Pemilu Serentak 2024

Poros Golkar-PPP-PAN & Potensi Tiga Kutub di 2024, Siapa Capresnya?

Reporter: Andrian Pratama Taher - 16 Mei 2022 07:00 WIB
Dibaca Normal 6 menit
Komposisi Pilpres 2024 sudah mengarah pada 3 poros, yaitu: PDIP-Gerindra, poros Golkar, serta Nasdem. Siapa capres-cawapresnya?
tirto.id - Peta konstelasi pemilihan umum serentak 2024 semakin terang. Pada Kamis malam, 12 Mei 2022, tiga partai koalisi pemerintah Jokowi, yakni PPP, PAN dan Golkar menggelar pertemuan dan silaturahmi di Rumah Heritage, Jakarta. Usai pertemuan, Ketua Umum DPP Partai Golkar, Airlangga Hartarto menegaskan Golkar, PPP, dan PAN akan bekerja sama. Ketiga partai memiliki satu visi soal budaya baru politik Indonesia.

“Kami melihat bahwa ke depan kami ingin membangun budaya politik baru. Budaya politik baru itu dijalankan dengan kerja sama yang berjenjang dan bertahap. Kerja sama ini tidak dilakukan secara terburu-buru, tetapi dari hasil kajian yang mendalam," kata Airlangga di Rumah Heritage Jakarta, Kamis lalu.

Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah tokoh dari ketiga parpol, yakni Airlangga, Bendahara Umum DPP Golkar Dito Ganinduto, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan bersama Wakil Ketua Umum PAN Asman Abnur, serta Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa bersama Majelis Pertimbangan PPP Muhamad Mardiono. Airlangga pun mengakui bahwa pertemuan akan berupaya mendorong Golkar berkoalisi dengan PPP dan PAN.

“Pertemuan ini tentu akan mendorong tiga partai ini untuk bekerja sama bersama atau akan bersatu. Bersatu itu sendiri berarti adalah beringin, matahari, dan baitullah," ucap Airlangga.

Pertemuan tersebut, kata Airlangga, juga menegaskan ketiga partai akan bekerja sama untuk memenuhi agenda politik di 2024 mendatang. “Semoga kerja sama ini mendapatkan rida dari Allah SWT. Karena kami akan mendorong persatuan dan kami akan menegasikan risiko-risiko akibat daripada politik identitas," kata Airlangga.

Sementara itu, Suharso mengatakan PPP, Golkar, dan PAN ingin menunjukkan kerja sama yang cantik antarpartai politik untuk memperkuat kebersamaan.

“Kami ingin menunjukkan atau mendemonstrasikan sebuah kerja sama yang jauh lebih awal dan lebih cantik antara sesama partai politik untuk saling mengisi dan memperkuat kebersamaan," kata Suharso di lokasi yang sama.

Suharso menuturkan, kebersamaan yang dibangun menekankan untuk tidak menerapkan politik identitas di masa depan. Ia tidak ingin politik identitas terjadi lagi di masa depan seperti kisah masa lalu.

"Kami memang koalisi dari pemerintahan saat ini. Tentu kami ingin memastikan seluruh perjalanan pertanggungjawaban yang diemban oleh pemerintah harus selesai dengan tuntas dan baik," ucapnya.

Dengan demikian, pemerintahan yang saat ini berlangsung dapat melahirkan legasi yang baik bagi rakyat dan bangsa Indonesia sampai dengan masa jabatan 2024. “Tentu ada banyak hal baik dan bagus yang patut untuk dilanjutkan pada masa yang akan datang," kata Suharso.


Peta Politik Semakin Terlihat

Pertemuan ketiga partai yang berakhir dengan makna sepakat mempengaruhi konstelasi politik 2024. Sebagai catatan ketiga parpol ini sudah dapat mengusung calon presiden dan calon wakil presiden sendiri yakni memenuhi ambang batas 20 persen atau 15 persen jumlah kursi di DPR (sekitar 86 kursi). Golkar mengantongi 85 kursi atau 14,78 persen suara nasional; PAN mengantongi 44 kursi atau 7,65 persen suara nasional; dan PPP 19 kursi atau 3,3 persen suara nasional. Setidaknya syarat suara nasional terpenuhi yakni 25,73 persen.

Di luar itu, aksi safari politik Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto juga memberi sinyal posisi Gerindra pada Pemilu 2024. Dalam catatan Tirto, Prabowo bersilaturahmi dengan Presiden Jokowi dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri di hari pertama lebaran dengan membawa pengurus Gerindra. Jika PDIP dan Gerindra berkoalisi, maka total suara nasional sudah memenuhi satu tiket yakni 35,38 persen (PDIP 22,26 persen dan Gerindra 13,57 persen).

Kini, tersisa 4 partai lagi yang belum menentukan posisi di 2024, yakni Partai Nasdem (dengan perolehan suara nasional 10,26 persen atau 59 kursi), PKB (perolehan suara nasional 10,09 atau 58 kursi), Demokrat (9,39 persen suara nasional atau 54 kursi) dan PKS (8,7 persen suara nasional atau 50 kursi).

