksual.


Baca juga artikel terkait DEMO MAHASISWA atau tulisan menarik lainnya Dipna Videlia Putsanra
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Agung DH
DarkLight