Plus Minus Speaker Corong yang Jadi Pengeras Suara di Masjid

Oleh: Ahmad Zaenudin - 24 Agustus 2018
Dibaca Normal 2 menit
Speaker corong di masjid-masjid memiliki tingkat tekanan suara sebesar 110 dB. Apakah ini kelebihan atau kekurangan?
tirto.id - Meiliana, warga Tanjung Balai, Sumatera Utara sempat mengeluh suara speaker masjid di dekat rumahnya. Keluhannya berujung kasus hukum. Polisi menetapkan status tersangka dan menjeratnya dengan pasal 156 subsider 156a KUHP Pidana tentang penistaan agama. Pada Selasa (21/8) Pengadilan Negeri Medan memutuskan Meiliana bersalah dan menghukumnya dengan kurungan 1,5 tahun penjara.


Apa yang menjadi keluhan Meiliana soal speaker masjid memunculkan pertanyaan soal kekuatan speaker yang sampai membuat tak nyaman. Gunawan, teknisi audio yang juga berbisnis jual-beli perangkat sound system di Jakarta, mengatakan masjid biasanya menggunakan speaker jenis corong, khususnya bagi pengeras suara yang diarahkan ke arah lingkungan sekitar.

Speaker corong yang digunakan umumnya merupakan buatan Toa. Toa adalah perusahaan yang didirikan oleh Tsunetaro Nakatani, orang Jepang kelahiran 10 Agustus 1890. Pabrik pembuatnya adalah Toa Electric Manufacturing Company di Kobe yang didirikan pada 1 September 1934. Produk speaker ini didistribusikan ke Indonesia melalui seorang pengusaha keturunan Tionghoa asal Bangka bernama Uripto Widjaja.


Speaker corong merek Toa yang digunakan oleh masjid umumnya memiliki input daya listrik antara 25 watt dan 50 watt. Input daya 25 watt umumnya digunakan pada masjid berukuran kecil hingga sedang, sementara 50 watt digunakan pada masjid berukuran besar. Speaker corong dengan input sebesar 25 watt sanggup terdengar dengan radius 500 meter dari titik speaker corong berada.

Menurut Gunawan, radius suara sangat mungkin bertambah hingga jarak sejauh 1 Km bila berada di kampung yang tenang dan kondisi suaranya biasanya relatif kurang jelas. Speaker musik atau speaker biasa, yang memiliki nilai input daya sebesar 125 watt, hanya sanggup terdengar antara jarak 15 meter hingga 50 meter saja.

Inilah, yang menurut Gunawan, jadi keunggulan speaker corong yang tidak dimiliki speaker lainnya.“Corong suaranya tajam dan (radius) jauh keunggulannya,” kata Gunawan.

Selain punya keunggulan frekuensi jangkauan yang jauh, harga speaker corong punya kelebihan harga yang relatif murah. Rata-rata, 1 speaker corong dijual seharga Rp600 ribuan. Namun, speaker jenis ini punya kelemahan yaitu bising.

Speaker corong merek Toa memiliki frekuensi suara antara 200 Hz hingga 6.000 Hz, atau setara dengan 0,2 kHz hingga 6 kHz. Yogie Natasukma, seorang sound engineer, mengatakan speaker corong yang digunakan di masjid-masjid punya ragam merek dengan frekuensi antara 1 kHz hingga 5 kHz. Frekuensi tersebut punya keunggulan, yakni artikulasi yang dihasilkan jelas. Konsekuensinya suara yang keluar dari speaker bisa tidak nyaman di telinga manusia.

Respons tubuh atas suara/audio bukan hanya terjadi pada telinga. Yogi mengatakan frekuensi 20 Hz akan lebih terasa di dada manusia. Semakin tinggi dari angka tersebut, organ tubuh yang merasakannya semakin ke atas. Secara umum, manusia mendengar suara dalam frekuensi antara 20 Hz hingga 20 kHz.


infografik speaker corong masjid



Melansir laman Tech Me Audio, rentang frekuensi yang dimiliki speaker corong berada dalam rentang frekuensi yang disebut sebagai "presence." Pada rentang ini, suara yang dihasilkan dapat menjadi kasar dan menjengkelkan bagi manusia yang mendengarnya. Menurut Gunawan, inilah yang jadi alasan mengapa terasa bising di telinga kala suara speaker corong didengar. “Speaker biasa (terasa enak) karena ada bass-nya" Namun, hal tersebut tidak dimiliki speaker corong.

Di dunia audio, tingkat tekanan suara diukur melalui besar kecilnya nilai dB alias decibel. Ini merupakan suatu pengukuran yang mengukur seberapa kuat gelombang suara di telinga manusia. Speaker corong merek Toa memiliki nilai tingkat tekanan suara sebesar 110 dB. Sementara itu, speaker musik memiliki nilai tingkat tekanan suara sebesar 100 dB.

Alexander Sengpiel, ahli audio asal Jerman, membeberkan percakapan antara manusia berada di tingkat tekanan suara sebesar 60 dB. Sedangkan tekanan suara sebesar 110 dB setara dengan suara speaker corong, ini setara dengan suara gergaji mesin yang terdengar pada jarak satu meter.



Menurut Alexander Sengpiel tingkat tekanan suara yang dianggap membuat pendengarnya tidak nyaman, ada di angka 120 dB. Artinya, suara gergaji mesin dan suara speaker corong hanya terpaut 10 dB dari zona ketidaknyamanan pendengaran manusia.

Tingkat tekanan suara speaker corong berada di angka 110 dB. Secara umum, suara speaker corong memiliki tingkat tekanan suara sebesar 65 dB, yang didengarkan masyarakat sekitar masjid. Ini sama seperti level tekanan suara yang dimiliki stasiun kereta, yakni 65 dB. Nilainya masih terpaut 15 dB dibandingkan rata-rata tingkat tekanan suara lingkungan perumahan yang berada di angka 45 dB hingga 50 dB.

Namun, apakah suara dengan tingkat tekanan suara besar langsung membuat manusia berada dalam posisi tidak nyaman atau berbahaya? Michael Pinson, seorang teknisi audio lulusan Birmingham City University, mengatakan kondisi itu akan tergantung dengan durasi suara.

Menurut Pinson, suara dengan dB tinggi bisa ditoleransi asalkan tidak memiliki durasi yang lama. Ia menegaskan “suara yang memiliki tingkat tekanan suara rendah tapi memiliki durasi lama sangat mungkin jauh lebih berbahaya.”

Yogi sependapat dengan Pinson. Menurutnya, tingkat tekanan suara yang sebesar 65 dB bisa ditolerir pendengaran manusia hingga maksimal 8 jam.

Penggunaan speaker corong memang punya banyak keunggulan. Namun, Yogi punya pendapat lain, ia menyarankan kualitas suara yang dihasilkan speaker corong bisa ditata lagi, dengan cara mengganti equalizer dan speaker corong yang lebih baik. Selain itu bisa dengan melakukan penempatan speaker corong yang tepat dan durasinya lebih singkat.

"Tempatkan sedikit condong lebih ke atas," kata Yogi.

Baca juga artikel terkait SPEAKER atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)


Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra