Pink adalah Warna Maskulin

Ilustrasi Pink Warna Maskulin [Foto/Shutterstock]
Oleh: Sammy Mantolas - 16 September 2016
Dibaca Normal 2 menit
Pink adalah untuk wanita. Itu masa kini. Dulu, pink adalah warna untuk laki-laki. Zaman berubah, tren berubah. Padahal, warna seharusnya tak perlu dikaitkan dengan gender.
tirto.id - Apa yang terpikirkan ketika kita melihat laki-laki memakai baju pink? Sebagian besar orang menganggapnya aneh. Tak jarang aki-laki berpakaian pink dianggap kemayu. Ini karena ada cap bahwa pink adalah warna perempuan. Sejak bayi, semua sudah dikapling-kapling. Untuk bayi perempuan, kamar, baju, pernak-pernik, atau kadonya berwarna pink. Untuk bayi laki-laki, dipilih biru, atau warna lain yang lebih maskulin selain pink.

Hingga dewasa, pemikiran bahwa pink adalah warna wanita pun melekat kuat. Tapi ada kalangan yang berani menabrak persepsi umum ini. Mereka percaya diri melakukan aktivitas yang dianggap maskulin dengan mengenakan pernak-pernik berwarna pink. Salah satunya adalah Pink Hikers.

Seperti namanya, komunitas ini selalu tampil nyentrik saat pendakian. Mulai dari ransel, pakaian, peralatan makan, tenda, sleeping bag, bahkan pakaian dalam, semuanya berwarna pink. Komunitas yang didirikan pada 2009 ini sering sekali diajak berfoto bersama oleh para pendaki lainnya. Lucu, unik, genit, bahkan mengemaskan adalah komentar-komentar yang selalu diberikan khususnya oleh komunitas pecinta alam lainnya.

Tidak seperti para pendaki gunung lainnya, Pink Hikers juga melakukan kegiatan bersih gunung, dengan cara memungut sampah-sampah yang dibuang secara sembarangan di gunung.

Menurut pendiri Pink Hikers, Cak Speck, warna pink sebenarnya dipilih sebagai warna untuk komunitas ini agar lebih mudah mengenali anggota tim.

“Seandainya tim terpisah, untuk mencarinya mudah. Kita bilang saja 'lihat yang berbaju pink?' Karena jarang, bahkan tak ada, pendaki menggunakan warna pink kecuali kami. Kalau warna merah, hitam atau biru sangat banyak yang memakai,” kata Cak Speck, dalam talk show Hitam Putih.

“Selain itu warna pink bagi kami adalah warna yang liar,” lanjut Cak Speck

Meskipun tampil serba-pink, komunitas ini telah menaklukkan puluhan gunung di Indonesia. Salah satunya adalah gunung tertinggi di pulau Jawa, yaitu gunung Semeru.

Melihat yang dilakukan Pink Hikers itu, seharusnya memang tidak ada hubungan antara warna merah muda dengan keperempuanan—sama halnya dengan kegiatan mendaki yang dulu dianggap kegiatan maskulin, toh banyak juga wanita yang jadi pendaki gunung. Tapi mengapa warna pink kemudian diidentikkan dengan wanita?

Pink Warna Maskulin

Pada 1435, seorang arsitektur terkenal asal Italia Leon Battista Alberti melalui tulisannya "De Pictura" (terjemahan bahasa Inggris “On Painting” oleh Jhon R Spencer, 1970) memperkenalkan teori warna (color theory). Dalam teori itu, dideskripsikan mengenai warna pink dan disebut sebagai warna maskulin.

Dipilihnya pink sebagai warna maskulin karena warna tersebut sangat tegas dan keras sehingga cocok dengan jiwa pria. Tidak hanya itu saja, unsur warna pink juga sangat cocok dengan warna coklat, yang kebetulan cocok dengan warna rambut kebanyakan pria di barat.

