Pilkada Saat Pandemi, Mahfud: Kami Sudah Buktikan, Biasa-Biasa Saja

Oleh: Andrian Pratama Taher - 9 Desember 2020
Dibaca Normal 1 menit
Mahfud bilang terbukti tak ada korelasi positif antara pilkada dan Corona. Meski begitu angka infeksi harian terus meningkat.
tirto.id - Menkopolhukam Mahfud MD menyatakan pelaksanaan Pilkada 2020 hingga tahap pencoblosan, hari ini (9/12/2020), tak memiliki korelasi positif dengan peningkatan penularan COVID-19.

"Tidak ada kaitan sebenarnya antara besarnya terinfeksi Covid dengan penyelenggaraan pilkada," kata Mahfud dalam rapat monitoring pelaksanaan pilkada yang diunggah BNPB Indonesia, Rabu (9/12/2020). "Kami sudah buktikan bahwa ini biasa-biasa saja, gitu."

Dia bilang berdasarkan data yang dirilis Satgas COVID-19, penularan Corona antara daerah yang menggelar pilkada dan tidak tak terpaut jauh. Ia bahkan menyebut ada daerah tanpa pilkada justru mencatatkan penularan lebih tinggi.

Meski menurutnya berjalan baik, penyelenggara pemilu diminta tetap waspada hingga akhir. "Jangan sampai di ujung ini, yang sudah terakhir, yang sudah melalui tahap-tahap akhir, supaya dijaga terus sampai beberapa hari ke depan, sampai penetapan hasil oleh KPU."

Sebenarnya angka kasus positif COVID-19 di Indonesia terus menanjak dalam beberapa pekan terakhir. Tercatat ada 5.828 kasus baru pada 27 November. Itu merupakan yang tertinggi sejak pandemi melanda Indonesia pada awal Maret lalu. Rekor itu hanya bertahan dua hari dengan penambahan 6.267 kasus baru pada 29 November. Tanggal 3 Desember, rekor pecah lagi dengan 8.369 kasus baru.

Total, kasus COVID-19 di Indonesia per hari pencoblosan mencapai 592.900. Penambahan kasus meninggal mencapai 171, terbanyak sejak Corona masuk Indonesia pada awal Maret. Total penderita COVID-19 yang meninggal dunia di Indonesia mencapai 18.171 jiwa.

Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Harif Fadhilah mengomentari situasi ini dengan mengatakan banyak perawat sudah kelelahan.

Pernyataan Mahfud dalam rangka merespons hasil monitoring Satgas COVID-19. Satgas mencatat beberapa fasilitas protokol kesehatan di TPS tidak terimplementasi 100 persen. Dalam pemantauan terhadap 6.200 TPS di 180 kabupaten/kota di 28 provinsi, hanya 90 persen yang menyediakan fasilitas cuci tangan, 78 persen memberitahukan tentang protokol kesehatan, dan 90 persen yang memantau suhu tubuh pemilih.

Satgas juga mencatat telah memberikan teguran terhadap 128 ribu pemilih dari total 227.492 orang yang dipantau di 34.014 titik di 299 kabupaten/kota di 33 provinsi.

Ditemukan ada Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang terjangkit COVID-19 tapi tetap bekerja seperti biasa. Virus juga menjangkiti kontestan. Bahkan ada yang meninggal dunia. Korban terakhir adalah Calon Bupati Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, Andi Malkan Amin, yang meninggal hari ini.


Baca juga artikel terkait PILKADA 2020 atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher
(tirto.id - Politik)

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Rio Apinino
DarkLight