Politik Pamer Ekspor Jokowi di Tengah Defisit Neraca Perdagangan

Presiden Joko Widodo (tengah) menjajal motor Yamaha XMax di pabrik PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing, Jakarta, Senin (3/12/2018). ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Oleh: Husein Abdulsalam - 24 Januari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Jokowi rajin hadiri seremoni lepas ekspor dan mencuit kata "ekspor" pada 2018. Ironisnya, pada akhir tahun, neraca perdagangan 2018 mengalami defisit.
tirto.id - "Selamat pagi. Ratusan gerbong kereta api buatan Indonesia akan rutin melintasi rel-rel di negara Bangladesh setelah hari Minggu lalu, PT Industri Kereta Api (INKA) mulai mengirimkan 15 kereta penumpang dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya ke Bangladesh."

Dua penggal kalimat itu terpampang di akun instagram milik Presiden Joko Widodo, @jokowi, Selasa (22/01). Itu adalah satu dari empat paragraf yang digunakan @jokowi untuk menyertai sebuah potret gerbong kereta api tengah diangkat ke sebuah kapal berwarna biru.

Lima belas kereta yang disebut Jokowi itu adalah kloter pertama dari 250 kereta yang bakal INKA kirim secara bertahap ke Bangladesh pada 2019. Nilai kontrak antara INKA dengan Bangladesh Railway untuk produksi kereta api tersebut sebesar 100,8 juta dolar AS.


Berita tersebut tak terlalu mengejutkan. INKA sudah menjalin relasi bisnis dengan Bangladesh Railway pada tahun-tahun sebelumnya. Pada 2016, INKA mengekspor 150 kereta senilai 72,39 juta dolar AS ke Bangladesh.

Namun, ekspor INKA tahun ini terasa lebih politis karena Jokowi turut mengabarkannya melalui akun pribadinya. Pada 2016, Jokowi tidak melalukan itu. Dia tidak datang ke seremoni lepas ekspor pun mengunggah capaian INKA tersebut ke media sosial miliknya.

Dengan kata lain, Jokowi memilah dan memilih seremoni lepas ekspor yang perlu dia datangi dan kabarkan. Tak semua seremoni lepas produk ekspor dihadiri Jokowi. Tak semuanya pula dikabarkan ulang oleh Jokowi lewat akun media sosialnya.

Jokowi dan Seremoni Lepas Ekspor

Melalui penelusuran media, Tirto mencatat bahwa selama menjabat presiden, Jokowi menghadiri hanya enam seremoni lepas ekspor.

Seremoni yang Jokowi datangi untuk pertama kali ialah lepas ekspor 27 komoditas unggulan Sulawesi Selatan (Sulsel). Acara itu berlangsung di Pelabuhan Soekarno-Hatta, Kota Makassar, Senin (03/08/2015).

Dalam kesempatan itu, Jokowi menyinggung soal melemahnya nilai tukar rupiah sekaligus mendorong para eksportir untuk memanfaatkan situasi tersebut untuk mencari ceruk keuntungan. Saat itu, sebagaimana dicatat situsweb Sekretariat Kabinet, posisi rupiah di angka Rp13.400 hingga Rp13.500.

“Saya malas lihat pengusaha yang suka mengeluh. Sekecil apa pun peluang harus dimasuki,” ujar Jokowi.


Seremoni kedua lepas ekspor yang didatangi Jokowi berlangsung setahun berikutnya, yakni pada November 2016. Seremoni tersebut bertempat di Kota Makassar. Komoditas yang diekspor ialah kacang mete hasil olahan pabrik di kawasan Salodong, Desa Nelayan.

"Kita akan mendorong industri mete tidak diekspor dalam bentuk raw material. Kemungkinan nanti setelah pulang dari sini, minggu depan kita akan bicarakan agar pajak ekspor sama seperti kakao cokelat kena 10 persen. Ini mete juga kena hingga industrinya berkembang. Stop ekspor raw material, kita dorong industri mete tanah air," kata Jokowi di seremoni tersebut.

Sementara itu, sejak Jokowi dilantik menjadi presiden pada 2014 hingga akhir 2016, kata "ekspor" muncul hanya dua kali di dua cuitan berbeda yang diunggah akun twitter Jokowi. Keduanya tidak membicarakan seremoni lepas ekspor. Cuitan pertama menyinggung dermaga peti kemas Depapre di Papua yang diperuntukkan sebagai pelabuhan ekspor. Di cuitan kedua, Jokowi mengatakan, "Senang dengar laporan Yusuf Ali, pemilik LuLu Grup. Sejak kunjungan saya ke Arab lalu, ekspor RI naik 2X lipat -Jkw."


