Menuju konten utama

PHRI: Perlu Regulasi yang Aman untuk OTA Asing dan Airbnb

Anton menyatakan salah satu regulasi yang dapat diterapkan untuk Airbnb adalah sistem harga yang fleksibel.

PHRI: Perlu Regulasi yang Aman untuk OTA Asing dan Airbnb
Ilustrasi Airbnb. FOTO/REUTERS

tirto.id - Wakil Ketua Umum BPP Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Rainier Daulay menilai perlunya relugasi yang aman dan nyaman dalam mengatur Online Travel Agent (OTA) asing dan Airbnb.

Menurutnya, regulasi dalam bentuk perizinan dan pembayaran kewajiban pajak harus dipenuhi oleh OTA asing dan platform sharing economy seperti Airbnb. Ia menilai, saat ini proses penarikan pajak dianggap rumit karena salah satu OTA besar belum memiliki kantor perwakilan di Indonesia, begitu pula Airbnb.

“Apa yang bisa dilakukan? Tentunya dia (Airbnb) harus punya izin, baik yang menyewakan apalagi Airbnb. Karena itu akan menjadi potensi pendapatan negara yang cukup besar. Potensinya triliunan,” kat Rainier di Hotel Ibis Harmoni Jakarta, Rabu (29/11/17).

Sementara pemilik TX Travel, Anton Thedy menyatakan salah satu regulasi yang dapat diterapkan untuk Airbnb adalah sistem harga yang fleksibel untuk sewa properti jangka pendek.

Bercermin pada salah satu negara tetangga, kata dia, biaya sewa untuk satu hari properti melalui Airbnb akan dikenakan harga minimum untuk 5 malam. Hal ini dilakukan untuk memastikan hotel yang memiliki izin sewa ruangan per hari tidak dirugikan dengan harga murah sewa penginapan yang ditawarkan oleh Airbnb.

Anton juga menjelaskan bahwa keberadaan Online Travel Agent (OTA) asing tidak serta-merta mematikan industri travel. Pasalnya, jasa tur yang ditawarkan oleh agen perjalanan masih dapat menguasai lebih dari 50 persen pasar.

Tak hanya itu, kelompok umur di atas generasi milenial yang tidak terlalu nyaman dalam menggunakan teknologi digital juga masih membutuhkan jasa pemesanan tiket melalui agen travel. Untuk itu Rainier menyatakan bahwa OTA memberikan dampak positif dan dampak negatif.

Salah satu dampak positifnya adalah hotel dengan jumlah ruangan yang sedikit tidak perlu mengeluarkan ongkos marketing karena iklan ruangan telah bermigrasi ke ranah online. Sedangkan, dampak negatif dari OTA adalah ketergantungan industri perhotelan terhadap sistem review yang terkadang tidak akurat karena tingkat subjektifitas tinggi yang mengikuti mood dan selera pengguna hotel.

Selain itu, untuk beradaptasi terhadap perkembangan teknologi, Reiner menjelaskan bahwa saat ini PHRI sedang dalam proses pengembangan aplikasi on-demand mereka sendiri. Hal ini dilakukan agar dapat bersaing dengan OTA asing.

“PHRI akan kasi yang terbaik, saya jamin lebih murah dari OTA asing. doakan paling lambat satu bulan ke depan. Namanya yang belum ada. Pokoknya sebelum tahun baru. yang pasti ini tinggal namanya aja karena nama juga harus ear-catchy dan internasional,” jelas Reiner.

Baca juga artikel terkait OTA atau tulisan lainnya dari Terry Muthahhari

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Terry Muthahhari
Penulis: Terry Muthahhari
Editor: Alexander Haryanto