Di masa lalu, biru justru dianggap sebagai warna yang feminin. Jhon Gage dalam tulisannya Color in Western Art: An Issue mengatakan bahwa pada abad ke 18 hingga awal abad ke 19 terdapat 3 warna yang mewakili kasta sosial. Warna pertama adalah emas (gold) mewakili warna kebangsawanan, kedua adalah warna merah (red) mewakili orang bebas (freemen), dan ketiga adalah warna biru (blue) mewakili para budak. Karena budak kebanyakan adalah wanita, maka biru pun melekat sebagai warna yang feminin.

Pembuktian bahwa warna pink adalah warna maskulin dan biru adalah warna feminin juga dilakukan oleh Profesor Jo B. Paoletti dari Universitas Maryland, Amerika Serikat.

Melalui situs resminya pinkisforboys.org, ia mengatakan telah menghabiskan waktunya selama 30 tahun untuk meneliti warna kostum yang digunakan oleh anak-anak di Amerika Serikat pada abad 18 hingga 19. Hasil akhirnya ia tuliskan dalam bukunya dengan judul Pink and Blue: Telling the Girls and the Boys in America.

Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa pada abad ke-18, hampir semua pakaian anak-anak pada panti asuhan di Eropa dominan dengan warna pink. Sementara di Amerika Serikat pada era 1818 hingga 1882, warna-warna cerah seperti pink, putih, dan ungu umumnya digunakan oleh para pria.

Laporan yang pernah dibuat oleh majalah Times pada tahun 1927 mengatakan bahwa warna pink pernah mendominasi toko pakaian untuk pria di Amerika Serikat, di antaranya adalah Best & Co di New York City, Filene’s di Boston, Halle’s di Ceveland, dan Marshall Field di Chicago.

Pada 1940 hingga 1950, warna pink tetap didefinisikan sebagai warna untuk maskulin dan biru tetap dkategorikan sebagai warna wanita. Sehingga jangan heran bila di era 1950an, mobil Cadillac yang berwarna pink (Pink Cadillac) menjadi incaran serta diminati oleh kaum Adam.

Selain itu dalam kepercayaan Jepang, mereka menganggap bahwa bunga sakura yang mekar dan berwarna pink merupakan perwujudan dari ksatria muda yang maju berperang demi meraih tujuannya menjadi ksatria sejati.



Lalu kapan warna pink dianggap warna feminin?

Banyak tulisan yang mengatakan perubahan itu terjadi pada 1960. Ada pula yang berpendapat citra pink berganti pada 1940, saat simbol segitiga berwarna pink (pink triangle) terbalik dipakai oleh rezim Hitler untuk menandai kaum homoseksual.

Namun, Profesor Jo B. Paoletti melalui bukunya mengatakan perubahan ini terjadi secara signifikan pada 1970an, yang diawali dengan munculnya gerakan pembebasan perempuan di pertengahan 1960an. Saat itu sedang gencar-gencarnya perempuan menuntut kesetaraan gender. Salah satu media yang paling ampuh untuk melakukan kritik adalah dunia fashion.

Dalam penemuan Paoletti, sebagaimana dilansir dari smithsonianmag.com, disebutkan bahwa pada 1970, katalog Sears Roebuck selama dua tahun menampilkan pakaian wanita berwarna pink yang divariasi dengan renda-renda. Tren fashion seperti ini kemudian berkembang hingga tahun 1980an di mana banyak bayi perempuan dipakaikan baju-baju dan pernak-pernik warna pink.

Pengidentikan pink sebagai warna perempuan itu terjadi hingga sekarang, sampai-sampai jika ada pria yang memakai baju pink kerap dianggap pria feminin.

Tapi, angin tren selalu berubah. Mungkin akan tiba suatu masa di mana pink akan kembali identik sebagai warna maskulin. Atau yang lebih baik: tak ada lagi gender dalam warna.

Baca juga artikel terkait SOSIAL BUDAYA atau tulisan menarik lainnya Sammy Mantolas
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Sammy Mantolas
Penulis: Sammy Mantolas
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight