Menuju konten utama

Polri Kerahkan 292 Personel Brimob Bantu Penanganan Bencana NTT

Sebanyak 61 personel dari Korps Brimob Polri, 100 personel Brimob Polda Jatim, 31 personel Brimob Polda Jateng, dan 100 personel Brimob Polda Bali.

Polri Kerahkan 292 Personel Brimob Bantu Penanganan Bencana NTT
Warga Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur sedang mencari para korban banjir bandang yang masih belum ditemukan, Minggu (4/4). (Antara/ HO Kominfo Kabupaten Lembata).

tirto.id - Polri mengerahkan 292 anggota Brimob ke lokasi bencana banjir dan longsor di Nusa Tenggara Timur. Personel diberangkatkan pada Selasa (6/4/2021).

"Kemarin telah dikirim (anggota) bawah kendali operasi ke Nusa Tenggara Timur sebanyak 292 personel Brimob Nusantara," kata Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Pol Ahmad Ramadhan, di Mabes Polri, Rabu (7/4/2021).

Rinciannya, 61 personel Korps Brimob Polri, 100 personel Sat Brimob Polda Jawa Timur, 31 personel Sat Brimob Polda Jawa Tengah, dan 100 personel Sat Brimob Polda Bali.

Banjir dan longsor itu terjadi karena hujan lebat pada Minggu (4/4), sekira pukul 01.00 WITA. Sebanyak 11 daerah terdampak bencana yakni Kupang, Flores Timur, Malaka Tengah, Lembata, Ngada, Alor, Sumba Timur, Rote Ndao, Sabu Raijua, Timor Tengah Selatan, dan Ende.

"Akibat bencana tersebut, 68 orang meninggal dunia," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana Raditya Jati dalam konferensi pers daring, Senin (5/4).

Angka tersebut masih mungkin bertambah karena korban jiwa masih dalam pendataan. Di Kabupaten Flores Timur misalnya, ada 60 rumah terendam lumpur, 17 rumah hanyut, lima jembatan putus, puluhan rumah terendam banjir, lalu ruas jalan Waiwadan-Danibao dan Numindanibao terputus di empat titik.

Sementara, pihak Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menjelaskan banjir disertai tanah longsor dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi. Ada dua bibit siklon tropis yang berdampak pada cuaca ekstrem, sehingga curah hujan lebat dan angin kencang berlangsung di NTT sejak 3–9 April. Bibit siklon tersebut berkembang menjadi siklon tropis Seroja pada Senin pukul 1 dini hari dengan kekuatan 35 knots (65 km/jam).

Selain berdampak pada naiknya intensitas hujan menjadi sedang hingga lebat, siklon tropis Seroja juga membuat gelombang laut naik. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan siklon tropis Seroja sendiri adalah dampak dari perubahan iklim global. Perubahan iklim membuat suhu muka laut di perairan di Samudera Hindia semakin panas hingga 29 derajat celcius; sementara suhu udara di lapisan atmosfer menengah juga meningkat pada tekanan 500 milibar atau lebih dari 7 derajat celcius.

"Maka terjadi aliran angin yang sifatnya juga siklonik dan ini sangat jarang terjadi di wilayah tropis seperti Indonesia, tapi 5-10 tahun ini terjadi karena dampak perubahan iklim global," katanya dalam konferensi pers Senin malam.

Baca juga artikel terkait BANJIR NTT atau tulisan lainnya dari Adi Briantika

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Adi Briantika
Penulis: Adi Briantika
Editor: Restu Diantina Putri