Politisi dan Penguasa Ada di Balik Pembunuhan Para Jurnalis

Oleh: Wan Ulfa Nur Zuhra - 25 Oktober 2018
Dibaca Normal 2 menit
Hampir tiga dekade seribuan jurnalis tewas dan ratusan di antaranya mati dibunuh, termasuk Khashoggi.
tirto.id - Kolumnis The Washington Post Jamal Khashoggi menghilang setelah memasuki kantor konsulat Arab Saudi di Turki, pada 2 Oktober lalu. Perintah Arab Saudi sempat berkilah dan menyatakan Khashoggi meninggal dunia usai berkelahi.

Pada Minggu, 21 Oktober, Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir memberikan pernyataan berbeda dan membenarkan bahwa Khashoggi mati dibunuh. Namun, dalam pernyataan itu, ia menegaskan pembunuhan itu dilakukan oleh individu dan menjadikan konsulat dan pemerintah Saudi sebagai kambing hitam. Sampai saat ini, belum ada hasil investigasi resmi tentang kematian Khashoggi.


Jamal Khashoggi bukanlah jurnalis pertama yang mati dibunuh tahun ini. Sebelumnya, Committee to Protect Journalist (CPJ) mencatat setidaknya ada 27 jurnalis di seluruh belahan dunia yang menjadi korban pembunuhan, nama Khashoggi belum termasuk dalam daftar tersebut.

Pada 13 Januari 2018, sekitar jam 3 sore di Tamaulipas, Meksiko, mobil milik jurnalis veteran Domínguez Rodríguez diberhentikan di sebuah lampu merah. Dua lelaki tak dikenal kemudian menghampirinya, membuka pintu mobilnya, dan menusuk Rodríguez sebanyak 21 kali. Di usianya yang sudah menginjak 77 tahun, Domínguez Rodríguez masih bekerja sebagai kolumnis untuk Noreste Digital dan Horizonte de Matamoros.

Sekitar dua bulan setelah pembunuhan itu, Kejaksaan Tamaulipas mengumumkan nama-nama pelaku penusukan dan otak di balik aksi keji itu. Nama keponakan seorang politisi muncul, politisi yang sering dikritik Rodríguez dalam kolom-kolomnya.

Dari 27 kasus pembunuhan jurnalis sepanjang 2018, kelompok politisi tercatat sebagai pelaku pembunuhan terbanyak, yakni mencapai 13 kasus. Selebihnya dilakukan oleh kelompok kriminal, aparat pemerintah, atau gabungan ketiganya.

Tahun ini, Afganistan menjadi negara tempat jurnalis paling banyak dibunuh. Sebanyak 10 dari total 27 kasus terjadi di sana. Meksiko dan Amerika Serikat pun tak aman bagi para jurnalis. Ada empat jurnalis yang mati dibunuh di masing-masing negara sepanjang 2018.



Jika ditarik lebih jauh, yakni sejak 1992, jumlah jurnalis yang dibunuh mencapai 848 orang. Dari angka itu, pembunuh terbanyak juga datang dari kelompok politisi. Satu dari tiga kasus pembunuhan jurnalis di seluruh belahan dunia selama 26 tahun terakhir juga didalangi oleh para politisi.

Pembunuh jurnalis terbanyak di posisi kedua adalah aparat pemerintah, menurut data CPJ, mereka mendalangi satu dari lima kasus pembunuhan jurnalis sejak 1992.



Angka pembunuhan jurnalis yang dilakukan para politisi dan pemerintah ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kriminal atau mafia. Dalam periode yang sama, pembunuhan yang dilakukan para mafia tercatat sebanyak 113 kasus.

Daphne Caruana Galizia, jurnalis investigasi yang ikut membongkar kasus Panama Papers di Malta menjadi salah satu korban pembunuhan kelompok kriminal. Pada 16 Oktober 2017, mobil yang dikendarai Daphne meledak, ia tak selamat.

Di beberapa kasus, pelaku pembunuhan jurnalis bukan kelompok tunggal, melainkan gabungan dua kelompok atau lebih. Seperti yang menimpa Danilo López, tiga tahun silam. Jurnalis yang sehari-hari meliput korupsi, politik, dan kriminal ini dibunuh oleh kelompok kriminal dan pemerintah di Guatemala. Ia ditembak oleh dua pengendara sepeda motor ketika sedang berjalan di taman Mazatenango.

Pada Maret 2018 lalu, Jos Midas Bartman dari University of Amsterdam pernah meneliti tentang pembunuhan wartawan di Meksiko. Hasil penelitiannya berjudul Murder in Mexico: are Journalists Victims of General Violence or Targeted Political Violence?

“Beberapa serangan dan pembunuhan jurnalis ditargetkan secara politis. Artinya, seorang pejabat publik terlibat dalam pembunuhan itu,” tulis Bartman. Dia menjelaskan, banyaknya kasus pembunuhan wartawan oleh pemerintah dan politisi juga disebabkan oleh keterlibatan para politisi itu dengan kelompok mafia atau kriminal tingkat tinggi.



Infografik Pembunuhan Wartawan


Jurnalis di Indonesia


Investigasi atas kasus-kasus pembunuhan jurnalis di Indonesia pun kerap tak tuntas. Para pelaku tak tersentuh proses hukum. Dalam catatan CPJ, ada delapan jurnalis yang mati dibunuh di Indonesia dan lima di antaranya diduga didalangi pihak pemerintah.



Pembunuhan atas Fuad Muhammad Syafruddin (Udin) dari Harian Bernas menjadi salah satu kasus pembunuhan jurnalis di Indonesia yang tak kunjung tuntas diusut. Udin meninggal dunia pada 16 Agustus 1996 di Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta. Tiga hari sebelumnya, dua orang tak dikenal datang ke rumahnya, memukul kepala dan perut Udin dengan besi, lalu melarikan diri dengan sepeda motor.

Dua bulan setelah Udin dibunuh, Kepolisian Yogyakarta menangkap Dwi Sumadji sebagai tersangka. Akan tetapi, istri Udin menyatakan Dwi bukanlah lelaki yang datang ke rumahnya dan memukul suaminya. Sampai saat ini, belum ada kejelasan siapa sebenarnya yang menganiaya Udin hingga tewas.



Setahun setelah kasus pembunuhan Udin, Naimullah, jurnalis Sinar Pagi juga dibunuh. Saat itu, ia sedang menginvestigasi praktik pembalakan liar di Kalimantan yang diduga melibatkan pihak kepolisian. Hingga kini, kasus pembunuhan Naimullah ini pun mengambang, tak ada pelaku yang ditangkap.

Nama-nama jurnalis lainnya yang juga dibunuh di Indonesia adalah Muhammad Sayuti Bochari, Herliyanto, Anak Agung Prabangsa, Ridwan Salamun, Alfrets Mirulewan, dan Ardiansyah Matra’is.

Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Abdul Manan mengatakan, pola pembunuhan wartawan di Indonesia juga serupa dengan apa yang terjadi secara global. "Dalam beberapa kasus, terlihat bahwa pelaku adalah orang-orang berkuasa," ujar Manan (24/10). Dia menyebutkan dua contoh kasus, yakni yang menimpa Udin dan Anak Agung Prabangsa. Keduanya dibunuh dan hingga saat ini, tak ada kejelasan siapa pembunuhnya.

Baca juga artikel terkait PEMBUNUHAN JURNALIS atau tulisan menarik lainnya Wan Ulfa Nur Zuhra
(tirto.id - Hukum)


Penulis: Wan Ulfa Nur Zuhra
Editor: Suhendra
Dari Sejawat
Infografik Instagram