Menuju konten utama

Polisi: MIT Terbagi Dua Kelompok dan Hanya Miliki Empat Senjata

Pihak kepolisian mengatakan saat ini kekuatan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) terbagi atas dua kelompok dan hanya memiliki empat senjata.

Polisi: MIT Terbagi Dua Kelompok dan Hanya Miliki Empat Senjata
Siluet pasukan gabungan dari berbagai kesatuan TNI mengikuti upacara purna bakti pemulangan pasukan Satuan Tugas (Satgas) Operasi Tinombala di Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (9/6). ANTARA FOTO/Basri Marzuki.

tirto.id - Asisten Operasi Kapolri, Irjen Pol Rudy Sufahriadi mengatakan saat ini kekuatan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) terbagi atas dua kelompok.

“Mereka terbagi atas dua kelompok kecil dan masih terlihat [oleh masyarakat setempat], kami masih lakukan pengejaran terhadap mereka,” kata dia di Mabes Polri, Senin (4/3/2019).

Para anggota MIT saat ini bergerak di daerah Poso Pesisir Selatan dan Poso Pesisir Utara. Mereka juga sempat terlacak di Parigi Moutong dan Saosi.

Rudy mengatakan awalnya satgas fokus mengejar mereka di empat wilayah tersebut. Namun, berdasarkan pengamatan satgas, kini mereka hanya berada di Poso Pesisir dan Saosi.

“Sekarang mereka di tiga tempat dan hanya di situ saja, namun luas area cukup luas,” sambung dia.

Selain itu, lanjut Rudy, MIT hanya memiliki dua pucuk M-16 dan dua pucuk revolver meski mereka sempat menambah personel baru. Semula, kepolisian menduga MIT pimpinan Ali Kalora memiliki tujuh anggota.

Belakangan, kepolisian mendapati ada tujuh orang baru bergabung dengan kelompok tersebut. Tujuh orang itu diduga berasal dari Banten, Jawa Barat dan Poso, sehingga jumlah anggota mencapai 14 orang. Tertangkapnya Adtya dan tewasnya Basir menjadikan kelompok tersebut sisa selusin orang.

Sementara itu, kekuatan Satgas Tinombala dalam memburu MIT yakni tiga Satuan Setingkat Kompi (SSK) Polda Sulawesi Selatan, satu SSK Mabes Polri, serta dua SSK TNI.

Kemudian Rudy menyatakan kendala satgas untuk mengejar dan menangkap kelompok pimpinan Ali Kalora itu karena kondisi geografis yang sulit. “Medannya susah dan MIT berpindah-pindah, mereka menguasai medan. Untuk satgas bergantian setiap enam bulan sekali, ketika satgas mulai menguasai medan, harus pindah, sehingga menyesuaikan lagi,” jelas dia.

Satgas Tinombala baku tembak dengan MIT, kemarin sekitar pukul 17.15 WITA. Satu orang buron atas nama Basir alias Ramzi tewas dalam peristiwa tersebut. Kontak tembak kemarin merupakan tindak lanjut dari ultimatum satgas yang tidak diindahkan para DPO.

Sejak Desember 2018 hingga Januari 2019, satgas secara persuasif meminta para anggota MIT menyerahkan diri. “Setelah ultimatum tidak diindahkan, satgas melakukan pengejaran secara sistematis dan masif,” ujar Rudy.

Baca juga artikel terkait SATGAS TINOMBALA atau tulisan lainnya dari Adi Briantika

tirto.id - Hukum
Reporter: Adi Briantika
Penulis: Adi Briantika
Editor: Maya Saputri