Polri Tes DNA Keluarga Pasangan WNI Pengebom Gereja Jolo Filipina

Oleh: Adi Briantika - 24 Juli 2019
Dibaca Normal 1 menit
Pasangan WNI diduga pelaku bom bunuh diri di Gereja Jolo Filipina yakni Rullie Rian Zeke dan Ulfah Handayani Saleh, asal Sulawesi Selatan dan bekerja dalam bidang swasta.
tirto.id - Polisi mengetahui pasutri WNI pengebom Katedral Our Lady of Mount Carmel, di Pulau Jolo, Filipina Selatan, berdasarkan keterangan lima tersangka yang ditangkap di sana. Lantas Polri akan menguji secara ilmiah kebenaran jasad kedua pelaku.

"Dari sisi scientific, Densus 88 sudah bekerja sama dengan kepolisian Filipina (untuk) tes DNA beberapa potongan tubuh yang di dapat di lokasi kejadian," ucap Karopenmas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Rabu (24/7/2019).

Nantinya DNA kedua pelaku akan dicocokkan dengan pihak keluarga yang ada di Sulawesi Selatan.

"Setelah dicocokkan identik DNA, nanti akan ada penyampaian secara resmi bahwa kedua orang itu merupakan pengebom bunuh diri. Secara ilmiah akan lebih menguatkan keterangan sementara yang diberikan oleh tersangka yang sudah ditangkap di Filipina," jelas Dedi.


Pasangan WNI ini yakni Rullie Rian Zeke dan Ulfah Handayani Saleh, asal Sulawesi Selatan dan bekerja dalam bidang swasta.

Mereka dicuci otak oleh Andi Baso, perekrut orang untuk dijadikan 'pengantin' alias pelaku bom bunuh diri. Baso masih buron dan diduga masih menetap di Filipina Selatan.

Baso saat ini masih diburuh polisi dalam perkara teror di Gereja Oikumene Samarinda pada November 2016.

Ia juga yang mengatur perjalanan pasutri itu ke Filipina. Peran pasutri juga itu diketahui berdasarkan penuturan dua terduga teroris yang ditangkap Densus 88 Antiteror yakni anggota Jamaah Ansharut Daulah Kalimantan Timur, Yoga, dan anggota Jamaah Ansharut Daulah Sumatera Barat, Novendri.


Pengeboman gereja itu terjadi pada Minggu (27/1/2019), ledakan itu terjadi hanya berselang satu pekan usai warga Jolo setuju masuk wilayah otonomi Bangsamoro. Ledakan terjadi di pagi hari ketika orang-orang berkumpul untuk misa di katedral itu. Bom bunuh diri ini mengakibatkan setidaknya 27 orang meninggal dan 77 orang luka-luka.



Katedral di Jolo beberapa kali jadi sasaran sekelompok gerilyawan yang berafiliasi dengan Abu Sayyaf dan ISIS.

Pada tahun 2010, dua serangan granat terpisah mengguncang gereja, meskipun tidak ada korban luka. Tiga tahun kemudian, dua pengunjung gereja terluka dalam serangan serupa.

Baca juga artikel terkait ISIS FILIPINA atau tulisan menarik lainnya Adi Briantika
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Adi Briantika
Penulis: Adi Briantika
Editor: Zakki Amali
DarkLight