Sekjen Partai Nasdem, Jhonny G. Plate mengaku akan menggelar rakernas pada 15-17 Juni 2022 dalam menyikapi Pemilu 2024. Setidaknya ada dua agenda yang akan dibahas. Pertama, kesiapan menghadapi Pemilu 2024, baik pilkada, pileg dan pilpres. Kedua, partai besutan Surya Paloh akan menentukan kandidat capres 2024 berdasarkan penjaringan capres secara berjenjang.

“Output rakernas nanti mengusulkan kepada ketum tiga bahkan bisa empat capres untuk nanti dipilih 1 capres dan membangun koalisi capres sesuai persyaratan presidential treshold sesuai UU Pemilu," kata Plate di Hyatt, Jakarta, Jumat (13/5/2022).

Plate juga menilai komunikasi politik adalah hal positif dalam membangun kegotongroyongan politik. Hal itu menjawab soal Airlangga yang sudah bertemu Paloh sebelum mantan Menteri Perindustrian itu mendeklarasikan koalisi bersama PPP dan PAN. Ia menilai pertemuan tidak melulu membahas soal Pilpres 2024. Bisa saja untuk menyukseskan kabinet agar terus berjalan baik.



Ia kembali menegaskan bahwa koalisi Nasdem mengacu 3-4 rekomendasi capres dan membangun koalisi demi memenuhi syarat. Hal itu sebagai tindak lanjut karena Nasdem tidak bisa menggelar konvensi capres. Koalisi juga tidak bisa dibangun oleh pengurus daerah sehingga pengurus pusat yang akan turun untuk membangun koalisi.

"Pasti ketum bersama jajaran DPP akan melakukan komunikasi-komunikasi publik dalam rangka membentuk koalisi. Yang pasti koalisi kita, capres kita, seperti yang disampaikan ketum dari NasDem prasyarat pertama kontinuitas pembangunan nasional," tegas Plate.

Sementara itu, Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) juga memastikan bahwa Demokrat membuka peluang untuk membangun koalisi dalam menyongsong Pilpres 2024. Ia tidak memungkiri partai berlambang mercy butuh kolega untuk maju dalam pilpres mendatang.

“Demokrat tentu tidak bisa sendirian, kami harus membangun koalisi dengan satu partai besar atau dua sampai partai menengah,” kata AHY di Banda Aceh, Rabu (11/5/2022) seperti dikutip Antara.

Keesokan harinya, Kamis (12/5/2022), AHY kembali menegaskan bahwa dirinya terus membangun komunikasi untuk koalisi di 2024. Ia memastikan komunikasi dibangun untuk membuat koalisi demi maju 2024.

"Saya berkomunikasi dan berhubungan baik ya, bersilaturahim dengan partai-partai politik lainnya. Siapa pun, termasuk tokoh-tokoh politik. Mengapa? Karena ingin kita terus menjajaki kemungkinan-kemungkinan," ucap AHY di Medan, Kamis (12/5).


Tiga Calon dan Paslon Bertukar

Dosen politik dari Universitas Telkom, Dedi Kurnia Syah menilai, kehadiran koalisi Golkar-PPP-PAN justru menjadi alat buat Airlangga meneguhkan posisinya di partai berlambang pohon beringin. Bagi Airlangga, koalisi tiga partai akan membuat posisinya di Golkar tidak diganggu isu keretakan internal Golkar dan bisa menjamin tiket keterusungan dalam Pemilu 2024. Ia juga menilai wajar PPP dan PAN merapat karena jumlah kursi mereka lebih kecil dari Golkar.

“Dilemanya, koalisi ini tidak punya tokoh potensial, termasuk Airlangga sekalipun masih cukup kuat diragukan, jika Golkar dihantam isu perpecahan di dalam sebelum masa penentuan kandidasi, maka koalisi ini terancam pecah," kata Dedi kepada reporter Tirto.

Potensi koalisi pecah pun semakin menguat jika ada upaya menggaet partai baru seperti Nasdem, Demokrat, PKB atau PKS. Sebab, kata Dedi, partai sisa memiliki kandidat yang jauh lebih kuat dibandingkan Airlangga.

“Untuk itu, koalisi Golkar ini belum cukup konfirm bersama hingga waktu mendatang. Terlebih jika Golkar memaksa mengusung Airlangga," tegas Dedi.

Dedi melihat, komposisi Pilpres 2024 sudah mengarah pada 3 poros. Poros pertama adalah PDIP-Gerindra, poros Golkar dan dua partai (PPP dan PAN), serta poros Nasdem yang diprediksi akan bersama Demokrat.

Untuk Pilpres, koalisi PDIP kemungkinan akan melirik Prabowo bersama Puan Maharani di 2024. Poros Nasdem ini kemungkinan bisa mengusung Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, AHY, Sandiaga Uno atau nama lain yang lebih potensial dari Airlangga. Masuknya nama Sandiaga tidak menutup kemungkinan karena kuatnya figur Prabowo sehingga Menparekraf itu bergeser ke partai lain, kata Dedi.