2018: Rajin Sambangi Lepas Ekspor

Sepanjang 2017, Jokowi tercatat tidak menghadiri satu pun seremoni lepas ekspor. Pun, tiada kata "ekspor" dalam cuitannya.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), total ekspor Indonesia sepanjang Januari-Desember 2017 senilai 168,73 miliar dolar AS. Dibanding tahun sebelumnya, total ekspor Indonesia 2017 tumbuh 16,22 persen. Pada saat bersamaan, kinerja impor Indonesia juga mengalami penaikan. Total nilai impor Indonesia sebesar 156,89 miliar dolar AS pada periode ini. Ada pertumbuhan 15,66 persen dari tahun sebelumnya.

Capaian itu mendobrak pola nilai ekspor Indonesia yang mengalami tren penurunan sejak 2011. sekaligus menjebol pola nilai impor Indonesia yang mengalami tren penurunan sejak 2012.


Kemudian, pada 2018, kinerja ekspor Indonesia masih menunjukkan tren penaikan, meskipun tipis. Sepanjang Januari-Desember 2018, total ekspor Indonesia senilai 180,06 miliar dolar AS. Nilainya tumbuh 6,65 persen dibanding tahun 2017.

Namun, di 2018, impor tumbuh lebih kencang daripada ekspor. Pertumbuhan impor tertinggi terjadi pada April, yakni sebesar 35,24 persen. Sepanjang Januari-Desember 2018, total nilai impor Indonesia sebesar 188,63 miliar dolar AS. Secara akumulatif, nilai impor Indonesia 2018 tumbuh sebesar 20,15 persen dibanding tahun 2017.

Walhasil, neraca perdagangan Indonesia 2018 mengalami defisit sebesar 8,57 miliar dolar AS. Ini merupakan defisit tahunan pertama dalam empat tahun terakhir dan yang terparah selama selama Republik berdiri. Di era Reformasi, neraca perdagangan Indonesia sempat mengalami defisit selama tiga tahun berturut-turut (2012-2014) tapi nilainya tidak ada yang sampai 5 miliar dolar AS.

"Defisit ini terbesar sejak 1975. Tahun itu kita defisit sebesar 391 juta dolar AS," ujar Kepala BPS Kecuk Suhariyanto kepada para wartawan, Senin (15/01/2019).

Suharyanto menjelaskan defisit sepanjang 2018 disebabkan oleh neraca migas yang tekor 12,4 miliar dolar AS. Penyumbang terbesar defisit sektor ini adalah defisit minyak mentah dan hasil minyak, dengan masing-masing nilai sebesar 4,04 miliar dolar AS dan 15,95 miliar dolar AS. Sebaliknya, sektor non-migas mengalami surplus sebesar 3,84 miliar dolar AS.

Tahun 2018 juga menggambarkan perubahan perhatian Jokowi terhadap seremoni lepas ekspor. Sepanjang 2018, Jokowi tercatat menghadiri empat seremoni, yakni lepas ekspor—berdasarkan produknya—Mitsubishi Xpander (April), produk manufaktur yang diekspor ke AS (Mei), 1 juta unit mobil CBU Toyota (September), dan 1,5 juta unit motor Yamaha (Desember).

Cuitan yang mengandung kata "ekspor" pun muncul lagi. Selama 2014-2018, kata itu muncul di 13 cuitan. Sebelas di antaranya muncul pada 2018. Selain digunakan dalam cuitan yang mengabarkan seremoni lepas ekspor di atas, ia juga muncul dalam cuitan yang sifatnya memberi tahu potensi komoditas ekspor Indonesia.



Misalnya, pada Juli 2017, Jokowi menceritakan soal teknologi gelembung mikro di dunia peternakan.

"Indo Livestock 2018 Jakarta menunjukkan peternakan di negara kita berkembang begitu cepat. Industri ayam kampung yang diperkirakan akan hilang, ternyata semakin banyak. Ada teknologi gelembung mikro yang meningkatkan produksi ikan, dan produk pascasembelih mulai diekspor," cuit Jokowi.

Baik seremoni lepas ekspor maupun cuitan yang mengandung kata "ekspor" adalah panggung Jokowi untuk menunjukkan dukungannya dalam menggerakkan roda perekonomian Indonesia di pentas global. Pada seremoni lepas ekspor Mitsubishi, Jokowi membanggakan kinerja ekspor 2017 yang tumbuh 16,2 persen dengan surplus perdagangan yang mencapai 11,8 miliar dolar AS.

“Tapi kita terus akan mendorong agar lebih tinggi lagi dan bisa melompat lebih maju lagi,” ujarnya.

Nyatanya, pertumbuhan ekspor di 2018 tidak setinggi 2017. Neraca perdagangan pun mengalami defisit. Bisakah kini Jokowi mengobral narasi tentang ekspor sebagai wujud kerjanya selama ini sekaligus untuk menyerang rivalnya di Pilpres 2019, Prabowo Subianto, yang kerap menggaungkan retorika anti-impor?

Baca juga artikel terkait EKSPOR atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam
(tirto.id - Ekonomi)

Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Windu Jusuf
DarkLight