Dua partai lain, kata Dedi, PKB dan PKS pun diprediksi tidak bergabung ke gerbong PDIP-Gerindra.

"PKB bisa merapat ke Golkar dengan asumsi suara PKB jauh lebih besar dari PPP dan PAN, sekaligus memungkinkan adanya tawaran sebanding dengan Muhaimin Iskandar, sementara PKS punya kecenderungan merapat pada siapa Anies akan diusung. Karena bagaimanapun PKS punya catatan sendiri dengan Anies sejak Pilgub DKI," kata Dedi.

Dedi menilai, kursi capres bakal semakin menarik jika poros Golkar tidak mampu mendorong Airlangga. Sebeb, tidak menutup kemungkinan capres potensial di kubu lain akan "dibajak" demi memenangkan koalisi ini.

“Jika elektabilitas Airlangga tak kunjung menjanjikan, maka bukan tidak mungkin mereka akan ambil tokoh d luar koalisi, itu jauh lebih baik. Andai saja semisal secara mengejutkan membajak Ganjar Pranowo, ini akan sangat baik untuk mereka," kata Dedi.



Hal senada diungkapkan analis politik Indostrategi, Arif Nurul Imam. Ia menilai kehadiran koalisi Golkar-PPP-PAN adalah upaya ancang-ancang partai menghadapi Pemilu 2024. Ia mengingatkan kondisi tiga partai tersebut sulit bergerak sendiri untuk pemilihan 2024.

“Tiga partai itu harus berkoalisi karena mereka kalau berdiri sendiri-sendiri tidak memenuhi syarat untuk mengajukan pasangan capres-cawapres. Itu bisa dilihat sebagai gerak politik untuk menyeimbangkan capres-cawapres lainnya yang melakukan capres maupun poros politik lain yang melakukan konsolidasi," kata Imam kepada Tirto.

Imam mengatakan setidaknya sudah ada poros yang dipastikan maju di 2024. Pertama adalah sinyal Gerindra mengusung Prabowo dan upaya komunikasi Prabowo dengan PDIP. Sementara itu, PDIP tengah melihat langkah apakah akan memajukan Puan atau Ganjar. Di sisi lain, upaya Nasdem yang akan menentukan capres dalam rakernas juga dinilai bisa membawa poros politik.

Langkah tiga partai akan membuat tensi politik meninggi, membentuk terang poros dan membentuk poros koalisi. "Maksimal 3 poros," tegas Imam.

Imam memprediksi Nasdem akan membuat poros sendiri bersama PKS dan Demokrat. Golkar-PPP-PAN sudah satu klaster. PDIP-Gerindra akan berada dalam satu klaster. Ia beralasan, Nasdem menjadi poros sendiri karena kesiapan Nasdem sudah kuat.



Lalu di mana PKB? PKB akan terus berupaya mendorong Muhaimin untuk menjadi capres. PKB akan mulai berkalkulasi ulang untuk menentukan dukungan bersama satu dari tiga poros yang ada seperti yang dilakukan sejak 2009 bila Muhaimin gagal maju.

“PKB partainya realistis. Cenderung yang bisa mengakomodasi kepentingan politik dan yang memiliki probabilitas politik kemenangan tinggi. Untuk sementara PKB ingin mengusung Muhaimin Iskandar. Jika itu mentok misalnya tidak maju, tentu PKB akan melakukan kalkulasi politik berdasar kemanfaatan politik dari pertimbangan-pertimbangan taktis politik," tutur Imam.

Sementara itu, nama capres-cawapres dari tiap poros bisa diprediksi. Kubu Gerindra jelas ingin Prabowo maju sebagai capres. Jika Gerindra bersama PDIP jadi maju bersama, Prabowo kemungkinan besar menjadi capres. Ia diprediksi bersama Puan atau bersama Ganjar.

Nama Ganjar bisa saja pergi dari PDIP jika gagal dapat tiket nyapres. Ganjar bisa merapat ke poros Golkar atau poros Nasdem. Selain Nasdem juga tengah santer dikabarkan akan mengusung Anies Baswedan. Hal itu tidak terlepas dari kalkulasi politik partai demi memenangkan Pemilu 2024.

“Kalau kemudian Ganjar tidak diusung oleh PDIP, kemungkinan ditangkap Nasdem disandingkan dengan Erick Tohir atau Sandiaga Uno," kata Imam.

“Nasdem bisa sama Anies, Ganjar diambil oleh Golkar. Kemungkinannya kalau Ganjar tidak dapat perahu politik, dia bisa masuk Golkar-PAN-PPP," tegas Imam.

Imam mengatakan nama-nama dan koalisi bisa berubah di last minute. Hal tersebut tidak terlepas dari karakter PDIP yang kerap mengumumkan capres di menit akhir. Sementara itu, partai menengah akan berkoalisi, sementara waktu sambil berkalkulasi kemenangan koalisi. Namun saat ini ia menduga kuat akan terbentuk tiga poros.

“Potensi besar untuk 3 kutub politik," tutur Imam.


Baca juga artikel terkait PEMILU 2024 atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher
(tirto.id - Politik)

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Abdul Aziz

DarkLight